Rebung Bonti yang Digarami Pak Alui : Citarsa tak ada Duanya (1)
| Citarasa rebung Bonti tak ada duanya di tempat lain karena "digarami Pak Alui". Ist. |
Selama tiga hari. Penulis Masri Sareb Putra berada di Bonti. Sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau. Kalimantan Barat. Selain menjadi narasumber dalam Gawai Dayak “Nosu Minu Podi”, Masri pulang ke "tembunik" sebab ibunya asal Terusan, Bonti. Masri juga berdiskusi dengan berbagai kelompok masyarakat. Termasuk Camat Bonti. Dominikus. Tulisan berikut merupakan serial catatan perjalanan dan pengamatannya yang mulai diterbitkan hari ini.
Bonti di Kabupaten Sanggau mengubah kelimpahan bambu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Dari rebung hingga usaha kolektif. Sebuah model pembangunan inklusif. Berkelanjutan. Dan berbasis potensi lokal.
Bentang Bambu dan Kekayaan Alam Bonti yang Lama Terabaikan
Bonti. Sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau. Kalimantan Barat. Dikenal dengan hamparan ekosistem dataran rendah yang luas. Di wilayah ini. Bambu tumbuh melimpah secara alami. Dari generasi ke generasi. Bambu telah membentuk wajah fisik. Identitas budaya. Sekaligus karakter ekologis kawasan tersebut.
Bambu tumbuh di sepanjang bantaran sungai. Di tanah-tanah komunal. Juga di tepian hutan. Membentuk lorong-lorong hijau yang rapat. Menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap pedesaan Bonti.
Namun ironisnya. Kelimpahan itu selama bertahun-tahun hanya dipandang sebagai latar belakang kehidupan. Belum dilihat sebagai aset ekonomi utama. Masyarakat memanfaatkan bambu sebatas untuk kebutuhan rumah tangga. Sebagai bahan bangunan. Peralatan sederhana. Pagar. Dan berbagai kerajinan tradisional.
Rebung bambu sesekali dipanen sebagai bahan pangan musiman. Sebagian dijual di pasar tradisional dalam keadaan segar. Akan tetapi sifatnya yang mudah rusak serta minimnya fasilitas pengolahan membuat nilai ekonominya tetap rendah.
Di sinilah paradoks itu hadir dalam diam. Tanahnya kaya bambu. Namun masyarakat yang hidup di atasnya belum sepenuhnya menikmati manfaat ekonomi dari kekayaan tersebut.
Seiring berjalannya waktu. Keadaan ini semakin terasa tidak berkelanjutan. Kebutuhan penduduk meningkat. Tekanan ekonomi kian besar. Perlahan tumbuh kesadaran baru. Bahwa bambu. Jika dikelola dengan tepat. Dapat menjadi sumber daya strategis yang mampu mengubah kehidupan masyarakat setempat.
Rebung dan ekonomi kreatif
Perlahan. Namun pasti. Masyarakat Bonti mulai menyadari bahwa rebung dari jenis Dendrocalamus asper bukan sekadar hasil hutan yang tumbuh liar dan melimpah. Di balik tunas bambu muda itu tersimpan nilai ekonomi yang selama ini belum tergarap secara optimal. Jika diolah dengan baik. Rebung dapat menjadi sumber penghasilan baru yang menjanjikan.
Kesadaran tersebut tidak datang dalam semalam. Prosesnya panjang. Penuh percobaan. Juga tidak lepas dari kegagalan. Pada mulanya. Rebung hanya dipanen untuk konsumsi keluarga atau dijual segar di pasar tradisional dengan harga yang relatif rendah. Masalah utama selalu sama. Rebung cepat rusak. Tidak tahan disimpan lama. Apalagi jika harus dibawa ke pasar yang jaraknya cukup jauh.
Dari pengalaman itulah muncul pertanyaan sederhana. Bagaimana agar rebung memiliki umur simpan lebih panjang dan nilai jual lebih tinggi?
Tekanan Sosial Ekonomi dan Pencarian Model Penghidupan Baru
Transformasi Bonti tidak dimulai oleh teknologi canggih. Bukan pula oleh investasi besar dari luar daerah. Perubahan itu lahir dari kebutuhan sosial ekonomi yang nyata.
Banyak keluarga menggantungkan hidup pada pertanian musiman. Sebagian lainnya bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu. Kesempatan kerja di luar sektor pertanian sangat terbatas. Terutama bagi perempuan dan penyandang disabilitas.
Perempuan sesungguhnya memegang peran penting dalam ekonomi rumah tangga. Namun kontribusi mereka sering kali berlangsung secara informal. Kurang terlihat. Dan kurang dihargai. Pada saat yang sama. Penyandang disabilitas menghadapi berbagai hambatan untuk memasuki dunia kerja yang lebih terstruktur.
Berbagai persoalan itu bertemu pada satu titik. Kebutuhan akan model ekonomi alternatif. Model yang lentur. Inklusif. Dan berakar pada sumber daya lokal.
Para pemimpin masyarakat bersama warga mulai mempertanyakan satu hal mendasar. Apakah pola pemanfaatan sumber daya yang selama ini dijalankan masih cukup untuk menopang pembangunan jangka panjang?
Jawabannya perlahan mengarah pada inovasi. Bukan dengan bergantung pada industri dari luar. Melainkan dengan mengolah kekayaan yang sudah tersedia di sekitar mereka. Bambu yang melimpah. Dekat dengan kehidupan sehari-hari. Muncul sebagai pilihan yang menjanjikan.
Gagasannya sederhana. Tetapi mendasar. Bukan sekadar meningkatkan produksi. Melainkan mengubah cara pandang terhadap nilai. Daripada menjual bahan mentah dengan harga murah. Masyarakat mulai menjajaki kemungkinan mengolah bambu menjadi produk bernilai tambah.
Langkah ini menuntut pengetahuan baru. Organisasi yang lebih baik. Dan perubahan pola pikir. Dari sekadar mengambil. Menjadi mengolah dan menciptakan nilai.
Lahirnya Ekonomi Bambu dari Akar Rumput
Apa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Bambu Bonti tidak lahir sebagai program resmi pemerintah. Ia tumbuh dari bawah. Dari eksperimen warga. Dari proses belajar bersama. Dan dari dukungan kelembagaan yang datang secara bertahap.
Masyarakat mulai membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka berdiskusi. Bereksperimen. Dan mencari kemungkinan pemanfaatan bambu yang lebih produktif.
Perhatian pertama tertuju pada rebung. Alasannya jelas. Ketersediaannya melimpah. Nilai gizinya tinggi. Dan potensinya besar untuk diolah menjadi produk pangan.
Namun berbagai tantangan segera muncul. Rebung mudah rusak. Mutunya tidak selalu seragam. Teknik pengawetan masih terbatas. Persoalan-persoalan ini menuntut solusi bersama.
Di sinilah kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah setempat memberikan dukungan administratif. Organisasi seperti WALHI. DANUS. Dan ELPAGAR turut hadir melalui pelatihan teknis. Pendidikan lingkungan. Serta pendampingan usaha skala kecil.
Kerja sama tersebut menjembatani pengetahuan tradisional dengan sistem produksi yang lebih modern.
Seiring waktu. Kelompok-kelompok masyarakat mulai membangun struktur kerja yang lebih tertata. Tanggung jawab dibagi bersama. Keputusan diambil secara kolektif. Pendapatan dikelola melalui mekanisme yang lebih adil dan kooperatif.
Perubahan dari produksi individual menuju produksi kolektif menjadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan ekonomi Bonti.
Yang menarik. Transformasi ini sejak awal dibangun dengan orientasi keberlanjutan. Masyarakat tidak mengeksploitasi bambu secara berlebihan. Sebaliknya. Mereka menekankan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian.
Siklus regenerasi bambu yang alami membuat sumber daya ini sangat cocok untuk model tersebut. Produksi dapat berlangsung terus-menerus tanpa harus merusak lingkungan.
Karena itu. Revolusi Bambu Bonti bukan sekadar perubahan ekonomi. Lebih dari itu. Ia merupakan cara baru memandang hubungan antara manusia dan alam.
Bambu aset ekologis yang perlu ditingkatkan nilai ekonominya
Bagi masyarakat Bonti. Bambu bukan hanya tumbuhan yang tumbuh di tepi sungai atau pinggir hutan. Bambu adalah aset ekologis. Sekaligus aset ekonomi.
Dari sanalah fondasi pembangunan yang inklusif. Berkelanjutan. Dan berakar kuat pada identitas lokal mulai dibangun.
(Bersambung)
0 Comments