Salib di Atas Tanah Adat: Belajar dari Keteguhan Iman Katolik Dayak Jangkang


Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi generasi pertama yang menerima iman Katolik di pedalaman Kalimantan pada tahun 1930-an? Ketika hutan masih begitu lebat, petualangan para misionaris Ordo Kapusin bukan sekadar menembus jeram sungai, melainkan menyapa hati masyarakat adat yang telah berabad-abad hidup dalam pelukan tradisi leluhur (pp. 1, 11, 25).
Salah satu potret paling indah dari perjumpaan iman dan budaya ini terekam manis di Paroki Jangkang, Sanggau, Kalimantan Barat (p. 1). Membaca lembaran sejarah mereka seperti melihat sebuah tenunan kain yang indah: benang iman Katolik tidak menghancurkan kain adat, melainkan memperkuatnya (p. 11).
Saat Salib Menggantikan 'Pantak'
Bagi masyarakat Dayak Jangkang tempo dulu, pantak (patung kayu adat) adalah pelindung kampung dari roh jahat (pp. 17, 19). Ketika terang Injil masuk lewat Sekolah Rakyat (SR) Misi pada tahun 1937, sebuah transformasi visual yang luar biasa terjadi (pp. 9, 12). Alih-alih menghancurkan tradisi pertukangan lokal, para tetua adat dibimbing untuk mengalihkan keahlian mereka (p. 9).
Di gerbang-gerbang kampung, tiang pantak yang magis perlahan berganti menjadi salib kayu belian ber-corpus Yesus (pp. 9, 27). Maknanya bergeser ke arah liturgis: Yesus-lah sang pelindung sejati yang menjaga seluruh warga stasi (pp. 9, 12). Budaya tidak dibuang, melainkan "dibaptis" dan disucikan (p. 11).
"Mangkuk Adat" dan Sakramen Perkawinan
Uniknya lagi, Gereja di Jangkang sejak tahun 1970-an sangat kreatif dalam menjaga kesucian Sakramen Perkawinan (pp. 13, 16). Melalui keputusan Dewan Paroki kala itu, hukum adat Dayak digunakan untuk membentengi moralitas Kristiani (pp. 13, 16-17).
Jika ada pasangan yang melanggar kesucian hidup bersama sebelum menikah atau melakukan perselingkuhan, mereka tidak hanya berurusan dengan sanksi gerejani, tetapi juga dituntut denda adat yang ketat: membayar sekian tahil (mangkuk kuno) lengkap dengan daging sola (ayam atau babi) (pp. 13-14, 16, 18). Di sini kita melihat betapa indahnya inkulturasi: hukum adat setempat diangkat nilainya untuk memuliakan sabda Tuhan bahwa "Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (p. 13)
Dari Rumah Panjang ke Era Digital
Keteguhan iman ini juga teruji oleh zaman. Saat pendudukan militer Jepang mengguncang wilayah tersebut, umat di rumah panjang Bengkawan tetap mampu mempertahankan eksistensi dan iman mereka berkat didikan para guru agama senior dan rasul awam (kaketia) setempat (pp. 9, 12, 26).
Kini, tantangan umat Katolik di Jangkang—dan kita semua—bukan lagi soal keterpencilan geografis atau perang, melainkan arus digitalisasi dan sekularisasi ekonomi (p. 11). Namun, memori kolektif akan keteladanan para misionaris terdahulu dan ketatnya pendidikan iman masa lalu selalu menjadi jangkar yang kuat (pp. 8-9, 11).
Refleksi Bagi Kita Hari Ini
Kisah dari Paroki Jangkang mengingatkan kita bahwa menjadi Katolik yang 100% Indonesia berarti berani mencintai akar budaya kita sekaligus setia pada salib Kristus. Iman tidak hadir untuk mencabut kita dari identitas suku atau bangsa, melainkan untuk membuat identitas itu bersinar lebih terang dalam kasih.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: Di tengah dunia yang serba digital ini, sudahkah kita sekreatif umat terdahulu dalam menenun nilai-nilai Injil ke dalam budaya hidup kita sehari-hari?

0 Comments

Type above and press Enter to search.