Tempus Fugit: Nyaris Dis Masuk Ruang Sidang Seminar Hasil Disertasi
| Nyaris dis, tak bisa masuk ruang sidang seminar hasil disertasi. |
Ada hari. Ketika hidup seperti berdiri di garis start, tetapi peluit belum tentu akan ditiupkan untuk kita.
Hari itu saya akan berada di Bandara Soetta, Cengkareng.
Di tangan saya sudah ada tiket Batik Air menuju Palangka Raya. Di kepala saya sudah tersusun rapi skenario keberangkatan: waktu, jadwal, hingga bayangan duduk di ruang Seminar Hasil Disertasi di IAKN Palangka Raya.
Namun hidup pada titik tertentu tidak tunduk pada rencana. Ia menguji manusia bukan pada apa yang sudah disiapkan, tetapi pada apa yang belum selesai tepat waktu.
Syarat administrasi untuk mengikuti Seminar Hasil Disertasi harus sudah tuntas empat jam sebelum tengah hari. Ketentuan itu terdengar sederhana, nyaris birokratis tanpa emosi.
Namun di ruang yang lebih sunyi, ia menjelma menjadi semacam ambang: garis tipis yang memisahkan mereka yang masih punya hak duduk di arena, dan mereka yang harus berhenti bahkan sebelum nama dipanggil. Seperti pintu yang tidak berdentang saat menutup, tapi tetap menutup.
Tempus fugit. Waktu tidak sekadar berjalan, ia berlari tanpa menoleh. Tanpa menunggu siapa pun yang tertinggal di belakang meja kerja, di antara map, tanda tangan, dan lembar-lembar yang belum lengkap.
Ada sesuatu yang dingin dalam laju itu. Seperti jam yang tidak peduli pada harapan manusia yang masih mencoba mengejar detiknya sendiri.
Berkas belum tuntas. Kalimat itu jatuh seperti titik akhir yang belum sempat dinegosiasikan. Di atas meja. Kertas-kertas tetap diam, tetapi ketidaklengkapan di dalamnya bergerak, mengisi ruang. Menekan dada. Dan mengingatkan bahwa dalam dunia akademik, kadang bukan gagasan yang paling menentukan, melainkan ketepatan waktu yang tak memberi kompromi
Nama saya seperti menggantung di udara. Di antara dua kemungkinan yang sama-sama sunyi: berangkat atau tidak berangkat sama sekali.
***
Di titik itu. Saya hampir berada pada posisi yang dalam bahasa pertandingan disebut “nyaris dis, tidak bisa ikut pertandingan”. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena waktu seperti sengaja menutup pintunya perlahan-lahan.
Saya mulai membayangkan skenario yang paling dingin: tiket hangus, kursi kosong, dan Palangka Raya yang tetap berjalan tanpa saya.
Detik-detik menjelang batas waktu terasa seperti ruang yang menyempit. Setiap menit bukan lagi waktu, melainkan tekanan.
Namun justru di saat seperti itu, sesuatu yang tidak saya duga terjadi.
Satu per satu persyaratan selesai.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada perayaan.
Hanya rangkaian kecil kepastian yang datang seperti ketukan pelan di pintu yang hampir tertutup.
Seperti seseorang yang hampir tidak dipanggil ke lapangan, lalu di detik terakhir namanya tetap dipanggil.
Lewat tengah hari sedikit, tanggal 23 Juni itu. Saya akhirnya melangkah menuju pesawat. Batik Air membawa saya meninggalkan Cengkareng dengan perasaan yang masih bergetar, antara tidak percaya dan lega yang tertahan.
Di dalam kabin, sembilan puluh menit di udara terasa seperti jeda panjang antara ancaman dan keselamatan. Di bawah sana, bumi tampak tenang, seolah tidak pernah tahu ada manusia yang beberapa jam sebelumnya hampir tidak diberi kesempatan untuk terbang.
Bandara Tjilik Riwut menyambut sore dengan cahaya yang lembut.
Palangka Raya.
Nama itu terdengar seperti pintu yang akhirnya benar-benar terbuka.
Saya terakhir datang ke kota ini pada 2017. Delapan tahun lebih telah berlalu. Rasanya seperti kembali ke tempat yang pernah akrab, tetapi kini berdiri dengan bahasa waktu yang berbeda.
Di pelataran bandara, sebuah mobil berpelat KB dari Sekadau sudah menunggu.
Mesinnya menyala pelan. Di dalamnya ada Leo dan Maspro.
Mereka tidak bertanya banyak. Tidak ada kalimat seperti “bagaimana tadi” atau “sempat hampir gagal ya”. Yang ada hanya tatapan yang mengerti bahwa perjalanan ini baru saja melewati sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.
Mobil itu perlahan bergerak meninggalkan bandara.
Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.
Dan di dalam perjalanan menuju penginapan, saya masih merasa bahwa sebagian diri saya tertinggal di Cengkareng tadi pagi, di ruang waktu ketika semuanya hampir berhenti sebelum dimulai.
Di penginapan, Musa sudah menunggu.
Ia adalah “saudara tua” dalam perjalanan akademik ini. Sosok yang hadir dengan ketenangan yang tidak banyak bertanya, tetapi selalu memberi rasa bahwa perjalanan ini tidak pernah benar-benar sendiri.
Mikael juga ada di sana.
Esok hari kami akan berdiri pada titik yang sama, mengikuti Seminar Hasil Disertasi. Kami memulai perjalanan doktoral ini bersama dua setengah tahun lalu. Kini garis waktu kami mulai bercabang, tetapi tujuan kami masih saling memandang dari kejauhan yang sama.
***
Malam turun di Palangka Raya.
Udara terasa berbeda.
Bukan karena kotanya berubah, tetapi karena saya datang sebagai seseorang yang baru saja selamat dari kemungkinan tidak datang sama sekali.
Dan di antara sunyi malam itu. Saya mengerti satu hal kecil namun dalam: kadang hidup tidak memberi kepastian sejak awal. Ia hanya memberi satu detik terakhir, lalu melihat apakah kita masih cukup kuat untuk berdiri di dalamnya.
Palangka Raya malam itu bukan sekadar tempat ujian.
Ia adalah tempat di mana saya belajar bahwa antara gagal dan sampai, sering kali hanya ada satu pintu kecil bernama waktu.
0 Comments