Air Hdup

 

Air Hdup
Air hidup, tak ada "emas hidup". Dokpri.

Ada ironi yang selalu datang tanpa suara. Ia tidak mengetuk pintu, tidak pula mengumumkan dirinya sebagai ancaman.Ironi itu hanya perlahan mengubah cara orang memandang dunia. 

Di banyak kampung di Kalimantan, terutama di wilayah yang kaya kandungan emas, ukuran keberhasilan mulai bergeser.

Dahulu orang menghormati mereka yang tekun mengolah ladang, menjaga hutan, atau menjadi guru yang mengabdikan hidupnya bagi pendidikan. 

Kini, semakin sering terdengar kekaguman kepada mereka yang pulang dari tambang dengan membawa uang dalam jumlah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Renungan itu muncul kembali ketika saya mengikuti percakapan di Grup WhatsApp Literasi Dayak". Semula, diskusi itu hanya dipantik oleh keluhan sederhana tentang menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan. 

"Untuk apa sekolah tinggi?" demikian kira-kira bunyi pertanyaan yang kini semakin sering terdengar di beranda rumah-rumah kampung. Guru bekerja puluhan tahun dengan penghasilan terbatas, sementara seorang penambang emas dapat memperoleh ratusan juta rupiah, bahkan miliaran, dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Kalimat itu tidak diucapkan dengan kemarahan, melainkan dengan nada datar yang justru terasa lebih mengkhawatirkan karena telah diterima sebagai kenyataan.

***

Saya memahami kegelisahan itu. Kemiskinan memang mengajarkan orang untuk menghitung hasil, bukan proses. Dalam keadaan ekonomi yang sulit, pilihan yang mampu memberi kepastian hari ini hampir selalu tampak lebih masuk akal daripada janji yang baru akan dipetik belasan tahun kemudian. Karena itulah emas memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia menawarkan sesuatu yang konkret: uang, rumah baru, kendaraan, dan perubahan status sosial yang dapat dilihat oleh siapa pun. Sulit menyalahkan orang yang memilih jalan itu ketika kebutuhan hidup datang setiap hari tanpa mau menunggu.

Namun, setiap kali mendengar percakapan tentang emas, ingatan saya justru melayang kepada sesuatu yang hampir tidak pernah disebut orang. Bukan logam itu sendiri, melainkan air. Air tidak pernah masuk ke dalam daftar kekayaan, padahal tanpanya tidak ada kehidupan yang mungkin berlangsung. Orang boleh menemukan emas di perut bumi, tetapi mereka tidak pernah membangun peradaban di atas tambang emas. 

Sejak dahulu manusia selalu membangun kampung di dekat mata air, di tepian sungai, atau di lembah yang menyediakan sumber kehidupan. Barangkali karena air tidak pernah memantulkan cahaya, kita sering lupa bahwa justru dialah yang memungkinkan segala sesuatu tetap hidup.

Di sinilah saya melihat persoalan itu menjadi lebih besar daripada sekadar memilih antara tambang atau sekolah. Yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah tanah sebagai ruang hidup. Emas memang dapat diambil dan dijual, tetapi tanah menyimpan fungsi yang jauh lebih mendasar. 

Di sanalah air meresap, pohon bertumbuh, ladang menghasilkan padi, dan generasi berikutnya menemukan alasan untuk tetap tinggal. Ketika tanah kehilangan kemampuannya menyimpan air akibat eksploitasi yang berlebihan, sesungguhnya yang hilang bukan hanya bentang alam, melainkan juga masa depan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.

Orang Dayak sesungguhnya telah lama memahami hubungan itu. Tradisi berladang, menjaga hutan, dan menghormati sungai bukan sekadar kebiasaan turun-temurun yang lahir dari romantisme masa lalu. Semua itu merupakan bentuk pengetahuan ekologis yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Mereka tahu bahwa hutan menjaga air, air menghidupi tanah, dan tanah memberi makan manusia. Hubungan itu berlangsung jauh sebelum para ilmuwan memperkenalkan istilah keberlanjutan atau konservasi. Sayangnya, pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang itu kini sering dianggap kalah penting dibandingkan keuntungan ekonomi yang dapat dihitung dalam hitungan hari.

Percakapan di WA Grup Literasi Dayak" kemudian berkembang ke arah yang menurut saya jauh lebih menarik. Tidak seorang pun benar-benar mengutuk emas. Tidak pula ada yang menganggap pendidikan sebagai jawaban untuk semua persoalan. Kesadaran bersama justru mengarah pada satu pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana menjadikan emas sebagai sarana, bukan tujuan akhir. 

Uang yang diperoleh dari tambang semestinya menjadi modal untuk memperkuat kehidupan, bukan alasan untuk menghabiskan sumber kehidupan itu sendiri. Jika emas hanya berhenti sebagai uang yang dihabiskan untuk konsumsi, maka yang tersisa kelak hanyalah lubang-lubang tambang dan penyesalan yang datang terlambat.

Di sinilah pendidikan seharusnya menemukan kembali maknanya. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang pandai mencari pekerjaan di luar kampung. Ia juga perlu melahirkan manusia yang mampu membaca nilai tanah, mengelola sumber daya secara bijaksana, memahami keuangan, membangun usaha produktif, dan memikirkan kehidupan setelah emas habis. 

Pendidikan tidak perlu bersaing dengan tambang, tetapi harus menjadi penuntun agar kekayaan yang datang sesaat dapat diubah menjadi kesejahteraan yang bertahan lama. Tanpa kemampuan itu, uang sebesar apa pun akan habis lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan alam untuk memulihkan dirinya.

Diskusi di grup WhatsApp itu akhirnya mengingatkan saya pada satu kenyataan sederhana yang sering luput dari perhatian. Emas selalu memiliki batas. Cepat atau lambat ia akan habis digali. Sebaliknya, tanah yang dijaga akan terus melahirkan kehidupan dari musim ke musim. 

Dari tanah yang sehat akan mengalir air yang jernih, tumbuh hutan yang rindang, berkembang kebun yang produktif, dan lahir anak-anak yang masih mengenal kampungnya sebagai rumah, bukan sekadar tempat asal yang suatu hari harus mereka tinggalkan.

Karena itu, saya semakin yakin bahwa sesungguhnya tidak pernah ada "emas kehidupan". Yang ada hanyalah air kehidupan. Emas mungkin mampu membeli banyak hal, tetapi ia tidak dapat menggantikan mata air yang mengering, sungai yang tercemar, atau tanah yang kehilangan kesuburannya. 

Kita pada akhirnya sadar. Bahwa ukuran kemakmuran sebuah masyarakat tidak ditentukan oleh berapa kilogram emas yang berhasil mereka angkat dari perut bumi, melainkan oleh apakah mereka masih dapat mewariskan tanah yang hidup kepada anak cucunya. Ketika kilau emas akhirnya memudar, hanya air yang tetap setia menjaga kehidupan.

Jakarta, 21 Juli 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.