Can

Can adalah kosakata Dayak yang berasal dari kata Inggris chance.
Onih can neh? Apai can ah? Ist.

Can adalah kosakata Dayak yang berasal dari kata Inggris chance. Maknanya bergeser menjadi rezeki, upah, peluang, dan harapan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa senantiasa punya riwayat. Ia lahir di suatu tempat. Lalu mengembara. Menyeberangi sungai. Menumpang kapal. Mengikuti arus perdagangan. Ikut bersama para perantau. Sesampainya di negeri lain ia tidak selalu pulang. Ia menetap. Beranak-pinak. Menjadi milik orang yang bahkan tidak mengenal asal-usulnya.

Begitu pula bahasa Dayak. Ia bukan ruang yang tertutup. Ia terbuka. Ia ramah menerima tamu. Dari Tionghoa datang beberapa kata. Dari Belanda datang yang lain. Dari Jawa. Dari Melayu. Dari Inggris. Semuanya masuk. Berbaur. Sulit dipisahkan lagi. Orang Dayak mengucapkannya tanpa merasa sedang meminjam bahasa siapa pun.

Kita mengenal trai (lengkapnya coba laba' trai (3 kali). Ada pula semokel. Ada sei atau sui.  Dan ada satu kata yang terdengar pendek. Ringan di lidah. Tetapi sarat makna: can.

Jejaknya boleh jadi berasal dari bahasa Inggris, yakni chance. Kans. Kesempatan. Peluang. Sebuah kemungkinan yang belum tentu menjadi kenyataan. Tetapi bahasa tidak pernah tunduk kepada kamus. Ketika kata itu hidup di tengah masyarakat Dayak maknanya berubah. Ia tumbuh mengikuti pengalaman hidup pemilik barunya.

***

Di kampung-kampung Dayak.
Can bukan lagi sekadar kesempatan. Ia berarti rezeki. Upah. Gaji. Pekerjaan yang mendatangkan penghasilan. Peluang yang membawa berkat. Singkatnya. Segala sesuatu yang membuat kehidupan berjalan sedikit lebih ringan daripada kemarin.

Karena itu orang Dayak memiliki sapaan yang khas. Sapaan yang tidak ditemukan di buku-buku tata bahasa. Bertemu di jalan. Berpapasan di pasar. Berselisih di tepian sungai. Yang keluar bukan pertanyaan tentang tujuan perjalanan. Yang terdengar justru. Onih can neh? Atau: Apae can ah tu'?

Sepintas pertanyaan itu sederhana. Padahal ia mengandung dunia yang luas. Yang ditanyakan bukan hendak pergi ke mana. Bukan pula sekadar sedang mengerjakan apa. Yang ingin diketahui ialah. Ada pekerjaan apa hari ini. Ada rezeki apa yang sedang dicari. Ada peluang apa yang mungkin membawa pulang nafkah.

Di situlah bahasa memperlihatkan wajah kebudayaan. Orang Dayak rupanya memandang hidup sebagai ikhtiar yang tidak pernah selesai. Hari berganti hari. Orang pergi ke ladang. Ke hutan. Ke pasar. Ke kebun. Ke kantor. Semua dengan harapan yang sama. Ada "can". Ada hasil yang bisa dibawa pulang. Ada rezeki yang dapat dibagi bersama keluarga.

Maka sapaan itu sesungguhnya bukan basa-basi. Ia adalah perhatian. Ia juga doa. Sebab siapa pun yang ditanya. Diam-diam didoakan. Semoga usahanya berhasil. Kiranya pekerjaannya lancar. Insyaallah hari itu membawa berkat.

***

Begitulah sepatah kata menjalani takdirnya. Ia datang sebagai pendatang. Lalu diterima sebagai keluarga. Tidak lagi membawa makna lama. Melainkan makna yang lahir dari tanah tempat ia berpijak. Chance telah lama tinggal di kamus bahasa Inggris. 

Tetapi "can" hidup di hati orang Dayak. Diucapkan setiap hari. Menjadi pengingat bahwa hidup selalu meminta ikhtiar. Dan setiap ikhtiar selalu menyimpan harapan akan datangnya rezeki.

Onih can neh? Apai can ah?

Jika digunakan sebagai pembuka percakapan, nuansanya bahkan mirip sapaan bahasa Inggris "What's up?" yang secara harfiah bukan berarti "Apa yang di atas?", melainkan sapaan santai untuk membuka interaksi.

Ungkapan ini memperlihatkan bahwa dalam bahasa Dayak, seperti halnya banyak bahasa lain, makna tidak hanya ditentukan oleh arti leksikal kata, melainkan juga oleh konteks sosial, hubungan antarpembicara, dan tradisi lisan masyarakat.

Dayak memang perlu dipahami secara emik. Dari dalam struktur dan pemikirannya yang khas dan unik.

Itu sebab, saya kerap mengklaim hal yang demikian ini: Hanya Dayak yang benar-benar memahami Dayak!

Jakarta, Minggu pagi 19 Juli 2026


0 Comments

Type above and press Enter to search.