Dayak dan Literasi Digital

Dayak dan Literasi Digital
Ilustrasi semata-mata pelengkap narasi. ist.

Masyarakat Dayak sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan dalam peradaban digital. Pengetahuan tidak selalu tinggal di dalam buku. Apalagi di dalam internet. 

Acapkali seseorang berkata bahwa "semua sudah ada di internet", saya selalu teringat pada hutan.

Hutan tidak pernah memperlihatkan seluruh dirinya kepada orang yang hanya berjalan di tepinya.

Dari kejauhan kita melihat hamparan hijau. Kita mengira telah mengenalnya. Padahal yang tampak itu hanya permukaan. Kehidupan sesungguhnya berlangsung jauh di bawah tajuk. Di antara akar yang saling menyapa. Di dalam tanah yang menyimpan ribuan jejak kehidupan.

Begitu pula pengetahuan.

Internet memang menghadirkan kesan seolah-olah kita telah memasuki seluruh jagat pengetahuan manusia. Kita mengetik beberapa kata.

Dalam hitungan detik ribuan jawaban muncul. Rasanya tidak ada lagi yang tersembunyi. Namun semakin lama saya menggunakan internet, semakin saya menyadari bahwa yang tersedia di sana bukan seluruh pengetahuan. Internet lebih menyerupai jendela daripada rumah. Ia memperlihatkan banyak hal. Tetapi tidak seluruhnya dapat dimasuki.

Kesadaran itu menjadi semakin kuat ketika saya membaca tentang Proyek Gutenberg.

Gagasan untuk mendigitalkan semua buku adalah cita-cita yang indah. Hampir utopis. Siapa yang tidak ingin seluruh warisan intelektual manusia dapat dibaca siapa saja tanpa batas ruang dan waktu?

Akan tetapi kenyataan berbicara lain. Hak cipta. Keterbatasan biaya. Prioritas penerbit. Semuanya membuat banyak buku tetap tinggal di rak perpustakaan dan tidak pernah benar-benar berpindah ke dunia digital.

Di situlah saya mulai memahami bahwa perpustakaan belum kehilangan alasan untuk tetap ada.

Rak-rak buku yang sunyi itu sesungguhnya mengingatkan kita pada satu kenyataan sederhana. Tidak semua yang penting menjadi mudah diakses. Bahkan sering kali justru yang paling bernilai menuntut kesabaran untuk mencarinya.

***

Bagi saya, ini bukan semata-mata soal buku. Ini soal cara kita memandang pengetahuan. Modernitas membiasakan kita menganggap pengetahuan sebagai sesuatu yang harus selalu cepat ditemukan. Padahal pengetahuan juga membutuhkan waktu. Ia bertumbuh seperti pohon. Bukan seperti notifikasi yang muncul di layar telepon genggam.

Saya sering bertanya kepada diri sendiri. Apakah kelimpahan informasi membuat kita semakin bijaksana? Saya tidak yakin.

Yang saya lihat justru paradoks. Informasi bertambah. Kepastian berkurang. Orang semakin mudah berbicara. Semakin sulit mendengarkan. Kita mengetahui semakin banyak hal. Tetapi semakin jarang bertanya apakah yang kita ketahui itu sungguh benar.

Di sinilah literasi digital menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan menggunakan teknologi. Literasi digital adalah disiplin berpikir. Kemampuan menahan diri agar tidak segera percaya. Kesediaan memeriksa sumber. Kerendahan hati untuk mengakui bahwa mesin pencari tidak identik dengan kebenaran.

***

Masyarakat Dayak sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan dalam peradaban digital. Pengetahuan tidak selalu tinggal di dalam buku. Apalagi di dalam internet.

Sebagian pengetahuan hidup di dalam ingatan kolektif. Di dalam praktik. Di dalam pengalaman yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pengetahuan seperti ini tidak dapat didigitalkan begitu saja. Ia hidup bersama manusia. Jika manusianya hilang, sebagian pengetahuan itu ikut menghilang.

Karena itu saya semakin percaya bahwa internet bukan pengganti perpustakaan. Ia juga bukan pengganti tradisi. Internet hanyalah salah satu jalan menuju pengetahuan. Bukan pengetahuan itu sendiri.

Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang perlu terus kita pelajari. Semakin luas akses kita terhadap informasi, semakin besar pula tanggung jawab untuk memilih mana yang layak dipercaya. Sebab dalam kehidupan, sebagaimana di dalam hutan, tidak semua jalan akan membawa kita pulang.

Jakarta, 13 Juli 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.