Eva Epti dan Perjuangannya menuju Domia Sanggau 2026
| Eva Epti (kiri) menerima penghargaan dari Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena. ist. |
SANGGAU – Tepuk tangan bergemuruh memenuhi arena Ajang Domamang Domia yang menjadi bagian dari rangkaian Gawai Dayak Nosu Minu Podi Kabupaten Sanggau 2026.
Di antara sorak bahagia itu, satu nama resmi disematkan sebagai Domia Kabupaten Sanggau Tahun 2026, yakni Maria Eva Julyati Putri Epti, perwakilan Kontingen DAD Kecamatan Tayan Hulu.
Domia yang jadi duta
Bagi Eva, gelar tersebut bukan sebatas mahkota. Ia adalah amanah yang datang setelah perjalanan panjang melawan keraguan dalam dirinya sendiri.
"Tidak pernah terbayangkan sekali pun di dalam benak saya akan menyandang gelar terhormat ini. Domia merupakan pemudi Dayak yang menjadi duta budaya dan pariwisata dari daerahnya," ungkap Eva dengan mata yang masih menyimpan haru.
Di balik senyum yang kini menghiasi wajahnya, tersimpan kisah yang mungkin juga dialami banyak anak muda. Sebelum memutuskan mengikuti ajang tersebut, Eva mengaku sempat diliputi rasa takut. Ia mempertanyakan kemampuannya sendiri dan nyaris memilih tetap berada di zona nyaman.
Namun, satu keputusan mengubah segalanya.
Ia memilih melangkah.
"Saya sempat ragu mengikuti ajang ini. Namun, saya berpikir lagi, jika saya terus menutup diri dan tidak mau keluar dari zona nyaman, maka saya tidak akan mendapatkan apa-apa," tuturnya.
Keberanian itulah yang akhirnya membawanya berdiri di panggung sebagai Domia Kabupaten Sanggau 2026. Sebuah pembuktian bahwa kemenangan sering kali dimulai dari keberanian mengalahkan diri sendiri.
Kini, Eva ingin pengalaman pribadinya menjadi pesan bagi generasi muda, khususnya anak-anak Dayak. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya derasnya arus modernisasi, tetapi juga keberanian untuk tetap mencintai akar budaya sendiri.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak membiarkan rasa takut menghalangi langkah dan mimpi.
Perjuangan melawan ketakutan
"Lawan ketakutan yang ada pada dirimu. Kamu hebat, kamu bisa," pesannya.
Eva juga menekankan pentingnya mempelajari adat istiadat dan kebudayaan Dayak secara lebih mendalam. Di tengah perkembangan zaman, menurutnya, kaum muda seharusnya menjadi penjaga warisan leluhur, bukan justru menjadi penyebab memudarnya identitas budaya.
"Generasi muda harus berani belajar lebih dalam tentang adat dan kebudayaan di era modern saat ini, bukan malah menjadi peran utama dalam melunturkan kebudayaan," katanya.
Gelar Domia bukan garis akhir
Bagi Eva , gelar Domia bukan garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk mengabdi kepada budaya, memperkenalkan kekayaan daerah, serta menginspirasi sesama anak muda agar berani mengambil kesempatan yang mungkin selama ini hanya dipandang dari kejauhan.
Ia berharap kisah sederhana tentang keberanian keluar dari zona nyaman dapat membuka hati dan pikiran mereka yang masih diliputi kebimbangan.
"Semoga pengalaman saya ini dapat memotivasi semua anak muda Dayak dan membuka pintu hati serta pikiran bagi kalian yang sedang bingung dan bimbang."
Menutup pesannya, Eva menyampaikan kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna bagi masa depan budaya Dayak.
"Ingat, jika bukan kita, siapa lagi? Setahun menjabat, selamanya menginspirasi.”
0 Comments