Keraton Sekadau yang Ditinggal Zaman namun Menolak Dilupakan
Penulis bersama kerabat Keraton Kerajaan Sekadau. Ist.
Ada bangunan yang berdiri karena batu dan kayu. Ada pula bangunan yang bertahan karena ingatan. Keraton adalah yang kedua. Ia mungkin tampak tua di mata zaman. Namun sesungguhnya ia tidak pernah benar-benar menua. Sebab yang dijaganya bukan sekadar dinding. Melainkan jiwa sebuah peradaban.
Zaman memang terus berjalan. Ia menggeser banyak hal. Mengubah cara manusia berpakaian. Berbicara. Berpikir. Bahkan mengubah cara manusia menghormati sejarahnya sendiri.
Dahulu. Keraton adalah pusat semesta. Di sanalah kekuasaan berdiam. Di sanalah adat menemukan suara. Di sanalah kehormatan dijaga dengan keheningan. Tidak setiap kaki boleh melangkah masuk. Tidak setiap mata boleh memandang ke dalam. Sebab keraton bukan sekadar ruang. Ia adalah batas antara yang fana dan yang dimuliakan oleh tradisi.
Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan kebijaksanaan.
Hari ini.
Pintu-pintu keraton tidak lagi berdiri sebagai tembok pemisah. Ia berubah menjadi jendela. Membuka pandangan bagi siapa saja yang ingin belajar. Sebab kebudayaan tidak pernah lahir untuk dikurung. Ia hidup justru ketika diwariskan. Ketika disentuh. Ketika dipelajari. Dan ketika dicintai oleh generasi yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan para raja.
Mungkin memang demikian hakikat sejarah. Ia bukan milik mereka yang pernah hidup. Melainkan milik mereka yang masih mau mengingat.
Kunjungan Sekadau News ke Keraton Sekadau menghadirkan kesan itu. Berdiri tenang menghadap aliran Sungai Sekadau. Keraton itu seperti seorang tetua yang tidak banyak berbicara. Tetapi setiap diamnya menyimpan kisah. Setiap tiangnya memikul waktu. Setiap ukirannya menyimpan doa-doa yang pernah dipanjatkan oleh generasi yang kini tinggal nama.
Warna kuning keemasan yang menyelimuti bangunannya bukan sekadar pilihan estetika. Ia seperti cahaya matahari yang enggan padam. Lambang martabat yang tetap menyala meski zaman berkali-kali berganti wajah.
Di halaman keraton. Para kerabat berkumpul. Barangkali bagi sebagian orang itu hanyalah sebuah pertemuan keluarga. Namun sesungguhnya lebih dari itu. Sebab setiap perjumpaan adalah simpul yang menyambung benang sejarah agar tidak putus dimakan waktu.
Sebuah bangsa tidak kehilangan sejarahnya ketika bangunan runtuh. Ia kehilangan sejarahnya ketika manusia berhenti berkumpul untuk mengingat.
Di sudut halaman. Sebuah meriam pusaka tetap terdiam. Ia tidak lagi menggelegar seperti masa silam. Namun justru di dalam diamnya tersimpan suara yang paling nyaring. Bahwa kekuatan sejati bukan selalu tentang kemampuan menaklukkan. Melainkan kemampuan menjaga warisan agar tetap hidup di dalam hati manusia.
Sungai Sekadau terus mengalir di hadapan keraton. Airnya tidak pernah sama. Namun sungainya tetap satu. Demikian pula sejarah. Generasi datang dan pergi seperti air yang mengalir. Tetapi akar kebudayaan harus tetap menjadi tebing yang menjaga arah perjalanan.
Di tempat itulah kemerdekaan Indonesia diperingati.
Perayaan 17 Agustus bukan sekadar mengenang hari ketika bangsa ini terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga adalah keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah arus zaman yang terus menyeragamkan segala sesuatu.
Seni. Adat. Dan budaya yang ditampilkan oleh para kerabat keraton bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah bahasa yang dipakai leluhur untuk berbicara kepada anak cucunya. Mengingatkan bahwa kemajuan tidak pernah meminta kita melupakan asal-usul. Sebab pohon yang tumbuh tinggi justru semakin bergantung pada akar yang tidak terlihat.
Suasana hangat yang menyelimuti pertemuan itu menghadirkan sebuah pelajaran sederhana. Bahwa persatuan lahir bukan hanya dari kesamaan tujuan. Tetapi juga dari kesediaan untuk menghormati jejak yang telah lebih dahulu membuka jalan.
Keraton Sekadau hari ini bukan lagi pusat kekuasaan. Namun justru karena itulah ia menemukan makna yang lebih dalam. Ia telah berubah menjadi rumah ingatan. Tempat sejarah bernaung. Tempat budaya bernapas. Tempat manusia belajar bahwa masa depan tidak dibangun dengan melupakan masa lalu. Melainkan dengan berdamai dengannya.
Sebab pada akhirnya. Sebuah kerajaan mungkin dapat berakhir. Sebuah tahta mungkin dapat kosong. Sebuah mahkota mungkin dapat kehilangan pemiliknya.
Namun selama masih ada manusia yang mau mengingat. Selama masih ada anak-anak yang mau mendengar kisah para leluhurnya. Selama masih ada hati yang rela menjaga adat dan budaya.
Sesungguhnya. Keraton itu tidak pernah runtuh.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari singgasana. Ke dalam hati manusia.
0 Comments