Tuak dalam Tradisi dan Budaya Dayak
| Tuak yang siap-dikonsumsi dan dimasukkan dalam kemasan botol. Ist. |
Prof. Neilson Ilan Mersat, seorang akademisi dan budayawan Dayak Iban di Sarawak pernah menyatakan bahwa Tuak (anggur Dayak, air tape ketan yang difermentasi) adalah salah satu tradisi dan budaya Dayak. Hampir setiap upacara dan acara penting Dayak, ada tuak.
Tuak merupakan minuman tradisional yang memiliki makna budaya yang penting dalam kehidupan banyak subkelompok Dayak di Kalimantan. Meskipun sering dikenal sebagai minuman beralkohol hasil fermentasi, dalam tradisi Dayak tuak tidak dipandang sebagai minuman, melainkan juga sebagai bagian dari identitas budaya, adat, dan kehidupan sosial.
Di hadapan sebuah tempayan keramik tua yang usianya mungkin telah melampaui beberapa generasi, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada seseorang yang mulai merunduk, menggenggam sebatang buluh bambu panjang, lalu perlahan mengisap tuak dari dasar tempayan.
Sekilas, pemandangan itu mungkin tampak seperti sebuah permainan. Namun bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, inilah salah satu tradisi adat yang sarat makna: menyumpit tuak, atau yang akrab disebut nyumpit.
Tuak sebagai tradisi
Tradisi ini bukan semata-mata cara menikmati tuak. Di balik setiap tarikan napas tersimpan nilai persaudaraan, penghormatan, kesetaraan, dan ikatan kekeluargaan yang telah diwariskan turun-temurun.
Dalam berbagai upacara adat, terutama saat Gawai atau penyambutan tamu kehormatan, sebuah tempayan besar ditempatkan di tengah-tengah pertemuan. Tuak kemudian disajikan di dalamnya. Dari wadah yang sama, setiap orang; baik kepala adat, warga biasa, maupun tamu dari daerah lain—minum menggunakan buluh bambu panjang.
Tidak ada tempat yang lebih tinggi. Tidak ada giliran yang lebih istimewa. Semua memperoleh kehormatan yang sama: menikmati tuak dari sumber yang sama.
Di situlah falsafah hidup masyarakat Dayak berbicara tanpa kata-kata.
Tempayan yang digunakan pun bukan sembarang wadah. Bagi masyarakat Dayak, tempayan keramik kuno merupakan barang adat yang memiliki nilai sangat tinggi. Selain menjadi lambang martabat keluarga, benda ini juga dipercaya memiliki nilai sakral dan menjadi tempat bersemayamnya roh-roh pelindung. Karena itu, menyajikan tuak di dalam tempayan besar merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada setiap tamu yang datang.
Buluh bambu yang dipakai sebagai sedotan juga menyimpan makna tersendiri. Diambil langsung dari alam, bambu melambangkan kelancaran rezeki, komunikasi yang terbuka, dan hubungan yang terus mengalir antarsesama.
Tuak dalam Gawai dan acara Dayak
Tidak mengherankan apabila tradisi ini selalu menjadi bagian yang paling dinantikan dalam berbagai festival budaya, termasuk Pekan Gawai Dayak.
Di balik kesederhanaannya, menyumpit tuak ternyata menyimpan tantangan yang tidak mudah.
Tetua adat terlebih dahulu memasang sebatang lidi atau bilah kayu pada bibir tempayan sebagai tanda batas. Penanda itu menjadi ukuran yang harus dicapai peserta.
Setelah aba-aba diberikan, peserta mulai mengisap tuak menggunakan sedotan bambu panjang. Mereka dituntut terus mengalirkan napas tanpa berhenti hingga permukaan tuak turun tepat melewati garis penanda.
Apabila berhenti sebelum batas tercapai, peserta dinyatakan gagal.
Teknik inilah yang membuat tradisi tersebut disebut "menyumpit". Cara mengatur napas ketika mengisap tuak dianggap menyerupai teknik meniup senjata sumpit tradisional yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak.
Sorak-sorai penonton pun pecah setiap kali permukaan tuak perlahan turun mendekati tanda yang telah ditentukan. Tawa, tepuk tangan, dan semangat saling menyemangati memenuhi suasana. Tidak ada rasa malu bagi yang gagal. Tidak ada pula kesombongan bagi yang berhasil. Semua larut dalam kegembiraan bersama.
Barangkali, di situlah letak kekuatan tradisi ini.
Tuak dan kebersamaan
Menyumpit tuak bukan tentang siapa yang paling kuat menghirup, melainkan tentang bagaimana sebuah budaya mengajarkan bahwa kebersamaan selalu lahir dari sumber yang sama. Seteguk demi seteguk bukan hanya mengalirkan tuak, tetapi juga merawat persaudaraan yang telah diwariskan oleh leluhur.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, tradisi ini tetap hidup sebagai pengingat bahwa identitas sebuah masyarakat tidak hanya tersimpan dalam cerita, tetapi juga dalam ritual-ritual sederhana yang terus dijaga dengan penuh hormat.
Ketika buluh bambu kembali diangkat dari tempayan, yang tertinggal bukan hanya jejak air yang berkurang. Ada rasa hangat, tawa, dan keyakinan bahwa budaya akan terus hidup selama masih ada generasi yang bersedia memeliharanya.
Penulis: Rasti
0 Comments