Uda Anwar: Potret Orang Padang yang Berkanjang di Kalimantan

Rumah Makan Padang dan Jejak Perantau Minang di Kalimantan
Asal ada bunga desa, atau perempuan Dayak cantik, pasti dipinang orang Padang atau pemuda Cina, demikian pameo yang luas beredar di Kalimantan. ist.

Jejak perantau Minang di Kalimantan tidak hanya hadir lewat Rumah Makan Padang, tetapi juga melalui kisah Uda Anwar di Sandai. 

Orang Padang telah lama akrab dengan jalan. Barangkali sejak kampung-kampung di ranah Minang belum mengenal batas administrasi seperti sekarang.

Orang Minang/Padang sudah menjadikan perantauan sebagai cara membaca dunia. Mereka meninggalkan bukit dan lembah. Membawa sebungkus kenangan. Segenggam petuah. Serta satu keyakinan. Hidup adalah ikhtiar yang mesti dicari. Bukan ditunggu.

Borneo menjadi salah satu tujuan yang telah lama mereka singgahi. Di pulau yang sungai-sungainya lebar. Hutannya dahulu nyaris tanpa tepi.

Orang-orang Minang datang sebagai pedagang. Mereka menjual kain. Mereka membuka lepau nasi. Di ranah Minang orang menyebutnya demikian. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Rumah Makan Padang.

***

Barangkali memang ada sesuatu yang membuat masakan lebih mudah melintasi batas daripada pidato. Atau ideologi. Rendang. Gulai. Dendeng. Sambal hijau. Semuanya berbicara dalam bahasa yang tidak memerlukan penerjemah.

Di sepanjang jalan provinsi pulau terbesar ke-3 dunia.
Di jalan negara. Di berbagai sudut Kalimantan. Rumah makan Padang hadir seperti penanda perjalanan. Menjadi tempat singgah sopir truk. Pegawai. Pedagang. Pengembara. Juga mereka yang sekadar mencari rasa yang akrab di negeri yang jauh. Asap dapurnya mengepul. Membawa harapan. Bahwa hari esok masih layak diperjuangkan.

Saya menemukannya kembali di Sandai. Ibu kota sebuah kecamatan di Kabupaten Ketapang. Saat itu kami menempuh perjalanan darat dari Palangka Raya menuju Kalimantan Barat. Jalan membelah hutan. Membelah kebun sawit. Kadang mulus. Kadang berlubang. Perjalanan yang membuat semangkuk gulai terasa lebih berharga daripada jam tangan yang mahal.

Di sana saya bertemu Uda Anwar. Pemilik rumah makan itu. Ia melayani tamu dengan wajah ramah. Tangannya nyaris tak pernah berhenti bekerja. Saya selalu percaya. Keramahan kadang lebih mengenyangkan daripada sepiring nasi tambahan.

"Latar ranah dan orang Minang tetap menjadi ciri khas."
Begitu katanya. Lalu ia tersenyum. Seolah hendak mengingatkan sesuatu yang telah lama hidup dalam falsafah para perantau. "Di mana bumi dipijak. Di situ langit dijunjung."

Kalimat itu sederhana. Namun di dalamnya tersimpan cara memandang hidup. Identitas bukan tembok. Identitas adalah jendela. Menjadi Minang tidak menghalangi seseorang mencintai tanah tempat ia menetap.

Istri Uda Anwar berasal dari Sosok. Sebuah kawasan di Kalimantan Barat. Perkawinan itu seperti melanjutkan percakapan dua kebudayaan. Dipertemukan oleh jalan. Dipersatukan oleh waktu. Sebab perantauan bukan semata berpindah tempat mencari nafkah. Perantauan juga tentang menerima. Tentang belajar. Tentang membangun rumah di tanah yang mula-mula terasa asing.

***

Di Kalimantan Barat beredar sebuah pameo. Disampaikan dengan nada bergurau. Jika ada gadis Dayak yang cantik. Bunga desa. Besar kemungkinan kelak ia dipersunting pemuda Tionghoa. Atau pemuda Minang. 

Senda-gurau memang bukan kebenaran yang mutlak. Tetapi gurauan sering lahir dari kenyataan yang berulang. Ia menjadi semacam cara masyarakat menyimpan sejarah. Tanpa perlu menuliskannya di dalam buku.

Mungkin begitulah sejarah bekerja. Ia tidak selalu hadir dalam monumen. Atau arsip. Atau pidato yang megah. Kadang ia hidup di balik etalase rumah makan sederhana di pinggir jalan. 

Di tangan seorang perantau yang menyendok gulai. Di meja makan tempat orang-orang dari berbagai suku duduk bersama. Tanpa saling menanyakan asal-usul.

***

Kita kemudian sadar.
Yang sesungguhnya merantau bukan hanya manusia. Cita-rasa juga ikut berpindah. 

Tradisi turut berjalan. Kampung halaman pun diam-diam menemukan alamat baru. Di tempat-tempat yang tak pernah dibayangkannya sendiri.

Kampus Harvard-nya Bumi Lawang Kuwari, siang jelang senja 30 Juni 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.