You Can Sell a Book by Its Cover: Sejumput Pengalaman dan Peristiwa Hari ini
| You can sell a b ook by its Cover. Ist. |
Dua bulan tenggelam dalam KLD dan disertasi membuat saya nyaris melupakan kerja-kerja literasi yang selama ini menghidupi.
Tatkala harapan terasa menjauh. Selipat sampul buku sederhana dan satu bionarasi tentang tokoh Dayak justru membuka pintu rezeki yang tak disangka. Sebuah refleksi tentang kesunyian, ketekunan, kepercayaan, dan cara hidup menghadirkan jawaban pada waktunya.
Ada masa ketika hidup harus memilih sunyi.
Dua bulan terakhir, saya memilih tenggelam di dalamnya. Kongres Internasional Literasi Dayak (KLD) dan disertasi menyita hampir seluruh waktu saya.
Hari-hari berubah menjadi halaman-halaman yang harus ditaklukkan. Pagi tidak lagi ditandai oleh matahari, melainkan oleh paragraf yang belum selesai. Malam tidak ditutup oleh kantuk, melainkan oleh catatan kaki yang masih meminta jawaban.
Sementara itu, kehidupan tidak pernah berhenti mengajukan tagihannya.
***
Saya nyaris tidak mencari nafkah. Pekerjaan yang selama ini menghidupi saya, menulis buku, menjual buku, dan mengonversi naskah ilmiah menjadi buku, saya letakkan sejenak di tepi jalan. Saya sedang berjalan ke arah yang lain. Jalan itu tidak menjanjikan uang. Ia hanya menjanjikan kemungkinan bahwa suatu hari ilmu dapat bertemu dengan manfaat.
Ada saat-saat ketika saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah idealisme memang selalu meminta ongkos yang mahal?
Barangkali begitulah kiranya!
Sebab benih tidak pernah tumbuh di atas batu. Ia harus rela dikubur lebih dahulu di dalam tanah yang gelap.
Hari ini, saya teringat pada gagasan John Kremer, You can sell a book by its cover. Kalimat itu semula terdengar seperti petuah pemasaran. Namun, hidup sering kali mengubah sebuah kalimat menjadi pengalaman.
Saya memperlihatkan sampul sederhana buku 101 Tokoh Dayak, jilid 4. Belum purna, apalagi sempurna. Bahkan mungkin terlalu biasa untuk disebut menarik. Saya hanya menyertakan satu bionarasi tentang seorang tokoh Dayak Sanggau yang saya kenal. Saya tidak sedang menjual buku. Saya hanya sedang memperlihatkan sepotong ikhtiar.
Lalu, sesuatu yang tidak saya duga mengetuk pintu hari itu.
Dalam hitungan menit, ia meminta nomor rekening. Ia membeli, atau lebih tepatnya membayar di muka, dengan nilai yang setara harga 1,5 ton tandan buah segar sawit.
Saya terdiam.
Bukan karena angka itu.
Melainkan karena saya sadar, yang berpindah bukan hanya sejumlah uang. Yang berpindah adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah lahir dalam sehari. Ia tumbuh perlahan, seperti akar yang bekerja dalam diam. Orang melihat pohon ketika ia rindang, tetapi lupa bahwa kehidupan sesungguhnya dimulai dari sesuatu yang tak pernah tampak.
Barangkali memang demikian cara hidup memberi jawaban. Ia tidak selalu datang ketika kita meminta. Ia datang ketika kita hampir lupa bahwa kita sedang menunggu.
***
Di situlah saya mengerti. Bahwa kerja literasi sesungguhnya bukan pekerjaan menulis. Ia adalah pekerjaan menanam.
Sejilid-buku yang tampak memang hanyalah kumpulan lembar kertas yang ditintai. Ketika terbit, ia harus rela meninggalkan tangan penulisnya agar menemukan tanahnya sendiri. Sebagian benih dimakan burung. Sebagian membusuk. Sebagian lagi tumbuh menjadi pohon yang bahkan tak pernah lagi mengenal siapa penanamnya.
Mungkin itulah makna pengabdian. Kita bekerja bukan karena hasil sudah tampak, melainkan karena percaya bahwa setiap kata yang ditulis dengan kejujuran akan menemukan pembacanya, sebagaimana setiap doa menemukan waktunya.
Hari ini (Sabtu, 18 Juli 2026).
Saya belajar sekali lagi. Bahwa Tuhan kadang tidak mengirimkan rezeki melalui pintu yang kita jaga setiap hari. Ia membukakan jendela yang bahkan tidak pernah kita sadari keberadaannya.
Karena itu, jika suatu saat hidup memaksa kita memilih antara mengejar yang segera menghasilkan atau merawat sesuatu yang baru akan berbuah bertahun-tahun kemudian. Maka jangan terlalu segera untuk mengira bahwa kita sedang kehilangan.
Bisa jadi kita hanya sedang ditanam.
Jakarta, 18 Juli 2026
0 Comments