Bendera Borneo Raya yang Berkibar, Diturunkan: Dukungan Mulai Bermunculan

Bendera Borneo Raya yang Berkibar, Diturunkan:  Dukungan Mulai Bermunculan
Bendera Borneo Raya yang berkibar: Keberanian yang menyatakan aspirasi. sumber gambar: https://www.facebook.com/kamidayakkalbar

Ketidakpuasan masyarakat se-Borneo diekspresikan secara berani. Bendera Borneo Raya kini tidak hanya ditunjukkan melalui pengibaran di tiang, tetapi juga lewat kaus bergambar simbol Dayak. Pengibaran Bendera Borneo Raya dinilai mencerminkan kekecewaan sebagian masyarakat Dayak di Kalimantan terhadap pemerintah pusat.
Namun terjadi peristiwa penurunan bendera Borneo Raya di Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Hal itu terus mendapat perhatian. Respons masyarakat mulai muncul dalam berbagai bentuk.

Baca Modus Vivendi Dayak hari ini: Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi Kulkas

Salah satu respons terlihat dari penggunaan kaus bergambar bendera Dayak. Simbol itu dikenakan sebagai bentuk ekspresi identitas dan dukungan terhadap aspirasi yang sedang disuarakan.

Aliansi Borneo Raya Menggugat sebelumnya menyatakan bendera Merah-Kuning-Biru merupakan simbol atau identitas budaya Dayak. Aliansi juga menegaskan bahwa penyampaian aspirasi dilakukan untuk meminta perhatian terhadap suara masyarakat Kalimantan.

Aliansi Kembali Soroti 13 Tuntutan

Penurunan bendera tersebut menjadi perhatian publik. Aliansi Borneo Raya Menggugat juga kembali mengangkat 13 tuntutan yang sebelumnya telah disampaikan.

Tuntutan itu mencakup sejumlah persoalan di Kalimantan. Di antaranya pengelolaan sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, masyarakat adat, serta pemerataan pendidikan dan kesehatan.

Baca Cornelis Bekali Kepala Desa dengan Buku Hukum: Perjuangkan Hak dengan Undang-Undang, Bukan Kekerasan

Perhatian khusus diberikan kepada masyarakat di wilayah pedalaman dan perbatasan. Aliansi menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian pemerintah.

Noven: Dukungan Semakin Terlihat

Tokoh pemuda Dayak, Noven Honarius, mengatakan dukungan terhadap gerakan tersebut mulai terlihat. Ia menyebut sejumlah tokoh dan kelompok masyarakat memberikan respons positif.

“Banyak respons positif bahkan dukungan dari berbagai pihak dan tokoh-tokoh Dayak. Sehingga saat ini mulai muncul di publik. Itu artinya masyarakat Kalimantan juga punya rasa yang sama dalam semangat perjuangan,” kata Noven.

Baca Alasan Penduduk Asli Kalimantan Menolak Keras Program Transmigrasi: 10 Keburukan Banding 1 Kebaikan

Menurut dia, penurunan bendera Borneo di Tayan tidak menghentikan penyampaian aspirasi. Sebaliknya, peristiwa itu dinilai menjadi semangat baru bagi pihak yang ingin terus menyuarakan tuntutan.

“Semakin ke sini semua pihak sudah mendukung pergerakan, terutama generasi muda. Turunnya bendera Borneo di Tayan menjadi semangat baru dengan slogan: turun satu, berkibar seribu,” ujarnya.

Simbol Dayak Tidak Hanya Berkibar di Tiang

KDK melihat ekspresi masyarakat tidak hanya muncul melalui pengibaran bendera. Penggunaan kaus bergambar bendera Dayak juga menjadi salah satu bentuk ekspresi identitas.

Baca Dari Rumah Buku Dayak ke Rumah Literasi Dayak: Sebuah Ide yang Men-jadi

Menurut KDK, simbol tidak selalu harus berada di tiang bendera. Simbol juga dapat hadir melalui pakaian yang dikenakan masyarakat.

Kaus bergambar bendera menjadi bagian dari ekspresi di ruang publik. Pesan yang disampaikan bukan hanya melalui tulisan, tetapi juga melalui simbol yang melekat pada pakaian.

Masyarakat kecewa pada pemerintah pusat

Fenomena penaikan Borneo Raya menunjukkan bahwa polemik bendera Borneo Raya telah berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas. Persoalannya bukan lagi hanya tentang sebuah bendera, tetapi juga tentang identitas dan aspirasi masyarakat Kalimantan. 

“Kalau masalah ini menurut saya, tidak lepas dari kekecewaan masyarakat Dayak di Kalimantan terhadap pemerintah pusat,” kata Yohanes Nenes, ketua Dewan Adat Dayak (DAD) kota Pontianak.

Pewarta: Apen Panlelugen

0 Comments

Type above and press Enter to search.