Literasi Dayak: Deklarasi dari Batu Ruyud, Krayan yang Bergaung menjadi Gerakan


Inisiator dan deklarator Literasi Dayak.
Inisiator dan deklarator Literasi Dayak. Ist.

Pada Rabu, 2 November 2022, sebuah peristiwa yang kelak memiliki arti penting bagi perjalanan literasi masyarakat Dayak berlangsung di Batu Ruyud, Desa Fe' Milau, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Jauh dari pusat-pusat pemerintahan dan hiruk-pikuk kota besar, delapan orang berkumpul untuk menyatakan sebuah komitmen bersama. Tidak ada panggung megah, tidak ada protokol kenegaraan, dan tidak ada dokumen resmi yang dicetak di atas kertas berkop lembaga. Yang ada hanyalah selembar halaman buku tulis bergaris yang ditulis dengan tangan, kemudian ditandatangani bersama. Dari lembar sederhana itulah lahir Deklarasi Literasi Dayak Borneo.

Baca Buku Hidup yang Ditulis dari Hidup secara Hidup: Pustaka-wajib bagi Aktivis dan Pelaku Credit Union

Sekilas, dokumen tersebut mungkin tampak biasa. Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu bermula dari tempat-tempat yang gemerlap atau melalui seremoni yang mewah.

Banyak gerakan lahir dari ruang-ruang sunyi, diprakarsai oleh orang-orang yang memiliki keyakinan bahwa masa depan dapat diubah melalui kekuatan gagasan. Batu Ruyud menjadi salah satu ruang sunyi itu. Di sanalah sebuah gerakan intelektual masyarakat Dayak mulai menemukan bentuknya.

Deklarasi Literasi Dayak

Deklarasi yang ditulis pada hari itu memang ringkas. Isinya hanya beberapa butir kesepakatan, tetapi setiap kalimatnya mengandung arah yang jelas.

Pada bagian pembuka dinyatakan bahwa untuk menegaskan identitas Dayak yang berakar pada adat dan budaya, para deklarator sepakat membangun dan mengembangkan budaya literasi di seluruh Borneo. Pilihan terhadap kata "literasi" menunjukkan cara pandang yang sangat mendasar. Mereka tidak memulai pembicaraan dari politik, kekuasaan, ataupun ekonomi, melainkan dari upaya membangun pengetahuan sebagai fondasi peradaban.

Pilihan tersebut bukanlah sesuatu yang lahir secara kebetulan. Masyarakat Dayak sejak lama dikenal memiliki kekayaan tradisi lisan yang luar biasa. Cerita rakyat, hukum adat, pantun, mantra, silsilah, hingga pengetahuan tentang hutan dan lingkungan diwariskan secara turun-temurun melalui ingatan kolektif. 

Baca 101 Tokoh Dayak Jilid 4: Siapa Saja Mereka? (3) Taksonomi Suku, Rumpun (Stammenras) dan Subsuku

Tradisi itu telah menjaga keberlangsungan kebudayaan selama berabad-abad. Akan tetapi, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru. Ingatan lisan membutuhkan pendamping yang mampu melampaui batas ruang dan waktu, yaitu tradisi tulis. Apa yang tidak ditulis berisiko hilang bersama pergantian generasi. Karena itu, literasi dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.

Pemikiran tersebut semakin dipertegas dalam bagian berikutnya dari deklarasi yang menyatakan keyakinan bahwa literasi merupakan jalan menuju kemajuan dan masa depan. Literasi dipahami jauh melampaui kemampuan membaca dan menulis. Ia merupakan cara berpikir, cara belajar, cara mendokumentasikan pengalaman, sekaligus cara membangun peradaban. Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya sebuah gerakan bersama. 

Para deklarator memahami bahwa apabila masyarakat Dayak tidak menuliskan pengalaman dan sejarahnya sendiri, maka kisah tentang Dayak akan terus ditulis oleh pihak lain dengan sudut pandang yang belum tentu sama. Menulis karena itu menjadi bagian dari upaya merebut kembali otoritas atas sejarah, kebudayaan, dan identitas.

Deklarasi Literasi Dayak

Dari kesadaran tersebut, literasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas individual yang hanya dilakukan oleh penulis atau akademisi. Literasi harus berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan masyarakat luas. Menulis buku, mendokumentasikan tradisi, melakukan penelitian, membangun perpustakaan, hingga menciptakan ruang-ruang diskusi merupakan bagian dari kerja besar membangun peradaban Dayak berbasis pengetahuan. Inilah semangat yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Literasi Dayak Borneo.

Delapan nama yang membubuhkan tanda tangan pada naskah deklarasi berasal dari latar belakang yang berbeda, yaitu 

Pada bagian akhir naskah deklarasi tertulis delapan nama yang menjadi deklarator:

  1. Dr. Yansen TP, M.Si.
  2. Masri Sareb Putra, M.A.
  3. Gat Khaleb, S.Pd.
  4. Lio Bijumes, S.Sos., M.M.
  5. Agustina, S.Pd.
  6. Tirusel STP, SE., M.Si.
  7. Matius Mardani, M.Pd.
  8. Marli Kamis, S.H.
Dokumen asli Deklarasi dan Deklarator Literasi Dayak.
Dokumen asli Deklarasi dan Deklarator Literasi Dayak. Ist.

Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan profesi tidak menjadi penghalang karena mereka dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni menjadikan literasi sebagai jalan membangun masa depan masyarakat Dayak. Kesederhanaan naskah yang ditulis dengan tangan justru memperlihatkan ketulusan komitmen tersebut. Tanpa kemewahan seremoni, deklarasi itu lahir dari kesepakatan hati dan kesamaan visi.

Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo

Seiring berjalannya waktu, Batu Ruyud tidak lagi hanya dikenang sebagai lokasi penandatanganan sebuah dokumen. Kampung di dataran tinggi Krayan itu berubah menjadi simbol titik awal lahirnya sebuah kesadaran baru bahwa pembangunan masyarakat adat tidak cukup hanya diwujudkan melalui jalan, jembatan, gedung, atau infrastruktur fisik lainnya.

Pembangunan juga harus berlangsung di bidang pengetahuan. Peradaban yang kuat memerlukan masyarakat yang mampu membaca, menulis, meneliti, dan mendokumentasikan dirinya sendiri.

Semangat literasi yang perlahan berkembang dan menjalar

Semangat yang lahir dari Batu Ruyud kemudian menjalar ke berbagai wilayah di Pulau Borneo. Deklarasi tersebut menginspirasi penyelenggaraan pelatihan menulis, diskusi kebudayaan, penerbitan buku-buku bertema Dayak, penguatan jejaring intelektual, hingga lahirnya berbagai inisiatif literasi di tingkat lokal.

Dalam perkembangannya, gagasan itu terus bertumbuh melalui penyelenggaraan Kongres Internasional Literasi Dayak (KLD), Dayak Book Fair, penerbitan puluhan judul buku, serta pembentukan Rumah Literasi Dayak sebagai wadah yang lebih terstruktur bagi gerakan literasi masyarakat Dayak. KLD telah diselenggarakan di Sekadau, Kalimantan Barat pada 15-16 Mei 2026.

Melihat perjalanan itu, semakin jelas bahwa kekuatan sebuah deklarasi tidak ditentukan oleh tebal-tipisnya naskah ataupun kemegahan acara peluncurannya. Yang menentukan adalah gagasan yang dikandungnya dan kesungguhan orang-orang yang menjalankannya. Selembar kertas bergaris yang ditulis tangan di Batu Ruyud telah berkembang menjadi simbol kebangkitan intelektual masyarakat Dayak, sekaligus penanda bahwa perubahan besar dapat berawal dari tindakan yang tampak sederhana.

Baca Dayak di Titik Hijau Pulau Kalimantan

Deklarasi Literasi Dayak Borneo bukan sekadar dokumen yang menandai berdirinya sebuah gerakan. Deklarasi itu merepresentasikan perubahan cara pandang. Masyarakat Dayak tidak lagi ingin hanya menjadi objek penelitian, objek pembangunan, atau objek kebijakan. Mereka memilih menjadi subjek yang menulis, mendokumentasikan, menafsirkan, dan memperkenalkan sejarah serta kebudayaannya sendiri kepada dunia. Melalui literasi, masyarakat Dayak berupaya menjaga ingatan kolektif, memperkuat identitas budaya, sekaligus menghadirkan pengetahuan lokal ke dalam percakapan global.

Empat tahun setelah ditandatangani, makna deklarasi tersebut justru semakin terasa. Apa yang bermula dari sebuah tulisan tangan di sebuah kampung di pedalaman Borneo telah berkembang menjadi gerakan yang terus melahirkan karya, jejaring, dan harapan baru. 

Batu Ruyud membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan. Kadang-kadang, ia berawal dari sebuah keyakinan yang ditulis di atas selembar kertas sederhana, kemudian dijaga dengan kerja yang tekun dan konsisten. 

Dari sanalah api kecil itu dinyalakan, dan hingga kini nyalanya terus menerangi perjalanan Literasi Dayak Borneo.

Penulis: Rangkaya Bada

0 Comments

Type above and press Enter to search.