Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (81)
| Apakah siswa SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop punya pacar? Pertanyaan ini aneh, tapi nyata. Dok. Ist. |
Matahari di awal tahun 1975 baru saja meninggi, menyiramkan cahayanya di atas hamparan rumput yang menjadi saksi bisu berkumpulnya dua belas pendekar muda.
Kilatan lampu kilat kamera mengunci wajah-wajah klimis berambut gondrong itu ke dalam selembar potret sepia. Mengabadikan sebuah angkatan kelas IV SMA Seminari St. Paulus tahun 1975 yang tampak perkasa dan penuh keyakinan. Biasanya pastor Belanda dengan tubuh setinggi galah, 2 meter, Willy Wagemakers sang juru-potret pro. Pada ketika itu, hanya pastor luar-negeri yang punya kamera.
Dalam tangkapan potret tua yang kini telah berwarna sepia kecokelatan dan menyisakan guratan-guratan halus termakan usia, terpancar aura mistis dan ketegangan yang sunyi.
Warna monokrom itu justru semakin mempertegas lekuk gundukan gunung bagai susu ibu bernama Poteng pada latar belakang yang berdiri angkuh. Seolah-olah menantang nyali para pemuda yang berdiri di bawah kakinya.
Baca Membaca Surat Cinta Bersama-sama- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (80)
Guratan waktu pada foto itu seakan melambangkan gersang dan beratnya jalan tirakat yang harus mereka tempuh. Tatapan mata mereka yang membeku dalam keabadian hitam-putih menyimpan sejuta cerita tentang tekad, harapan, dan kepasrahan.
Pakaian yang mereka kenakan berkibar dan amatlah masyhur pada zamannya. Yakni kemeja-kemeja berkerah lebar dengan motif zaman dulu serta celana longgar yang menyapu rumput tampak kontras dengan latar alam yang liar. Semua itu menciptakan perpaduan antara gejolak kemudaan dan sunyinya panggilan takdir.
Di barisan depan, dalam posisi jongkok yang rendah namun penuh kewaspadaan, duduklah lima cantrik pilihan. Yosef Sartomo (Tet Luk), Langgeng, dan Yosef Sudarto (Abun) mengatur napas dengan tenang.
Di samping mereka, Lanyi bersiap dengan tatapan lurus, sementara di ujung kanan, seorang sosok misterius yang namanya kini telah pupus dan karam dari ingatan sejarah duduk diam bak patung batu, meninggalkan teka-teki yang tak terjawab oleh waktu.
Sementara di barisan belakang, tujuh pendekar berdiri tegak bagaikan tombak-tombak yang siap dihujamkan ke medan laga.
Handono dan Fransiskus Sonan berdiri kokoh tanpa goyang. Di sebelah mereka, Hartono memalingkan mukanya dengan tajam ke arah kiri, seolah mencium bau mara bahaya yang sedang mengintip dari balik semak belukar.
Baca Terkenang Yan-sek (Bruder Yan) dan Sepotong Singkong Goreng Kantin Samping Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (79)
Di tengah-tengah mereka, berdiri sang tokoh utama, Paduanus Aga, dengan wibawa batin yang memancar kuat, diapit oleh Bartolomeus Bart dan Benediktus Likoy yang berdiri dengan sikap jantan.
Di ujung paling kanan, Rudin berdiri dengan berkacak pinggang, menantang takdir dengan dada membusung.
Tempat mereka bernaung bukan sembarang perguruan, melainkan SMA Seminari. Sebuah kawah candradimuka tempat jiwa-jiwa suci digembleng dengan aturan yang amat ketat dan prihatin.
Di awal tahun. Perguruan ini sempat dihuni oleh 13 hingga 15 orang murid. Namun, jalan menuju kesucian bukanlah jalan bertabur bunga, melainkan jalan setapak penuh duri dan tebing curam. Satu demi satu murid berguguran, mentalnya rontok, dan barisan mereka mengikis perlahan-lahan dihantam badai ujian hidup.
Siapa yang dapat mengira, dari hamparan padang rumput dalam potret kuno ini, hanya dua orang pendekar spiritual yang berhasil menembus benteng pertahanan terakhir dan menerima urapan suci menjadi seorang imam/pastor! Mereka yang berhasil lolos dari seleksi alam yang mahaberat itu tak lain adalah:
Paduanus Aga OFM Cap. Ia pendekar berdarah dingin dari Kampung Nyandang, wilayah Kapuas yang kini masuk Paroki Bunut, Keuskupan Sanggau. Darah kepastoran rupanya mengalir kental di tubuhnya, mengikuti jejak sang kakak kandung, P. Matheus Sanding OFM Cap.
Baca Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)
Benediktus Likoy OFM Cap., sang Rajawali dari Semombat, Jangkang, yang dengan keteguhan hatinya berhasil menaklukkan badai ujian di bawah payung Paroki Jangkang, Keuskupan Sanggau.
Potret usang itu kini menjadi saksi abadi dari sebuah kisah perjalanan sunyi. Kisah di mana banyak yang dipanggil, namun hanya jiwa-jiwa pilihan bermental baja yang sanggup bertahan hingga akhir laga di altar suci!
Masri Sareb Putra
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.
Jakarta, siang ketika terik matahari 2 Oktober 2026.
0 Comments