Dayak Menjadi Tuan di Tanah Sendiri

Dayak menjadi tuan di tanahnya sendiri.
Turut serta memiliki dan menikmati booming sawit, salah satu bukti Dayak menjadi tuan di tanahnya sendiri.
Oleh Hertanto Torunas Moncas

Dayak kerap diposisikan sebagai cerita masa lalu. Tentang rumah panjangMandau. Ritual. Hutan. Cara pandang ini keliru. Dayak bukan fosil budaya. Dayak adalah subjek hidup. Bergerak. Berpikir. Beradaptasi.

Di Borneo. Orang Dayak membangun peradaban jauh sebelum negara modern hadir. Mereka mengelola alam lewat tembawang. Ladang berpindah yang beretika. Hukum adat yang menjaga keseimbangan manusia dan alam. Nilai-nilai ini justru relevan di era krisis iklim hari ini.

Ironinya jelas. Ketika dunia mencari model keberlanjutan. Orang Dayak justru tersingkir dari tanah yang mereka rawat turun-temurun.

Tanah dan Hutan. Identitas yang Terus Dipertaruhkan

Bagi orang Dayak. Tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah identitas. Memori. Martabat. Di sanalah leluhur dimakamkan. Ritual dijalankan. Masa depan anak cucu dititipkan.

Ekspansi sawitPertambangan. Proyek-proyek besar. Semua ini mengubah wajah Borneo. Banyak komunitas Dayak kehilangan ruang hidup. Bahkan menjadi buruh di tanah sendiri.

Di titik inilah persoalan Dayak adalah persoalan keadilan. Bukan penolakan pembangunan. Melainkan tuntutan pembangunan yang beradab. Mengakui hak adat. Menghormati kearifan lokal. Menempatkan orang Dayak sebagai pelaku utama. Bukan penonton.

Dayak di Era Digital. Dari Lisan ke Tulisan.

Hari ini wajah Dayak berlapis. Petani. Intelektual. Pastor. Peneliti. Seniman. Pegiat literasi. Kreator digital. Ruang digital membuka panggung baru. Untuk merebut narasi.

Anak-anak muda Dayak mulai menulis sejarahnya sendiri. Bahasa. Adat. Musik. Tato. Kisah kampung. Semua yang dulu hidup secara lisan. Kini menjadi teks. Video. Arsip.

Kesadarannya sederhana. Jika orang Dayak tidak menulis tentang dirinya. Orang lain akan menuliskannya. Dengan tafsir yang sering keliru.

Media digital seperti dayaktoday.com menjadi ruang strategis. Bukan sekadar penyampai berita. Tetapi penumbuh kesadaran kolektif. Bahwa Dayak adalah bagian penting Indonesia. Dan dunia.

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri. Sebuah Perjuangan Panjang.

Ungkapan ini bukan slogan. Ia lahir dari pengalaman panjang marginalisasi. Menjadi tuan di negeri sendiri berarti pendidikan yang adil. Literasi keuangan. Penguatan ekonomi komunitas. Pengakuan hukum adat. Keberanian berkata tidak pada praktik yang merugikan.

Gerakan Dayak hari ini tidak berhenti pada simbol budaya. Ia hadir dalam riset. Advokasi. Koperasi. Rumah panjang yang dihidupkan kembali. Diskusi yang mempertemukan kampus dan kampung.

Perjuangan ini belum selesai. Namun arahnya jelas. Dayak tidak meminta belas kasihan. Dayak menegaskan haknya. Untuk hidup bermartabat. Di tanah leluhur. Dengan masa depan yang ditentukan sendiri.

Dayak tidak punah. Tidak pula beku di masa lalu. Mereka hidup. Berpikir. Bekerja. Bertahan.

Namun tekanannya nyata. Tanah menyempit. Hutan berubah. Nama-nama asing datang membawa peta. Izin. Modal. Orang Dayak sering hanya diberi sisa.

Ini bukan dongeng. Ini fakta lapangan. Dari hulu sungai hingga pinggir kota. Dayak ada. Tetapi ruang hidupnya makin kecil.

Tanah Dayak. Bukan Komoditas. Tetapi Harga Diri.

Bagi orang Dayak. Tanah bukan barang jual beli. Ia ibu. Ia asal. Ia masa depan.

Ketika tanah dilepas. Yang hilang bukan hanya hektare. Yang runtuh adalah tatanan. Adat. Relasi sosial. Ikatan antar generasi.

Karena itu konflik agraria di Borneo selalu menyisakan luka panjang. Bukan hanya ekonomi. Tetapi identitas.

Dulu Dayak dibicarakan. Kini Dayak berbicara.

Media digital. Kamera. Tulisan. Semua menjadi alat perlawanan baru. Anak muda Dayak menulis kampungnya sendiri. Sejarahnya sendiri. Lukanya sendiri.

Mereka menolak stereotip. Mereka menolak disederhanakan. Dayak bukan eksotik. Dayak bukan objek wisata. Dayak adalah subjek sejarah.

Menjadi Tuan di Tanah Sendiri

Dayak menjadi tuan di tanahnya sendiri bukan slogan romantik, melainkan jeritan sejarah yang lahir dari luka panjang: tanah leluhur yang diwariskan lewat adat, doa, dan darah, perlahan menyempit oleh izin, peta, dan tanda tangan yang tak pernah melibatkan mereka.

 Itu berarti orang Dayak tidak lagi berdiri sebagai penonton di atas tanahnya, tidak lagi menjadi buruh di kebun sawit yang dulu hutan adatnya, tidak lagi dipaksa menjual atau menggadaikan tanah demi bertahan hidup. 

Menjadi tuan di tanah sendiri artinya berdaulat menentukan nasib, mengelola hutan tanpa merusaknya, menanam tanpa dirampas hasilnya, hidup bermartabat tanpa harus meminta belas kasihan. 

Di titik ini, Dayak bukan anti-pembangunan, tetapi menolak pembangunan yang mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri.

Menjadi tuan berarti berdaulat atas tanah adat. Atas pendidikan. Atas ekonomi. Atas masa depan.

Perlawanan Dayak hari ini tidak selalu dengan teriakan. Ia hadir lewat riset. Koperasi. Rumah panjang. Diskusi. Tulisan. Kesadaran.

Pelan. Tapi pasti. Dayak bergerak.

0 Comments

Type above and press Enter to search.