Desjoyaux dan Krisis Sungai Kalimantan
| Desjoyaux Pools mengingatkan agar sungai-sungai di Kalimantan harus tetap biru, bersih, jangan dikotori dan dicemarkan perusahaan dan kerakusan sesaat. Dokpen. |
Ada jalan yang dilewati bertahun-tahun, namun tidak pernah benar-benar disadari. Jalan Arjuna, Tomang, adalah salah satunya.
Selama dua puluh tahun bekerja di PT Gramedia, Palmerah, Jakarta. Jalan itu nyaris saban hari saya lewati. Melintas jalan agak sempit samping Tol Kebon Jeruk - Tomang itu hadir sebagai rutinitas. Ia tidak dipikirkan, tidak direnungkan. Ia sekadar dilalui.
Pagi, siang, sore. Berulang. Kota mengajarkan kita untuk bergerak, bukan berhenti.
Jalan yang Dilewati, Air yang Tak Pernah Disimak
Baru pada 31 Januari 2026, ketika tujuan perjalanan berubah. Perjalanan dari Tangerang - Palmerah ke Kelapa Gading, kesadaran itu muncul. Arah yang berbeda membuat mata terbuka pada sesuatu yang sejak lama ada. Namun luput dari perhatian.
Di tepi jalan Arjuna Tomang Tol itu itu tampak air kolam yang biru. Tenang. Terpelihara. Seolah tidak tersentuh oleh debu dan kelelahan Jakarta.
Air itu tidak baru. Ia sudah lama di sana. Tetapi baru hari itu ia hadir sebagai pengalaman. Sesuatu menjadi nyata bukan semata karena ia ada, melainkan karena kita berhenti dan memberi ruang untuk memaknainya.
Air kolam itu diam. Tidak mengalir seperti sungai. Tidak membawa lumpur, tidak membawa daun, tidak membawa cerita.
Birunya terasa asing di kota yang terbiasa dengan warna kusam. Dan dari sanalah muncul pertanyaan awal yang sederhana, tetapi mengusik.
Mengapa air sebersih ini justru ditemukan di sini, di tengah Jakarta, bukan di wilayah yang sejak awal diciptakan alam sebagai ruang air?
Desjoyaux dan Air yang Menjadi Permata
Tulisan di bangunan itu berbunyi Desjoyaux Pools. Sebuah kata dari bahasa Prancis. Desjoyaux berarti permata. Sesuatu yang bernilai tinggi, dijaga, dipamerkan.
Ketika kata itu dilekatkan pada air, maknanya menjadi terang. Air tidak lagi diperlakukan sebagai unsur kehidupan bersama, melainkan sebagai benda bernilai, eksklusif, dan terpisah.
Saya berulang kali menulis bahwa krisis terbesar masyarakat adat hari ini bukan hanya kehilangan tanah atau hutan. Namun, kehilangan cara pandang terhadap alam. Alam tidak lagi dipahami sebagai relasi hidup, tetapi sebagai objek yang bisa dikelola, dijual, dan dieksploitasi.
Air kolam ini adalah simbol dari cara pandang itu. Air dipisahkan dari sungai, dari hujan, dari tanah. Ia dijaga ketat agar tetap biru. Ia tidak boleh tercemar. Tidak boleh liar. Tidak boleh mengalir ke mana pun selain yang sudah ditentukan.
Di Kalimantan, air tidak pernah diperlakukan seperti permata. Ia terlalu dekat untuk dianggap mewah. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Untuk minum, mandi, memasak, bepergian, dan berdoa. Air tidak dipuja karena kilauannya, tetapi dihormati karena perannya menjaga kehidupan.
Ironinya, hari ini air yang jernih justru lahir dari proses yang memisahkannya dari alam. Sementara air sungai yang dahulu menopang kehidupan banyak komunitas Dayak kini tercemar oleh limbah tambang, racun kimia, merkuri, dan kehancuran hutan.
Emas, Sungai, dan Kekeliruan Peradaban
Di Kalimantan, emas sering menjadi alasan. Alasan membuka hutan. Alasan menggali tanah. Alasan membenarkan pencemaran sungai. Semua dilakukan atas nama pembangunan dan kesejahteraan.
Namun emas tidak pernah menjadi sumber kehidupan. Ia tidak menghilangkan haus. Ia tidak membersihkan tubuh. Ia tidak menumbuhkan padi. Ia tidak menghidupkan ikan.
Izinkan saya menyebut ini sebagai kekeliruan mendasar. Ketika yang berkilau dianggap lebih berharga daripada yang mengalir. Ketika logam lebih dipuja daripada air. Ketika keuntungan jangka pendek mengalahkan keberlanjutan hidup.
Bagi masyarakat Dayak, tidak ada istilah emas kehidupan. Yang ada adalah air kehidupan.
Air yang mengalir dari hulu ke hilir. Air yang menghubungkan manusia dengan tanah, hutan, dan leluhur. Ketika air rusak, yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi struktur makna yang menopang hidup bersama.
Sering kali tragedi besar sering tidak datang dengan suara keras. Ia datang pelan-pelan, melalui kebiasaan yang diterima tanpa pertanyaan.
Pencemaran sungai di Kalimantan juga terjadi seperti itu. Sedikit demi sedikit. Izin demi izin. Proyek demi proyek. Hingga suatu hari air yang dulu diminum kini tidak lagi aman disentuh.
Dan pada saat yang sama, di kota, air bersih dijaga agar tetap steril dan biru. Bukan karena ia sakral, tetapi karena ia bernilai ekonomi.
Biru yang Dipelihara dan Biru yang Hilang
Kolam ini, jika direnungkan lebih jauh, bukan sekadar dokumentasi visual. Ia adalah cermin zaman. Yang menunjukkan bahwa air bersih masih mungkin dihasilkan, tetapi dengan satu syarat penting. Air itu harus dipisahkan dari alamnya. Dipagari. Dikontrol. Dimiliki.
Pertanyaannya kemudian bukan apakah manusia mampu menjaga air tetap biru di kolam. Teknologi telah menjawabnya. Pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih mendesak adalah apakah manusia masih mau menjaga air tetap hidup di sungai.
Dua puluh tahun melewati jalan yang sama, lalu berhenti pada satu momen, mengajarkan satu hal. Kehilangan sering baru terasa ketika kita melihat penggantinya. Air kolam ini menjadi pengingat bahwa Kalimantan pernah memiliki biru yang tidak memerlukan mesin, tidak memerlukan pagar, dan tidak memerlukan merek.
Air itu biru karena hutan menjaga hujan. Karena tanah menyaring aliran. Karena manusia tahu batas.
Kini, yang tersisa adalah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Apakah kita masih ingin hidup bersama sungai, atau cukup puas dengan kolam yang terawat.
Air kehidupan, tak ada emas-kehidupan
Karena pada akhirnya, air yang sejati tidak membutuhkan logo. Dan peradaban yang mengorbankan sungai demi emas sedang membangun masa depan yang kehausan.
Tidak ada emas kehidupan. Yang ada hanya air kehidupan. Emas berkilau karena hasrat, air mengalir karena keperluan. Emas disimpan, air dibagikan; emas diperebutkan, air dicari bersama.
Dalam tubuh manusia, yang bekerja bukan kilau, melainkan aliran. Darah, keringat, air mata: semuanya air yang bergerak, mengingatkan bahwa hidup bukan soal menimbun, melainkan terus mengalir agar tidak membusuk. Di situ, kehidupan menemukan martabatnya yang sunyi.
Manusia bisa menahan lapar berhari-hari, seolah tubuh masih mau berunding dengan kekurangan. Tetapi tanpa air, tak ada negosiasi. Dehidrasi adalah keputusan cepat dari alam: selesai. Air tidak menawar, tidak berjanji; ia hanya hadir atau absen.
Maka hidup pun sesungguhnya sederhana dan rapuh. Ia berdiri bukan di atas kemewahan, melainkan pada seteguk yang tak pernah dibanggakan. Dalam air, manusia belajar rendah hati: bahwa yang paling menentukan justru yang paling sering dilupakan.
Jakarta, 01 Februari 2026.
0 Comments