Janggala, Pelabuhan yang Mempertemukan Darajuanti dan Loh Gender: Jejak dan Rekam Sejarah Lambang kerajaan Sintang (2)

Di muka istana kerajaan Sintang.
Penulis di muka istana kerajaan Sintang. Dismpan di sini artefak dan bukti-bukti fisik dan narasi  tentang asal usul burung garuda. Dokpen. 

Oleh Masri Sareb Putra

Sejarah bukan sekadar deret tahun. Ia adalah perjumpaan horizon: masa lampau yang belum selesai dengan masa kini yang belum tuntas. 

Di sanalah historiografi bekerja. Bukan sekadar menyalin kenangan, melainkan menegosiasikan jarak. Antara arsip dan tafsir. Antara artefak yang bisu dan kata-kata yang mencoba memberi suara.

Baca Burung Garuda: Mitos ataukah Realita? Jejak dan Rekam Sejarah Lambang kerajaan Sintang (1)

Keraton Kerajaan Sintang yang menyimpan artefak dan sejarah burung garuda

Fusion of Horizons itu tidak mudah. Tidak setiap ilmuwan berani memasuki wilayah yang samar. Terutama ketika dokumen tercerai-berai, keramik terpendam, prasasti retak, dan sumber tertulis berdiri sendiri-sendiri seperti pulau tanpa jembatan. 

Untuk itu, diperlukan studi interteks. Teks yang saling menyapa dan saling menguji. Diperlukan kerja hermeneutika untuk menggali sensus plenior. Yakni makna yang lebih purna. Realitas yang bersembunyi di balik peristiwa. 

Kata para cerdik cendekia, studi itu bernama: hermeneutika.

Sejak 2013, saya menelusuri jejak burung garuda

Dari satu rujukan ke rujukan lain. Di antaranya karya Lontaan (1975) yang bagi saya penting sebagai petunjuk awal, sebagai clue yang membuka pintu. Dan suluh guna menerangi lorong waktu horizon antara the past dan the present. 

Di antara kedua gap itulah yakni jurang known dan unknown, hermes, si penafsir bekerja. Tentu saja dengan seperangkat pengetahuan, Emic. Yakni pangalaman yang menjadi bekal pendekatannya. 

Jadi menafsir teks (fakta sejarah) itu tidak asal sembarangan. Ada metode akademiknya. Di dalam proses kerja hermeneutika itu diandaikan ada vorurteil. Semakin penafsir banyak pengetahuan dan mengalami, kian tafsirannya mendekatkan gap antara known dan unknown. 

Dengan istilah yang sedikit "gagah", jika penafsir terampil, banyak tahu, dan kaya ilmu maka akan terjadi: Fusion of Horizons.

Maka saya tidak tergesa membantah teks-teks terkait burung garuda atau sebaliknya langsung mengiyakan lambang kerajaan Sintang sebelum meneliti dan memverifikasi. Nasihat dosen metodologi saya di program pascasarjana menjadi relevan di sini. Katanya: seorang ilmuwan wajib bersikap skeptis. Kepakarannya diuji bukan sekadar klaim, tetapi lewat bukti dan data, sedemikian rupa sehingga setiap argumen harus diverifikasi, runtut dan dapat dipertanggungjawabkan secara logis. Skeptisisme ilmiah memastikan kebenaran berdiri di atas fakta, bukan asumsi, atau opini semata.

Lontaan dalam pada itu, meski harus diakui karyanya kerap bercampur legenda, mitos, dan sejarah; sangat bermanfaat. Pustaka dengan jumlah halaman 602 itu telah lama menjadi acuan ketika orang berbicara tentang sejarah kerajaan dan kesultanan di Kalimantan Barat, juga adat dan adat istiadat masyarakatnya. Sebagaimana pustaka, kita wajib melakukan verifikasi. Ambil santan, buang ampasnya.

Spooning data dan informasi menandai kualitas suatu penelitian. Itu sebab sejarah selalu meminta ketelitian. Ada bagian yang belum tegas memisahkan legenda dan fakta. Bagian yang masih bercampur antara fictum dan factum. Di sinilah pepatah lama terasa relevan: ambil santannya, buang ampasnya. 

Maka saya memilih sumber yang dapat diuji dan menyingkirkan yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Saya mencari teks lain, membandingkan, menyilang, menguatkan, agar yang tersaji bukan sekadar cerita, melainkan temuan yang berdiri di atas pijakan.

Hasil penelisikan itu saya muat di media digital ini. Ia bukan kata akhir. Ia sebuah ajakan berdiskusi. Terbuka, selama berpijak pada sumber dan fakta yang terkait dengan pokok narasi. Barangkali akan bersambung hingga jenuh. 

Sejarah memang jarang selesai dalam satu tarikan napas.

Burung garuda. Lambang negara kita, Republik Indonesia. Kita mengenalnya di dinding sekolah, di ruang sidang, di lembaran uang. Tetapi dari mana ia datang? Apakah ia makhluk nyata, atau imaji yang lahir dari sintesis mitos dan politik? Siapa perancang lambang Kerajaan Sintang, yang tentu saja orang Dayak? Bagaimana Sultan Hamid II menjadikannya model bagi lambang negara? Bagaimana prosesnya, dan apa yang tersembunyi di balik proses itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pintu. Pembaca akan menemukan jawabannya dalam rangkaian tulisan di media digital ini.

Jejak awal garuda, saya kira, dapat ditarik dari lambang Kerajaan Sintang di Kalimantan Barat. Dari sana kita bergerak ke belakang, sekaligus ke depan. Sejarah adalah gerak timbal balik: mundur untuk memahami, maju untuk menafsirkan.

Kita mulai dari Sintang, menuju horizon yang lebih lampau. Latar tentang burung garuda sebagai simbol kerajaan itu termaktub dalam novel sejarah NGAYAU (2014). Fiksi, ya. Tetapi fiksi sering menyimpan gema sejarah yang tak sepenuhnya bisa diabaikan.

Berikut Bab 18 novel sejarah NGAYAU: MISTERI MANUSIA IKAT KEPALA MERAH, A NOVEL BASED ON HISTORY

18. Perangkap Majapahit

PUTRI jelita, cekat, lincah, dan sedikit picik itu Dara Juanti.

Pernah masuk perangkap ikan, membuat Dara Juanti dapat bertahan, sekaligus awas di air. Karena itu, ia mengemban misi mencari putra mahkota bernama Demong Nutup bergelar Abang Jubair yang telah lama berlayar ke tanah Jawa, sampai ketemu. Kemudian, membawanya dalam keadaan segar bugar kembali ke kerajaan Sintang.

Sudah tujuh purnama Demong Nutup tak ada berita. Kabar burung dari para prajurit yang pulang kembali ke kerajaan menyebutkan bahwa Demong Nutup tidak lama setelah berlabuh, ditawan oleh pasukan Majapahit.

Pada senja dan hari mulai gulita. Haluan sebuah kapal berbendera burung enggang, yang diimajinerkan sebagai burung garuda, lambang kerajaan Sintang masuk perairan Jawa. Merapat ke dermaga dengan bebas, kapten mengarahkan haluan kapal masuk pelabuhan. Wilayah itu dikenal sebagai Janggala, yakni sebuah pantai bagian utara pulau Jawa ketika itu.

“Coba periksa lambung kapal!” perintah Loh Gender pada para prajurit.

Lalu penyelam-penyelam andal mencebur, masuk air, memeriksa lambung kapal.

Dan benar saja! Setelah keluar dari lambung kapal, ditemukan benda aneh. Benda itu sengaja ditempel, disembunyikan di bawah lambung kapal. Benda itu adalah kura-kura emas yang disebut-sebut sebagai stempel milik Kerajaan Majapahit.

Seluruh awak kapal seketika menjadi pucat pasi melihat benda aneh itu. Tak satu pun merasa mencuri milik kerajaan Majapahit. Namun, apa mau dikata? Hendak menampik tidak melakukan, bukti berbicara. Hendak mengaku “ya”, tidak satu pun awak kapal melakukan seperti yang didakwa.

“Ayo, mengaku dan menyerahlah. Kalian kami tawan, bukti sudah bicara!” kata Loh Gender.

Kura-kura emas yang dipasang di lambung kapal ternyata adalah perangkap belaka.

Tipu muslihat prajurit-prajurit Majapahit untuk memerangkap, sekaligus menangkap semua awak kapal yang masuk wilayah kerajaan Majapahit.

Lalu seluruh awak kapal berbendera kerajaan Sintang, di bawah pimpinan Abang Jubair, sejak itu resmi jadi tawanan kerajaan Majapahit. (Masri dalam Ngayau 2014: hlmn. 311-314).

(bersambung)

0 Comments

Type above and press Enter to search.