DR-Eng (Hon) Ir. Hari Purwanto : Belajar dari Kearifan Hutan Dayak di Tengah Kompetisi Global

DR-Eng (Hon) Ir. Hari Purwanto
DR-Eng (Hon) Ir. Hari Purwanto memuji dan mengagumi kearifan lokal Dayak. Ist.

Usai Petrus Gunarso, "Jawa berhati Dayak" wawancara dengdan DAAI TV yang dimuat media ini, ada seorang anak-bangsa memberi apresiasi. Hari Purwanto, sosok yang dimaksud, mengimbuhi sekaligus menggarisbawahi sebagai salah satu sukubangsa tertua di dunia (40.000 tahun lalu), Dayak mempunyai kearifan yang patut bukan hanya diketahui, juga ditimba. 

Petrus Gunarso menyarikan pandangan Hari Purwanto, juga sosoknya, untuk Pembaca berikut ini.

Di era globalisasi, kompetisi antarbangsa tidak lagi hanya berlangsung dalam arena militer atau pertarungan ideologi. Persaingan yang paling menentukan kini terjadi dalam penguasaan sumber daya materi. 

Energi, mineral, hutan, air, dan ruang hidup menjadi komoditas strategis yang diperebutkan negara-negara di dunia.

Baca Petrus Gunarso menjadi Duta Dayak dalam Dialog Nusantara di DAAI TV

Bahan baku industri, teknologi, dan pangan menjadi kunci keberlanjutan ekonomi global. Negara yang mampu mengamankan sumber daya alamnya memiliki fondasi kuat untuk bertahan dalam kompetisi jangka panjang.

Dalam konteks itulah pemikiran seorang insinyur sekaligus birokrat teknologi Indonesia, Hari Purwanto, menjadi menarik untuk diperhatikan. Bagi Hari Purwanto, masa depan pembangunan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau investasi semata, tetapi juga oleh cara bangsa ini memandang dan mengelola sumber daya alamnya.

Menurutnya, globalisasi menuntut negara-negara untuk tidak sekadar mengekspor bahan mentah. Negara harus mampu mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pembangunan ekonomi.

Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjangnya di dunia teknik, birokrasi, dan kebijakan teknologi. Sebagai insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung yang kemudian melanjutkan pendidikan di University of London serta Imperial College London, ia memahami bagaimana teknologi dan sumber daya saling terkait dalam pembangunan nasional.

Namun dalam beberapa refleksinya tentang pembangunan Indonesia, Hari Purwanto juga menekankan satu hal yang sering luput dari diskursus modern: pentingnya kearifan lokal dalam pengelolaan alam.

Kearifan Dayak sebagai Pengetahuan Ekologis

Dalam pandangan Hari Purwanto, Indonesia sebenarnya memiliki modal intelektual yang sangat besar dalam bentuk pengetahuan tradisional masyarakat adat. Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam budaya Dayak di pulau Borneo.

Budaya Dayak tumbuh di tengah hutan tropis yang kaya sumber daya. Selama ratusan tahun masyarakat Dayak mengembangkan cara hidup yang tidak semata mengeksploitasi alam, melainkan menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian.

Berbagai aturan adat mengatur pemanfaatan hutan, pembukaan ladang, serta pemeliharaan sumber air. Ritual panen seperti Gawai Dayak mencerminkan pandangan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa mutlak atasnya.

Bagi Hari Purwanto, filosofi ini bukan sekadar warisan budaya. Ia melihatnya sebagai bentuk pengetahuan ekologis tradisional yang memiliki relevansi kuat dengan tantangan global saat ini.

Dunia modern sedang menghadapi krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin serius. Dalam kondisi tersebut, negara yang mampu menjaga ekosistemnya akan memiliki keuntungan strategis dalam jangka panjang.

Ketersediaan air bersih, stabilitas iklim lokal, ketahanan pangan, serta potensi energi hayati menjadi fondasi pembangunan ekonomi masa depan. Oleh karena itu, menurutnya, kearifan lokal seperti yang dimiliki masyarakat Dayak perlu dipahami sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.

Pandangan ini menunjukkan bahwa pembangunan modern tidak harus memutus hubungan dengan tradisi. Sebaliknya, ilmu pengetahuan modern justru dapat diperkaya oleh pengalaman panjang masyarakat dalam mengelola lingkungan hidupnya.

Inspirasi Lintas Budaya dalam Sejarah Indonesia

Pemikiran tentang pentingnya kearifan lokal sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah Indonesia. Sejumlah tokoh nasional telah menunjukkan bagaimana identitas budaya daerah dapat menjadi sumber inspirasi bagi gagasan nasional.

Salah satu contoh yang sering disebut adalah tokoh Kalimantan, Tjilik Riwut. Ia dikenal sebagai figur yang mampu memadukan identitas Dayak dengan visi nasionalisme Indonesia.

Dalam perjalanan sejarah bangsa, tokoh seperti Tjilik Riwut memperlihatkan bahwa budaya lokal bukan penghalang bagi integrasi nasional. Justru dari akar budaya itulah lahir semangat keberanian, solidaritas, dan komitmen terhadap masa depan bangsa.

Fenomena serupa juga terlihat dalam dunia intelektual kontemporer. Sejumlah ilmuwan dan pemikir dari latar belakang budaya berbeda mulai melihat nilai-nilai budaya Dayak sebagai sumber inspirasi bagi gagasan pembangunan berkelanjutan.

Salah satu figur yang sering disebut dalam diskursus ini adalah ahli kehutanan Petrus Gunarso. Meski berasal dari latar belakang budaya Jawa, ia dikenal luas karena pemikirannya tentang pengelolaan hutan tropis yang berkelanjutan.

Yang diadopsi bukan identitas etnis, melainkan filosofi hubungan manusia dengan alam, kekuatan komunitas, serta keberanian hidup di wilayah frontier yang penuh tantangan.

Bagi Hari Purwanto, fenomena seperti ini menunjukkan bahwa pertukaran gagasan antarbudaya merupakan kekuatan penting bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia.

Budaya lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi inovasi teknologi, kebijakan pembangunan, hingga desain kota yang lebih ramah lingkungan.

Jejak Karier dan Kontribusi Intelektual

Pandangan luas Hari Purwanto tentang pembangunan tidak lepas dari perjalanan kariernya yang panjang di dunia teknik, birokrasi, dan pendidikan tinggi.

Lahir di Salatiga pada 20 Juni 1959, ia menempuh pendidikan teknik sipil di Institut Teknologi Bandung sebelum melanjutkan studi ke Inggris dan meraih gelar Master of Science di University of London. Ia juga memperoleh Diploma of Imperial College dari Imperial College London dalam bidang desain struktur baja.

Pada 2018, ia dianugerahi gelar Doctor of Engineering (Honoris Causa) dari National Chin-Yi University of Technology di Taiwan atas kontribusinya dalam bidang rekayasa dan pembangunan teknologi.

Dalam karier pemerintahan, Hari Purwanto pernah menjabat Sekretaris Jenderal di Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia pada periode 2013–2015. Ia juga menjadi penasihat senior menteri dalam bidang teknologi pertahanan dan keamanan serta infrastruktur riset nasional.

Di luar birokrasi, ia aktif dalam dunia rekayasa konstruksi dan pengembangan kebijakan teknologi. Ia dikenal sebagai pakar manajemen kontrak konstruksi serta pengadaan pemerintah, dan terlibat dalam berbagai lembaga profesional seperti Dewan Sengketa Konstruksi Indonesia.

Karier akademiknya juga cukup panjang. Ia menjadi dosen manajemen konstruksi di Politeknik Negeri Jakarta serta terlibat dalam berbagai program kolaborasi akademik antara Indonesia dan negara lain.

Pengalaman panjang tersebut membuat Hari Purwanto melihat pembangunan dari perspektif yang lebih luas. Bagi dirinya, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang lingkungan dan budaya.

Indonesia, menurutnya, memiliki peluang besar untuk mengembangkan model pembangunan yang khas. Model tersebut bukan hanya mengandalkan teknologi modern, tetapi juga memanfaatkan pengetahuan lokal yang telah teruji oleh waktu.

Dalam kompetisi global yang semakin ketat, bangsa yang mampu memadukan ilmu pengetahuan modern dengan kearifan budaya akan memiliki keunggulan yang sulit ditandingi.

Dan di tengah hutan-hutan Borneo, pelajaran tentang keseimbangan antara manusia dan alam sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Dayak. (PG)

0 Comments

Type above and press Enter to search.