Petrus Gunarso menjadi Duta Dayak dalam Dialog Nusantara di DAAI TV

Petrus Gunarso (kanan pembaca), “Jawa Berhati Dayak” menjadi duta Dayak
Petrus Gunarso (kanan pembaca), “Jawa Berhati Dayak” menjadi duta Dayak yang mengundang untuk membaca ulang Peradaban Dayak dari Hutan Borneo.

Dialog di DAAI TV mengungkap kedalaman budaya, hukum adat, dan kearifan ekologis masyarakat Dayak

Gunarso Duta Dayak dari Studio Televisi ke Hutan Borneo

Pakar kehutanan sekaligus seorang konservatoris Petrus Gunarso yang oleh salah satu tokoh literasi Dayak, Masri Sareb Putra, dijuluki “Jawa Berhati Dayak” menjadi narasumber dalam program Podcast Nusantara di DAAI TV. 

Dalam perbincangan yang dipandu oleh Arto Krisbiantoro (putra seniman dan artis ternama Indonesia, Krisbiantoro) itu. Gunarso memaparkan refleksi mendalam tentang identitas, sejarah, dan tantangan masyarakat Dayak di era modern.

Baca Unpacking the Labeling of the Dayak in the Past

Dialog tersebut tidak hanya menjadi percakapan akademik. Tetapi juga membuka kembali diskusi publik tentang posisi masyarakat Dayak sebagai salah satu peradaban tua di Pulau Borneo.

Seperti diketahui. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan etnis dan kebudayaan yang sangat luas. 

Di antara ratusan kelompok etnis tersebut, masyarakat Dayak menempati posisi penting karena sejarah panjang, sistem adat yang kuat, serta pengetahuan ekologis yang berkembang selama ribuan tahun.

Istilah “Dayak” sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Dalam arsip kolonial Belanda, istilah “Dajak” pertama kali muncul dalam laporan seorang pejabat kolonial bernama Hogendorp sekitar pada 1757 di Banjarmasin.

Dalam diskusi tersebut, Gunarso menjelaskan bahwa masyarakat Dayak bukan semata-mata komunitas pedalaman sebagaimana sering digambarkan dalam narasi lama. Namun, juga memaparkan ihwal peradaban dengan sistem kosmologi, hukum adat, dan nilai sosial yang matang.

Penelitian arkeologi bahkan menunjukkan bahwa manusia telah hidup di wilayah Borneo sejak puluhan ribu tahun lalu. 

Baca Gua Niah: Perjalanan Bertemu Leluhur Dayak bukan Sekadar Meneliti

Temuan arkeologis dengan kajian ilmiah dan hasil uji karbon di Amerika di Gua Niah, Sarawak, mengindikasikan keberadaan manusia sekitar 40 ribu tahun silam. 

Temuan di situs Gua Niahini diperkuat oleh uji karbon yang dilakukan oleh Museum Sarawak bekerja sama dengan laboratorium penelitian di Inggris dan Amerika.

Dengan latar sejarah yang panjang tersebut, masyarakat Dayak berkembang sebagai komunitas. Yang beradaptasi dan mengadopsi nilai baik dengan sistem sosial yang kompleks dan hubungan spiritual yang kuat dengan alam.

Baca Dayak Bukan Berasal dari Yunnan tapi dari Gua Niah: Ini Bukti Ilmiah Uji-karbon 40.000 Tahun Silam

Hal yang patut dipuji dari Gunarso, ia melakukan verifikasi konten dan data sebelum tampil menjadi narasumber. Sebagai ilmuwan, ia menyadari bahwa data yang salah berpotensi menyesatkan. Untuk itu, Gunarso meminta pakar Dayak memeriksa script naskahnya sebelum wawancara.

Identitas Dayak: Dari Label Kolonial menjadi Kebanggaan Kolektif

Istilah “Dayak” sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Dalam arsip kolonial Belanda, istilah “Dajak” pertama kali muncul dalam laporan seorang pejabat kolonial bernama Hogendorp sekitar tahun 1757 di Banjarmasin.

Pada masa itu, istilah tersebut digunakan sebagai kategori administratif untuk menyebut masyarakat pedalaman Borneo, sebagai pembeda dari masyarakat pesisir yang telah berinteraksi dengan jaringan perdagangan Melayu dan Islam.

Berbagai variasi penulisan kemudian muncul dalam literatur kolonial, seperti “Daya”, “Dajak”, atau “Dyak”.

Namun seiring perkembangan sosial dan politik abad ke-20, istilah tersebut mengalami transformasi penting. Ia tidak lagi sekadar label dari luar, tetapi menjadi identitas kolektif yang diadopsi oleh masyarakat Dayak sendiri.

Baca Dayak Menjadi Tuan di Tanah Sendiri

Pada tahun 1992, sebuah seminar internasional di Pontianak menetapkan penggunaan ejaan baku “Dayak” dalam konteks akademik dan administratif. Keputusan ini menandai perubahan penting: istilah yang dahulu lahir dari klasifikasi kolonial kini menjadi simbol kebanggaan identitas.

Masyarakat Dayak sendiri sebenarnya sangat beragam. Mereka terdiri dari ratusan sub-suku yang secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam beberapa rumpun besar seperti Kenyah, Kayan, Bahau, Uud Danum, Ngaju, Iban, Murut (Lundayeh Idi Lun Bawang), Bidayuh, Kanayatn, dan Punan.

Bahasa sub-etnik Dayak yang terdiri dari 405 (Lontaan, 1975) sangat beragam. Sebagian besar masih bersifat lisan. Namun yang menyatukan mereka bukan kesamaan bahasa, melainkan sistem nilai bersama.

Kosmologi Dayak menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa atas alam.

Hukum Adat dan Ekologi Spiritual

Dalam pengalamannya bekerja bertahun-tahun di Kalimantan, Gunarso menyaksikan secara langsung bagaimana hukum adat Dayak bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh yang sering ia sebut adalah praktik pengelolaan hutan adat di Desa Setulang, Malinau.

Di desa tersebut terdapat kawasan hutan yang disebut Tane’ Olen, yaitu hutan larangan yang tidak boleh dieksploitasi secara sembarangan.

Hutan tersebut dijaga oleh struktur kepemimpinan adat yang meliputi Damang Kepala Adat, Mantir Adat, Temenggung, serta pemimpin rumah betang.

Baca Rumah Panjang Dayak di Sarawak yang Berpenghuni dan Modern

Menariknya, hukum adat di masyarakat Dayak tidak bersifat represif seperti banyak sistem hukum modern. Pendekatannya lebih menekankan pemulihan keseimbangan sosial.

Konflik biasanya diselesaikan melalui musyawarah adat. Sanksi yang diberikan dapat berupa denda simbolik seperti gong, belanga, atau sejumlah uang, dengan tujuan memulihkan harmoni dalam komunitas.

Pendekatan ini terbukti efektif. Desa Setulang bahkan pernah menerima penghargaan Kalpataru karena keberhasilannya menjaga hutan adat secara konsisten.

Menurut Gunarso, cara pandang masyarakat Dayak terhadap alam sangat berbeda dari paradigma pembangunan modern.

Jika konservasi modern sering melihat hutan sebagai sumber ekonomi, masyarakat Dayak memandangnya sebagai ruang kehidupan sekaligus ruang sakral.

Ia menyebut pendekatan ini sebagai ekologi spiritual.

Dalam pandangan masyarakat Dayak, menjaga hutan berarti menghormati leluhur sekaligus menjaga masa depan generasi berikutnya.

Warisan Budaya dan Tantangan Generasi Muda

Selain sistem adat yang kuat, masyarakat Dayak juga memiliki warisan budaya yang sangat kaya.

Salah satu simbol paling terkenal adalah rumah betang atau rumah panjang. Bangunan ini bisa mencapai panjang lebih dari 100 meter dan dihuni oleh banyak keluarga sekaligus.

Rumah betang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi simbol kolektivitas masyarakat Dayak. Struktur ruangnya mencerminkan filosofi hidup komunal: ada ruang musyawarah, bilik keluarga, dapur bersama, serta ruang terbuka untuk kegiatan sosial.

Dalam kondisi pedalaman yang keras, kehidupan komunal menjadi strategi bertahan hidup.

Warisan budaya lainnya adalah tato Dayak yang menyimpan makna mendalam. Setiap motif memiliki filosofi tertentu.

Motif bunga terong, misalnya, melambangkan perjalanan hidup dan pengetahuan kosmologis. Motif burung enggang sering dikaitkan dengan status sosial yang tinggi.

Proses pembuatan tato juga melibatkan ritual dan pantangan tertentu, sehingga tato berfungsi sebagai arsip perjalanan hidup seseorang.

Selain itu terdapat pula simbol budaya lain seperti telinga panjang dan senjata tradisional mandau yang melambangkan kehormatan dan identitas.

Baca Dayak sebagai Indigenous People of Borneo Telah Final

Namun di tengah arus globalisasi, masyarakat Dayak menghadapi tantangan baru.

Menurut pemaparan Gunarso, tantangan terbesar bukanlah modernitas itu sendiri, melainkan hilangnya kebanggaan identitas di kalangan generasi muda.

Karena itu berbagai inisiatif literasi budaya kini digalakkan, salah satunya melalui Lembaga Literasi Dayak yang diprakarsai oleh Masri Sareb Putra.

Lembaga Literasi Dayak sebagai Penerbit bekerja sama kemitraan dengan Percetakan PT Gramedia di mana  Gunarso salah satu direktur,  sejak 2015 mengantongi 362 ISBN. Lembaga ini mendorong dokumentasi sejarah, penerbitan buku, serta digitalisasi pengetahuan lokal agar warisan budaya Dayak dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Teknologi digital justru dipandang sebagai peluang baru untuk memperluas literasi budaya.

Melalui buku, diskusi, musik etnik kontemporer, hingga platform digital, generasi muda Dayak diajak untuk kembali mengenal identitas mereka. Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam dialog tersebut, budaya tidak boleh berhenti sebagai artefak masa lalu.

Budaya harus terus hidup, berkembang, dan menjadi energi bagi masa depan masyarakat Dayak. Penduduk asli Borneo dengan populasi hari ini tidak kurang dari bilangan 7,8 juta jiwa menurut hasil penelitian Masri Sareb Putra.

Penulis: Rangkaya Bada

0 Comments

Type above and press Enter to search.