Bukit Cornelis di Ngabang: Identitas Dayak Kembali ke Ruang Publik
| Bukit Cornelis di Ngabang, Kabupaten Landak, Kalbar menunjukkan perubahan penting dalam cara orang Dayak memaknai ruang hidup. Dokpri. |
Bukit Cornelis di Ngabang, Landak, menjadi contoh penggunaan nama tokoh Dayak untuk ruang publik, sekaligus memperkuat identitas, budaya, dan kemajuan masyarakat Dayak di Borneo.Bukit Cornelis di Ngabang, Kabupaten Landak, menunjukkan perubahan penting dalam cara orang Dayak memaknai ruang hidup.
Baca Cornelis Sounds the Alarm: Protect West Kalimantan’s Credit Union Movement
Nama Bukit Cornelis merujuk pada Cornelis, tokoh Dayak yang pernah menjabat sebagai Bupati Landak (2001-2008 ), Gubernur Kalimantan Barat dua periode (2008-2018), dan anggota DPR RI dari Dapil Kalbar I.
Tak syak lagi bahwa menjadi simbol bahwa orang Dayak hadir sebagai penentu arah, bukan lagi sekadar penonton dalam pembangunan.
Dari Warisan Kolonial ke Nama Dayak
Pada masa kolonial, banyak nama jalan, wilayah, dan bentang alam di Borneo menggunakan nama asing. Penamaan tersebut mencerminkan kekuasaan sekaligus membentuk cara orang memandang ruang.
Baca Dr. (H.C.) Cornelis, M.H. Fokus Bahas Anggaran sebagai Anggota Komisi XII dari Dapil Kalimantan Barat I
Saat ini, penggunaan nama Dayak mulai muncul kembali. Bukit Cornelis menjadi contoh bagaimana nama lokal digunakan untuk menegaskan identitas. Langkah ini penting karena nama bukan sekadar label, tetapi juga penanda sejarah dan kebanggaan.
Bukit Cornelis sebagai Ruang Hidup Dayak
Bukit Cornelis bukan hanya kawasan perumahan. Bukit Cornelis adalah ruang hidup yang dihuni berbagai lapisan masyarakat Dayak.
Di kawasan ini terdapat:
- Orang Dayak tua yang menjaga pengetahuan adat
- Generasi muda yang berpendidikan dan aktif
- Perempuan Dayak yang percaya diri dan berperan di ruang publik
- Keluarga Dayak yang mapan secara ekonomi
Kehadiran kelompok-kelompok ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak terus berkembang tanpa kehilangan akar budaya.
Simbol Kemajuan dan Kebanggaan
Penamaan Bukit Cornelis mencerminkan perubahan posisi orang Dayak. Orang Dayak tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang menentukan arah.
Baca Cornelis Desak ESDM Prioritaskan Pemulihan Energi di Wilayah Terkena Bencana
Nama tokoh Dayak di ruang publik juga membangun ingatan kolektif. Generasi muda dapat mengenal sejarah dan tokoh dari lingkungannya sendiri. Hal ini memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan terhadap identitas Dayak.
Contoh Nyata untuk Wilayah Lain di Borneo
Apa yang terjadi di Ngabang dapat menjadi model bagi daerah lain. Penamaan jalan, kawasan, dan fasilitas publik dengan nama Dayak dapat dilakukan secara luas.
Langkah ini dapat:
- Menguatkan identitas lokal
- Mengangkat tokoh Dayak
- Menjaga warisan budaya dalam kehidupan sehari-hari
Bukit Cornelis membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu memberi nama pada ruang sendiri.
Bukti bahwa orang Dayak mampu menjadi tuan di tanah sendiri
Bukit Cornelis di Ngabang menjadi bukti bahwa orang Dayak mampu menjadi tuan di tanah sendiri. Identitas, budaya, dan kemajuan berjalan bersama dalam satu ruang yang nyata.
0 Comments