Catatan Seorang Misionaris van Hulten dengan Wajah Baru
Wajah Baru buku Catatan Seorang Misionaris van Hulten. Ist.
Jejak Herman Josef van Hulten di Borneo dalam karya Leven met de Daya’s mengungkap misi cura animarum, perjumpaan budaya dengan Dayak, serta transformasi catatan misionaris menjadi pengetahuan penting yang pertama kali diterbitkan PT Grasindo tahun 1990 melalui perantaraan Masri Sareb Putra.
Misionaris sejati
van Hulten meninggalkan Belanda. Ia menuju Borneo. Perjalanan bukan seminggu dua, melainkan berbulan-bulan. Naik kapal laut yang sarat tantangan dan gelombang. Berkanjang dalam Misi menuju Borneo, sebuah ruang yang pada awal abad ke-20 masih dipandang sebagai terra incognita. Tanah yang belum dikenali sepenuhnya oleh peta kolonial. Tanah yang dalam imajinasi Eropa sering ditempatkan sebagai pinggiran dunia.
Baca Iban Dream dan Persemakmuran Koperasi: Sebuah Proposal Jelang Iban Summit III di Sekadau 13-16 Mei 2026
Mengapa seorang imam meninggalkan dunia yang mapan? Lalu masuk ke dunia yang asing. Tidak stabil secara infrastruktur. Tidak mudah secara komunikasi. Tidak pasti secara budaya.
Jawabannya berada dalam satu istilah klasik teologi Katolik. cura animarum. Pemeliharaan jiwa-jiwa. Sebuah keyakinan bahwa setiap manusia memiliki nilai kekal. Dan karena itu harus dijangkau. Harus dilayani. Harus diselamatkan dalam horizon iman.
Dari sini gerakan misi bergerak. Pelan. Panjang. Dan tidak selalu mudah. Para misionaris dari Belanda mulai masuk ke Borneo Barat. Singkawang menjadi salah satu pintu awal perjumpaan itu. Mereka datang bukan hanya dengan iman. Tetapi juga dengan bahasa. struktur gereja. dan cara pandang dunia yang berbeda.
Herman Josef van Hulten bukan generasi pertama. Ia bukan pionir awal. Ia datang sebagai bagian dari gelombang lanjutan. Kloter kedua. Bahkan ketiga. Dalam sejarah panjang misi Katolik di Borneo.
Ia tidak datang untuk sekadar singgah. Ia datang untuk tinggal. Untuk memahami. Dan untuk hidup di dalam dunia yang ia datangi.
Cura animarum
Konsep cura animarum menjadi fondasi spiritual perjalanan Herman Josef van Hulten di Borneo. Dalam bahasa gerejawi. ia berarti merawat jiwa. Dalam praktik misi. ia berarti membawa keselamatan. Namun dalam realitas sejarah. konsep ini selalu berada dalam ruang yang kompleks.Buku dengan wajah lama, asli edisi Indonesia. Ist.
Pada awal abad-abad misi di Borneo. banyak komunitas lokal diberi label “pagan”. Sebuah istilah yang lahir dari horizon Eropa abad pertengahan dan kolonial. Istilah ini menyederhanakan realitas budaya yang jauh lebih kaya. Lebih dalam. Dan lebih tua dari kedatangan Eropa itu sendiri.
Namun sejarah tidak berhenti pada label. Sejarah bergerak menuju pemahaman. Menuju kritik. Dan menuju rekonstruksi pengetahuan.
Baca The 1st Dayak Book Fair 15–16 Mei 2026 di Sekadau : Pameran Buku Etnik Pertama di Indonesia
Di sinilah peran Herman Josef van Hulten menjadi menarik. Ia tidak hanya membawa doktrin. Ia juga memasuki ruang kehidupan yang nyata. Ia melihat masyarakat Dayak bukan sebagai objek misi semata. Tetapi sebagai manusia yang hidup dalam sistem nilai sendiri. Dalam relasi dengan alam. sungai. hutan. dan leluhur.
Ia belajar. Ia mencatat. Ia tinggal. Ia menyatu dalam ritme kehidupan yang tidak bisa dipahami dari luar.
Dalam proses itu. misi tidak lagi hanya satu arah. Ia menjadi perjumpaan. Kadang harmonis. Kadang tegang. Tetapi selalu menghasilkan pengetahuan baru tentang manusia.
Hidup Bersama Orang Dayak. Dari Pengalaman Menjadi Catatan Sejarah
Tahun 1938 menjadi titik penting dalam perjalanan Herman Josef van Hulten. Ia meninggalkan Belanda dengan kapal Sibayak. Singgah di Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Ibu kota Borneo Barat pada masa itu.
Dari titik itu. hidupnya berubah total. Ia tidak lagi menjadi pengamat luar. Ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak. Ia hidup bersama mereka. Ia berbagi ruang. Ia berbagi waktu. Ia berbagi pengalaman.
Ia menyaksikan kehidupan sehari-hari. Ia memahami adat. Ia menyentuh ritus. Ia melihat bagaimana kehidupan spiritual dan sosial menyatu tanpa batas tegas seperti dalam dunia modern Barat.
Pengalaman panjang itu kemudian tidak hilang. Ia menuliskannya. Dalam sebuah karya besar berjudul Leven met de Daya’s. Buku ini aslinya dalam bahasa Belanda. Terbit dalam 2 jilid. Dan menjadi salah satu catatan etnografis paling penting tentang kehidupan Dayak dari perspektif seorang misionaris yang tinggal langsung di tengah masyarakat.
Baca Jaya Ramba: Penulis Prolifik dari Malaysia yang Menaikkan Harkat dan Marabat Dayak ke Aras antar-bangsa
Karya ini tidak lahir sebagai teori. Ia lahir sebagai kehidupan yang ditulis. Sebagai ingatan yang dibakukan. Sebagai pengalaman yang diubah menjadi teks.
Di dalamnya terdapat catatan harian. observasi lapangan. refleksi spiritual. dan catatan sosial budaya. Semua itu menyatu menjadi mosaik kehidupan Dayak pada masa itu.
Dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Dari Arsip ke Pengetahuan Publik
Karya Herman Josef van Hulten kemudian mengalami perjalanan kedua. Ia tidak berhenti di Eropa. Ia bergerak ke Indonesia.
Pada tahun 1990. buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Grasindo melalui perantaraan Masri Sareb Putra. Edisi ini diberi judul Hidupku di Antara Suku Dayak. Sebuah judul yang lebih dekat dengan pengalaman hidup di lapangan.
Perubahan bahasa ini bukan sekadar penerjemahan teknis. Ia adalah transformasi pengetahuan. Dari dokumen Belanda menjadi bacaan Indonesia. Dari catatan misionaris menjadi sumber sejarah dan antropologi lokal.
Di titik ini. karya tersebut keluar dari ruang arsip Gereja. Ia masuk ke ruang publik. Ia dibaca oleh akademisi. peneliti. dan masyarakat luas yang ingin memahami sejarah sosial Borneo.
Kekuatan buku ini terletak pada bentuknya yang langsung. Ia tidak terlalu teoritis. Ia tidak terlalu abstrak. Ia hadir sebagai catatan hidup. Yang jujur. yang detail. dan yang dekat dengan realitas lapangan.
Karena itu ia menjadi sumber penting bagi studi sejarah Gereja. antropologi Dayak. dan dinamika sosial Borneo Barat.
Warisan Pengetahuan dan Kebangkitan Intelektual Borneo
Hari ini karya Herman Josef van Hulten tidak lagi hanya dibaca sebagai catatan masa lalu. Ia telah menjadi bagian dari kebangkitan intelektual Borneo. Ia masuk dalam rencana 50 buku ber-ISBN yang akan diluncurkan dalam forum Hari Studi dan peresmian kampus baru Institut Teknologi Keling Kumang di Sekadau.
Baca The 1st Dayak Book Fair 15–16 Mei 2026 di Sekadau : Pameran Buku Etnik Pertama di Indonesia
Dalam konteks ini. buku tidak lagi hanya menjadi arsip. Ia menjadi alat produksi pengetahuan. Ia menjadi jembatan antara pengalaman lokal dan dunia akademik. Ia menjadi ruang dialog antara sejarah. budaya. dan masa depan.
Dengan demikian. jejak Hermantidak berhenti pada masa misi. Ia bergerak menjadi bagian dari memori kolektif Borneo. Yang terus ditulis ulang. dibaca ulang. dan dimaknai kembali oleh generasi baru.
Di situlah sejarah menemukan bentuknya yang paling hidup. Tidak beku. Tidak selesai. Tetapi terus bergerak dalam kesadaran manusia yang membaca dirinya sendiri melalui masa lalu.
Harga buku: a rp 100.000.
Penulis | Rangkaya Bada
0 Comments