Healing Forest: Hutan yang Menyembuhkan
| Gao Xingjian dan misteri hutan Sichuan yang menyembuhkannya dari kanker. Ist. |
Di Sanggau, Sekadau, Sintang, dan Kapuas Hulu, lanskap itu belum sepenuhnya tunduk pada derap mesin dan hitung-hitungan pasar.
Hutan aset yang nirbatas valuasinya
Hutan berdiri bukan hanya sebatas latar, namun ujud ingatan yang terus berdenyut.
Hutan memelihara jejak. Hutan menyimpan suara yang tak selalu terdengar, namun terasa dalam keseharian yang sederhana.
Di Krayan, Kalimantan Utara. Juga di Kalimantan Barat. Pun di sebagian Kalimantan Selatan dan serpih kecil Kalimantan Tengah, gunung-gunung masih memanggul sunyi yang utuh. Sunyi yang tidak tergesa untuk diterjemahkan. Kita menyebutnya asri, tetapi kata itu kerap terlalu sempit. Ada kelimpahan yang tidak mudah diringkas dalam satu istilah.
Jika hendak dihitung, nilainya segera melampaui angka. Ekonomi hanya menyentuh permukaan, seperti jari yang ragu menyibak air yang dalam. Sebab hutan bukan sekadar kayu atau tanah yang dapat diperjualbelikan. Ia adalah ruang hidup, tempat relasi dirawat tanpa banyak kata.
Kemanfaatannya tidak berhenti pada satu masa. Ia berlapis, berulang, dan kerap bekerja dalam diam. Dari sana ia menjadi nirbatas, bukan karena tak bisa dihitung, melainkan karena tak sepenuhnya patut ditakar.
Valuasi hutan adat
Masiun dan Vermy (2022) menghitung bahwa nilai hutan adat bukan hanya cukup menghidupi 7 keturunan, melainkan 7 x 77 keturunan.
Baca Karya Penulis Dayak Raih Penghargaan Ketahanan Pangan
Di Cina, dikenal istilah "Lingshan". Gunung kehidupan. Bukan gunung seribu janji.
Lingshan, sebuah istilah yang mencoba menggambarkan bahwa dalam perjalanan hidup yang panjang. Ada kemungkinan yang tampak mustahil bagi manusia, namun sangat mungkin bagi Tuhan.
Gao Xingjian dan misteri hutan Sichuan
Gao Xingjian seorang penderita yang divonis mati oleh dokter. Ia menemukan penyembuhan melalui menulis dan hidup di hutan alami. Mungkin juga karena pengaruh suasana alam pegunungan, atau mungkin keduanya berperan.Lingshan, dalam aksara Cina, mengacu pada Gunung Jiwa. Realitas ini sering sulit dipahami dan menjadi objek pencarian bagi siapa pun, tetapi rahasianya tidak pernah sepenuhnya terungkap, sementara perjalanannya kaya, aneh, provokatif, dan bermanfaat.
Gao Xingjian seorang penderita yang divonis mati oleh dokter. Ia menemukan penyembuhan melalui menulis dan hidup di hutan alami.
Baca Iban Dream: 1 Cerpen/ Hari dalam Setahun sebagai Ujud Tingginya Adversity Quotient Sang Pengarang
Gao Xingjian mengalami pengalaman tersebut. Pada tahun 1983, dia divonis mati oleh dokter karena kanker paru-paru. Namun, enam minggu kemudian, Gao sembuh secara total.
Dia mencoba bertahan dan menemukan arti hidup dengan berjalan kaki sejauh 15.000 kilometer ke gunung terpencil dan hutan belantara Sichuan.
Di hutan perawan belantara itu, Xingjian menemukan kecerahan batin. Dia menulis dengan penuh semangat, menuangkan seluruh isi jiwanya dalam karya-karyanya. Pada tahun 2000, karyanya diakui oleh Nobel Sastra.
Baca Menafsir Letak Tembawang Labai Lawai
Pertanyaan muncul: Apakah kesembuhan Gao Xingjian karena dia menumpahkan semua racun dalam tubuhnya melalui menulis? Ataukah karena pengaruh suasana alam pegunungan?
Dalam hidup ini, ada rahasia semesta yang tidak bisa manusia ungkapkan dengan akal lurus. Gao Xingjian seorang penderita yang divonis mati oleh dokter. Ia menemukan penyembuhan melalui menulis dan hidup di hutan alami.
Mungkin juga "gunung kedamaian" berperan. Di sana bertemu antara kepasrahan, menyerahkan segalanya pada Tuhan, kembali ke alam, dan suasana udara dan hawa segar berlum tercemar polusi.
Hutan yang menyembuhkan
Secara ilmiah, pernah dilakukan uji-coba bagaimana kombinasi Lingshan, "gunung misteri" bekerja. Salah satunya dikenal sebagai Healing Forest yaitu Hutan yang Menyembuhkan. Teori dan praktiknya didasarkan pada dasar ilmiah yang nyata.
Baca AI dan Natural Intelligence: Bukan Pertentangan, Melainkan Kolaborasi
Hikmat Ramdan, seorang peneliti, mengembangkan konsep Healing Forest selama bertahun-tahun. Ramdan Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung dan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Angkatan 1990.
Pada 27 Oktober 2019. Saat acara Forest Camp para alumni Fakultas Kehutanan IPB di Gunung Walat, Sukabumi, Jawa Barat, Hikmat Ramdan menguji alat penyembuhan hutan tersebut.
Dengan aplikasi Smart Pulse, kondisi stres fisik dan mental enam relawan diuji sebelum dan setelah berjalan di hutan. Hasilnya sungguh menakjubkan!
Maka tetap jaga hutan kita lestari!
Ternyata, suasana alam hutan dengan habitatnya yang alami memiliki kemampuan penyembuhan yang luar biasa bagi tubuh dan pikiran. *)
Penulis adalah seorang bibliofili, peneliti, penulis, dan pecinta alam.
0 Comments