Jaya Ramba: Penulis Prolifik dari Malaysia yang Menaikkan Harkat dan Marabat Dayak ke Aras antar-bangsa

Jaya Ramba, penulis Iban produktif dari Sarawak
Jaya Ramba, penulis Iban produktif pada ketika ini. Dokpri.

Jaya Ramba, penulis Iban produktif dari Sarawak, dengan lebih dari 50 karya lintas genre yang memperkuat literasi dan budaya Dayak pada aras regional dan internasional.
Pada Kongres Literasi Internasional I & the 1st Dayak Book Fair 15-16 Mei 2026 di Sekadau, Kalimantan Barat. Jaya Ramba akan menjadi salah satu narasumber utama membawakan topik menarik "Literasi Dayak di Malaysia sebagai Role Model bagi Literasi Dayak di Indonesia".

Di Borneo, pulau terbesar ke-3 dunia, lahir seorang penulis yang tidak sekadar menulis, tetapi merawat ingatan kolektif bangsanya. Jaya Ramba, pengarang berbangsa Iban, berasal dari Tinjar, Baram. 
Baca The Headhunters of Borneo by Carl Bock Through Colonial Eyes: Misreading the Dayak World

Jaya Ramba contoh hidup bagaimana literasi menjadi jalan panjang untuk menghidupkan identitas, sekaligus menjembatani masa lalu dan masa depan.

Jejak pendidikan dan karier profesional

Perjalanan intelektual Jaya Ramba dimulai dari pendidikan dasar di SK Long Teru, Tinjar Baram. Ia kemudian melanjutkan ke SMK Marudi Baram hingga Tingkatan 5, sebelum menyelesaikan Tingkatan 6 di SMK Lutong, Miri.

Selepas meraih gelar Sarjana Muda Pengurusan dan Pentadbiran dengan kepujian, ia memulai karier di industri energi bersama Petronas Carigali di Miri, Sarawak.

Kini, ia mengabdi sebagai Eksekutif di Lembaga Air Kawasan Utara Sarawak, khususnya pada bidang Sumber Daya Manusia. Jalur profesional ini menunjukkan bahwa seorang penulis tidak hidup di menara gading, melainkan hadir di tengah dinamika masyarakat modern.

Pengarang produktif dan prolifik

Dalam dunia kepenulisan, Jaya Ramba bukan nama biasa. Ia telah menghasilkan lebih dari 50 buku, terdiri dari lebih dari 30 karya tunggal dan sekitar 20 antologi bersama.

Genre yang digarapnya luas, mulai dari novel, cerpen, puisi, cerita rakyat, esai, hingga skrip drama. Yang menarik, ia tidak hanya menulis dalam bahasa Malaysia, tetapi juga menghadirkan enam novel dalam bahasa Iban, sebuah kontribusi penting dalam menjaga bahasa ibu tetap hidup.
Baca Sam Walton | Biografi Unik Nirgambar

Karya-karyanya telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat negeri maupun nasional. Di sini, kita melihat bahwa literasi bukan sekadar produksi teks, tetapi juga tindakan kebudayaan.

Peran sosial dan organisasi

Jaya Ramba aktif dalam berbagai organisasi sosial dan literasi. Ia menjadi penasihat Persatuan Dayak Tatau, serta penaung Kelab Ukiran dan Kenarau Sarawak dan Perpustakaan Awam Miri.

Sejak tahun 2000, ia menjabat sebagai Setiausaha Persatuan Penulis Utara Sarawak. Ia juga terlibat dalam Gabungan Penulis Nasional Malaysia serta Persatuan Penulis Iban Sarawak.

Lebih dari itu, ia sering hadir sebagai pembicara motivasi dan fasilitator workshop penulisan di sekolah, universitas, dan forum budaya di Asia Tenggara. Di titik ini, Jaya Ramba memperlihatkan bahwa seorang penulis juga adalah pendidik dan penggerak.

Dari sastra ke politik

Langkahnya tidak berhenti di dunia literasi. Jaya Ramba juga terlibat dalam ranah politik, pernah menjabat sebagai Ketua Penerangan Pemuda Parti Demokratik Progresif Sarawak, dan kini aktif dalam partai GPS.

Keterlibatan ini menunjukkan satu hal penting: bahwa kebudayaan dan politik tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mengisi dalam membentuk arah masa depan masyarakat.

Menjembatani Indonesia dan Malaysia

Sebagai penulis lintas batas, Jaya Ramba kerap hadir di Indonesia. Pada tahun 2019, ia tampil sebagai pembahas dalam diskusi buku tentang Agama Bahai di Ruai TV bersama Kristianus Atok dan Masri Sareb Putra.
Baca Buku dan Pengaruhnya

Jaya Ramba juga aktif dalam berbagai forum sastra, pembacaan puisi, dan pertemuan literasi di Indonesia. Kehadirannya membuka ruang dialog budaya antarbangsa, mempertemukan gagasan, serta memperkaya belarasa di antara komunitas sastra serumpun.

Literasi sebagai jalan peradaban

Jaya Ramba adalah gambaran bahwa seorang penulis tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun peradaban. Dari Tinjar Baram ke panggung internasional, ia menulis dengan kesadaran akan akar dan arah.
Baca Filsafat Dayak dan Cara Memahami Borneo "dari Dalam Kedalaman Terdalam"

Di tengah perubahan zaman, sosok seperti Jaya Ramba mengingatkan bahwa bahasa, budaya, dan literasi adalah fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Dari sanalah sebuah bangsa berdiri tegak dan bermartabat.

PenulisMasri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.