Yel-Yel Literasi Dayak: Simbol Energi Kolektif
| Burung enggang (horn bill) terbang tinggi mengepakkan sayap buku: books give wings sebagai ikon KLD & the 1st Dayak Book Faair, Sekadau, 2026. ist. |
Petang itu, 28 April 2026, percakapan mengalir tidak semata-mata diskusi biasa. Dr. Yansen TP bersama Masri Sareb Putra, M.A. menelurkan sejumlah gagasan penting terkait perkembangan dan pengembangan Literasi Dayak. Fokus mengerucut pada dua hal besar: penguatan gerakan KLD dan persiapan menuju The 1st Dayak Book Fair 2026.Di balik suasana yang tampak santai, tersimpan keseriusan berpikir tentang masa depan literasi Dayak; bukan sekadar produksi buku, melainkan pembangunan ekosistem pengetahuan.
Diskusi itu memperlihatkan satu hal yang makin jelas. Literasi Dayak tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan simpul, membutuhkan ruang temu, dan membutuhkan energi kolektif yang terarah. Dari sinilah muncul satu simbol penting, sebuah yel-yel yang bukan sekadar slogan, tetapi penanda semangat zaman:
Dayak BANGKIT.
Dayak CERDAS.
Dayak MAJU.
DAYAK hebat, berjaya, luar biasa!
Yel-yel ini lahir bukan sebagai hiasan retoris, melainkan sebagai kristalisasi dari keresahan sekaligus harapan. Yel-yel literasi Dayak ini diusulkan Yansen TP. Akan mulai dikumandangkan pada Kongres Internasional I Literasi Dayak & The 1st Dayak Book Fair 2026.
Menguatkan KLD sebagai Simpul Gerakan Literasi
Dalam diskusi tersebut, KLD diposisikan bukan hanya sebagai program, tetapi sebagai gerakan. Gerakan yang harus mampu menjembatani intelektual kampus dan intelektual kampung. Selama ini, banyak pengetahuan Dayak masih tersimpan dalam bentuk tacit knowledge; hidup dalam praktik, tradisi, dan ingatan kolektif, tetapi belum terdokumentasi secara sistematis.
Baca Launching Buku Otobiografi Sahat Sinaga dan Keberlanjutan Industri Sawit
Dr. Yansen TP menekankan pentingnya transformasi pengetahuan tersebut menjadi explicit knowledge. Artinya, apa yang selama ini hanya diceritakan dari mulut ke mulut, harus mulai ditulis, direkam, didokumentasikan, dan dipublikasikan. Di sinilah peran KLD menjadi sangat strategis: sebagai ruang produksi, kurasi, dan distribusi pengetahuan.
Diskusi juga menyentuh realitas bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah soal kesadaran. Kesadaran akan identitas. Kesadaran akan sejarah. Dan yang lebih penting, kesadaran akan masa depan.
KLD diharapkan menjadi motor penggerak yang tidak hanya melahirkan penulis, tetapi juga pembaca yang kritis. Sebab tanpa pembaca, buku hanya menjadi benda mati. Tanpa diskusi, pengetahuan hanya menjadi arsip.
The 1st Dayak Book Fair 2026 sebagai Momentum Bersejarah
Salah satu fokus utama dalam diskusi adalah persiapan The 1st Dayak Book Fair 2026. Ini bukan sekadar pameran buku biasa. Ini adalah peristiwa kultural. Momentum yang dirancang untuk mempertemukan berbagai aktor dalam ekosistem literasi Dayak: penulis, penerbit, akademisi, komunitas, hingga generasi muda.
Baca Filsafat Dayak dan Cara Memahami Borneo "dari Dalam Kedalaman Terdalam"
Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa selama ini belum ada ruang besar yang secara khusus menampilkan karya-karya Dayak dalam satu panggung bersama. Buku-buku tersebar. Penulis berjalan sendiri. Energi tercerai-berai. Dayak Book Fair diharapkan menjadi titik temu; ruang konsolidasi sekaligus perayaan.
Dalam diskusi, muncul beberapa arah strategis. Pertama, memastikan bahwa kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi gerakan berkelanjutan. Kedua, memperluas partisipasi. Tidak hanya dari kalangan akademik, tetapi juga dari komunitas akar rumput. Ketiga, mengintegrasikan media digital agar jangkauan literasi semakin luas.
Dayak Book Fair juga dilihat sebagai peluang untuk memperkenalkan narasi Dayak ke ruang publik yang lebih luas. Selama ini, banyak cerita tentang Dayak ditulis oleh pihak luar. Kini saatnya orang Dayak menulis dirinya sendiri, dengan perspektifnya sendiri.
Yel-Yel Literasi Dayak: Simbol Energi Kolektif
Salah satu hasil paling menarik dari diskusi tersebut adalah lahirnya yel-yel Literasi Dayak. Sekilas sederhana. Tetapi sesungguhnya memiliki makna yang dalam.
Dayak BANGKIT mencerminkan kesadaran untuk keluar dari ketertinggalan. Bukan dalam arti negatif, tetapi sebagai dorongan untuk mengambil kembali ruang yang selama ini terabaikan.
Baca Simbol Burung Enggang yang Mengibarkan Harapan Literasi Dayak
Dayak CERDAS menegaskan bahwa masa depan ditentukan oleh pengetahuan. Bahwa kecerdasan bukan monopoli siapa pun, tetapi sesuatu yang bisa dibangun melalui pendidikan dan literasi.
Dayak MAJU adalah arah. Sebuah visi. Bahwa gerakan ini tidak berhenti pada kebangkitan dan kesadaran, tetapi harus berujung pada kemajuan yang nyata.
Dan penutupnya, DAYAK hebat, berjaya, luar biasa! adalah afirmasi. Sebuah penguatan identitas. Bahwa menjadi Dayak bukan sekadar identitas etnis, tetapi juga kebanggaan dan kekuatan.
Yel-yel ini dirancang untuk mudah diingat, mudah diucapkan, dan mudah menyebar. Ia bisa menjadi pembuka acara, penyemangat komunitas, bahkan simbol gerakan yang lebih luas. Dalam konteks gerakan sosial, simbol seperti ini sangat penting. Ia menyatukan. Ia menggerakkan. Ia memberi energi.
Dari Diskusi ke Aksi Nyata
Diskusi, sebaik apa pun, tidak akan berarti tanpa tindak lanjut. Kesadaran ini juga mengemuka dalam percakapan bersama Dr. Yansen TP. Bahwa langkah berikutnya adalah memastikan semua gagasan ini diterjemahkan menjadi aksi nyata.
Baca Eternally Talented India: Membaca Jejak Hindu-India di Varunadvipa / Borneo
Beberapa langkah awal mulai terbayang. Penyusunan roadmap KLD. Pembentukan tim kerja untuk Dayak Book Fair. Penggalangan jejaring dengan berbagai pihak. Serta penguatan produksi konten literasi, baik dalam bentuk buku, artikel, maupun media digital.
Yang menarik, diskusi ini tidak berhenti pada level konsep. Ia sudah menyentuh hal-hal praktis. Siapa melakukan apa. Kapan dimulai. Bagaimana strategi pelaksanaannya. Ini menunjukkan bahwa gerakan ini memiliki arah yang jelas.
Lebih jauh, ada kesadaran bahwa literasi Dayak tidak bisa dilepaskan dari tantangan yang lebih besar: deforestasi, ekspansi industri, perubahan sosial, hingga pergeseran nilai budaya. Dalam konteks ini, literasi menjadi alat perjuangan. Alat untuk mendokumentasikan. Alat untuk melawan lupa. Dan alat untuk membangun masa depan.
Baca Senarai Penulis Dayak dan Bukunya Capai 1.183 Judul : Hasil Citizen Research WAG Literasi Dayak
Petang itu mungkin telah berlalu. Tetapi gagasan yang lahir darinya tidak berhenti. Ia bergerak. Ia tumbuh. Dan perlahan, ia menjelma menjadi gerakan.
Sebuah gerakan yang dimulai dari kata. Dari diskusi. Dari kesadaran. Lalu berkembang menjadi aksi.
Dan ketika yel-yel itu kembali digaungkan, Dayak BANGKIT. Dayak CERDAS. Dayak MAJU. DAYAK hebat, berjaya, luar biasa! maka ia tidak lagi sekadar kata-kata. Yel yell ini menjadi suara zaman. Suara yang menandai bahwa literasi Dayak sedang bergerak, menuju arah yang lebih terang, menuju masa depan yang ditulis oleh tangan-tangan Dayak sendiri.
Penulis: Rangkaya Bada
0 Comments