Cornelis Tekankan Pentingnya Literasi Politik bagi Dayak: PKH Disebut Mengancam Kedaulatan Tanah Adat Dayak
| Cornelis "singa mimbar", sang orator, motivator dan guru-politik Dayak tampil membawakan topik "Literasi politik" dalam Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau, Kalbar. |
Dr. (H.C.) Cornelis menegaskan pentingnya literasi politik bagi masyarakat Dayak dalam Kongres Internasional Literasi Dayak dan The 1st Dayak International Book Fair di Sekadau, Kalimantan Barat, 15–16 Mei 2026.
Tokoh Dayak sekaligus Gubernur Kalimantan Barat dua periode (2008 - 2018), Cornelis, memberikan literasi politik kepada peserta Kongres Internasional I Literasi Dayak dan The 1st Dayak International Book Fair yang digelar di Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, pada 15–16 Mei 2026.
Dalam paparannya, Cornelis menegaskan bahwa masyarakat Dayak harus memiliki kecerdasan politik agar mampu mempertahankan hak dan kedaulatan atas tanah leluhur mereka.
Dayak cerdas dan tuan di tanah sendiri
“Saya ingin Dayak ini cerdas. Menjadi tuan di rumahnya sendiri,” kata Cornelis di hadapan peserta seminar.
Ia membawakan topik mengenai “Tanah Dayak” dan menyoroti persoalan Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang menurutnya perlu dipahami secara kritis oleh masyarakat adat Dayak.
“Dalam konteks kehutanan di Indonesia, PKH adalah singkatan dari Penertiban Kawasan Hutan. Ini merujuk pada operasi negara yang dijalankan oleh Satgas PKH (Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan). PKH ini mengancam kedaulatan Dayak,” tegasnya.
Cornelis juga menekankan bahwa makna literasi tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga mencakup kesadaran politik dan pemahaman terhadap kebijakan negara.
Pentingnya literasi politik
“Literasi selain baca tulis, juga literasi politik. Dayak wajib melek politik,” ucap Cornelis dalam nada tinggi.
Dalam Seminar Literasi Dayak tersebut, selain Cornelis, tampil pula sejumlah narasumber lain, yakni Yansen TP, Agus Pakpahan, Petrus Gunarso, dan Telhalia Ambung. Adapun penanggap seminar adalah Maidi dari Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya.
Baca The 1st Dayak Book Fair 15–16 Mei 2026 di Sekadau : Pameran Buku Etnik Pertama di Indonesia
Sementara itu, sesi panel diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dan pegiat literasi Dayak, antara lain Patricia Ganing, Alexander Mering, Munaldus, Stefanus Masiun, Masri Sareb Putra, Gumelar, Jaya Ramba, Paul Nanggang, dan Pitalis Mawardi, dengan moderator Urbanus dan Kalib Siburian.
Cornelis juga turut memamerkan sejumlah buku
Selain menjadi pembicara utama dalam seminar, Cornelis juga turut memamerkan sejumlah buku karya dan biografinya dalam The 1st Dayak International Book Fair.
Baca Simbol Burung Enggang yang Mengibarkan Harapan Literasi Dayak
Pameran tersebut disebut sebagai pameran buku Dayak pertama berskala internasional di dunia dan menjadi bagian penting dari upaya penguatan literasi Dayak di Borneo. (X-5)
0 Comments