Ikon burung enggang sebagai simbol Kongres Internasional Literasi Dayak dan 1st International Dayak Book Fair 2026 di Sekadau
| Ikon burung enggang sebagai simbol Kongres Internasional Literasi Dayak dan 1st International Dayak Book Fair 2026 15 - 16 Mei 2026 di Sekadau. Matius Mardani. |
Ikon burung enggang sebagai simbol Kongres Internasional Literasi Dayak dan 1st International Dayak Book Fair 2026 15 - 16 Mei 2026 di Sekadau, Kalimantan Barat, merepresentasikan literasi Dayak yang berakar budaya, kuat, dan mendunia melalui pendekatan semiotika Roland Barthes.
Tema: “Dayak Menulis dari Dalam
Subtema: Membangun Dayak melalui Literasi
Ikon sebagai Jalan Masuk Makna: Dari Gambar ke Kesadaran
Di Sekadau, sebuah peristiwa penting akan berlangsung, yaitu International Dayak Book Fair yang pertama, bersanding dengan Kongres Internasional Literasi Dayak. Namun, sebelum kata-kata dituliskan, sebelum buku-buku dibuka, dan sebelum gagasan-gagasan diperdebatkan, ada satu pintu masuk awal yang menyapa publik, yaitu sebuah ikon.
Baca Dayak, Mengapa Mesti Melek Literasi? Ini Manfaat dan Akibatnya
Ikon itu adalah burung enggang. Ia bukan sekadar gambar. Ia adalah pintu. Ia adalah tanda. Ia adalah undangan.
Dalam tradisi Dayak, enggang bukan burung biasa. Ia adalah simbol keluhuran, penjaga langit, serta penghubung antara dunia manusia dan dunia yang lebih tinggi. Maka ketika ikon ini dipilih, sebenarnya kita sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih dalam, bahwa literasi Dayak bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, melainkan sebuah perjalanan spiritual, kultural, dan intelektual.
Mengapa disebut ikon, bukan logo?
Karena ikon tidak sekadar mengikat identitas formal. Ia lebih cair, lebih komunikatif, serta lebih dekat dengan pengalaman visual manusia. Ikon hadir sebagai piktogram, sederhana tetapi padat makna. Ikon tidak selalu mengklaim otoritas institusional, melainkan menawarkan keterbukaan interpretasi.
Baca Kongres Internasional I Literasi Dayak
Dalam konteks ini, ikon burung enggang menjadi bahasa universal. Ia bisa dipahami oleh orang Dayak, sekaligus oleh dunia. Ia melampaui batas bahasa dan masuk ke wilayah rasa.
Dengan demikian, ikon ini bukan sekadar desain, melainkan narasi yang dipadatkan dalam bentuk visual.
“Dayak Menulis dari Dalam”: Literasi sebagai Kesadaran Diri
Tema besar kegiatan ini, “Dayak menulis dari dalam”, bukanlah slogan kosong. Ia merupakan sikap epistemologis, sekaligus cara pandang terhadap pengetahuan.
Selama ini, banyak tulisan tentang Dayak datang dari luar, seperti peneliti asing, antropolog, misionaris, bahkan negara. Mereka menulis Dayak sebagai objek. Mereka memotret dari kejauhan.
Kini arah itu dibalik.
Dayak menulis dari dalam berarti Dayak menjadi subjek. Menulis pengalaman sendiri. Menafsirkan budaya sendiri. Mengartikulasikan sejarah sendiri.
Ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan perubahan paradigma.
Menulis dari dalam berarti
- menggali tacit knowledge menjadi explicit knowledge
- mengangkat cerita lisan menjadi teks tertulis
- mengubah ingatan kolektif menjadi arsip peradaban
Dalam konteks ini, ikon enggang menjadi representasi dari gerakan tersebut. Ia berdiri tegak, menatap ke depan, seolah menyampaikan pesan, “Kami hadir. Kami menulis. Kami bersuara.”
Baca Dayak: Literasi Dayak dari Masa ke Masa Selayang Pandang
Literasi bukan lagi alat orang luar untuk memahami Dayak. Literasi menjadi alat Dayak untuk memahami diri sendiri, sekaligus dunia.
Di sinilah subtema menemukan maknanya, yaitu membangun Dayak melalui literasi.
Sebab pembangunan sejati tidak dimulai dari infrastruktur, tetapi dari kesadaran.
Ikon, Semiologi, dan Pemaknaan: Membaca dengan Roland Barthes
Untuk memahami kedalaman ikon ini, kita dapat menggunakan kerangka semiotika dari Roland Barthes. Dalam pemikirannya, setiap tanda terdiri atas tiga unsur, yaitu signifier, signified, dan sign.
- Pertama, signifier atau penanda. Dalam konteks ini, ia adalah gambar burung enggang. Bentuk visualnya jelas, paruh melengkung berwarna kuning kemerahan, kepala hitam mengilap, serta garis putih yang memberi kontras kuat.
- Kedua, signified atau petanda. Ini adalah makna yang dikandung, yaitu literasi Dayak yang agung, berakar pada budaya, serta menjangkau dunia. Enggang bukan sekadar burung, tetapi simbol kebesaran, kebijaksanaan, dan kesinambungan tradisi.
- Ketiga, sign atau tanda itu sendiri, hasil dari hubungan antara penanda dan petanda. Dalam hal ini, ikon enggang menjadi identitas acara yang kuat, berwibawa, dan autentik.
Proses ini tidak terjadi secara kebetulan. Ia telah melalui refleksi akademik, penelusuran simbol, serta pembacaan mendalam terhadap budaya Dayak.
Dengan demikian, ikon ini bukan sekadar estetika. Ia merupakan hasil kerja intelektual.
Barthes juga berbicara tentang mitos sebagai sistem makna tingkat kedua. Dalam konteks ini, ikon enggang membentuk mitos baru, bahwa Dayak adalah masyarakat literat, bukan semata masyarakat lisan. Bahwa Dayak memiliki tradisi intelektual yang hidup dan terus berkembang.
Baca Dayak dan Jejak Sejarah Peradabannya lewat Tinggalan Batu Yupa
Mitos ini penting, karena selama ini narasi dominan sering mereduksi Dayak sebagai tradisional dalam arti statis. Ikon ini menghadirkan perspektif lain, yaitu dinamika, kreativitas, serta masa depan.
Dari Sekadau ke Dunia: Ikon sebagai Jembatan Global
Kegiatan ini berlangsung di Sekadau, tetapi gaungnya tidak berhenti di sana. Dengan hadirnya 1st International Dayak Book Fair, ruang ini menjadi titik temu antara lokal dan global.
Ikon enggang memainkan peran penting dalam proses tersebut.
Sebagai simbol visual, ia mudah dikenali. Ia dapat digunakan dalam berbagai media, seperti poster, buku, situs web, hingga platform digital. Ia menjadi titik temu antara identitas lokal dan komunikasi global.
Dalam dunia yang semakin visual, ikon memiliki kekuatan besar. Ia mampu menyampaikan pesan dalam waktu singkat. Ia juga dapat melintasi batas bahasa dan budaya.
Namun kekuatan tersebut hanya bermakna jika didukung oleh substansi.
Substansi itu adalah literasi.
Melalui kegiatan ini, Dayak tidak hanya hadir sebagai tema, tetapi sebagai pelaku utama. Buku-buku ditulis, diterbitkan, dan dipresentasikan. Diskusi berlangsung. Pengetahuan diproduksi.
Ikon enggang menjadi saksi dari seluruh proses ini.
Ia tidak berdiri sendiri. Ia hidup bersama teks, bersama penulis, dan bersama pembaca.
Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Ikon sebagai Awal, Literasi sebagai Jalan
Ikon burung enggang untuk Kongres Internasional I Literasi Dayak dan 1st International Dayak Book Fair bukan sekadar pilihan desain. Ia merupakan keputusan kultural, intelektual, sekaligus strategis.
Ia menandai sebuah pergeseran, dari dilihat menjadi melihat, dari ditulis menjadi menulis.
Baca Mugeni: Tokoh Literasi Kalimantan Tengah yang Menginspirasi
Dalam semangat “Dayak menulis dari dalam”, ikon ini menjadi simbol kebangkitan literasi yang berakar pada identitas, sekaligus terbuka terhadap dunia.
Ia sederhana, tetapi tidak dangkal. Ia visual, tetapi sarat makna.
Ikon ini mengingatkan kita bahwa setiap gerakan besar selalu dimulai dari tanda kecil, yang dibaca dengan sungguh-sungguh.
FORMAT KEGIATAN
Kegiatan terdiri dari:
- Opening Ceremony
- Keynote Speech
- Panel Discussion
- Parallel Session (Call for Papers)
- Book Fair & Exhibition
- Cultural Literacy Performance
SUSUNAN ACARA (DRAF)
Hari I | Sabtu, 16 Mei 2026
08.00 – 10.00
Opening Ceremony
Sambutan oleh Bupati Sekadau
10.00 – 10.30
Coffee Break
Sesi Utama: Literasi sebagai Gerakan Peradaban
10.30 – 12.00
Keynote Speaker:
Dr. Yansen Tipa Padan, M.Si.
Topik: Memajukan Dayak melalui Gerakan Literasi
Panel Speakers:
- Jaya Ramba
Literasi Dayak di Malaysia sebagai Role Model - Prof. Dr. Agus Pakpahan
Literasi Dayak sebagai Inspirasi Literasi Etnik di Indonesia - Ir. Petrus Gunarso, Ph.D.
Dream Comes True! Rumah Buku Dayak sebagai Rumah Panjang Masa Kini - Dr. (H.C.) Cornelis, S.H., M.H.
Mengapresiasi Literasi Dayak
Moderator:
Dr. Wilson anak Ayub, M.Th.
12.00 – 13.00
Istirahat / Makan Siang
Sesi Akademik dan Praktik Literasi
13.00 – 14.30
- Dr. (Cand.) Masri Sareb Putra, M.A.
Peta Penerbitan Buku Dayak dari Masa ke Masa - Munaldus, M.A.
Literasi Dayak dalam Konfigurasi Literasi Finansial - Alexander Mering, S.H.
Literasi Dayak dan Monetisasi di Era Digital - Prof. Dr. Tiwi Etika
Literasi Dayak dan Publikasi Ilmiah - Damianus Siyok
Peta Percetakan Dayak Masa Kini - Dr. Patricia anak Ganing
Komodifikasi Budaya Dayak dan Industri Buku di Malaysia
Moderator:
Dr. Louis Ringah Kanyan
14.30 – 15.00
Coffee Break
Sesi Literasi Kreatif dan Generasi Muda
15.00 – 16.00
- Dr. Stefanus Masiun, S.H., M.H.
Literasi Dayak Going to Campus - Daniel Banai, dkk.
- Literasi Seni Lisan dan Nyanyian Dayak
Sesi: Dayak Stories (Pembacaan karya, antara lain ole Poul Nangang/Malaysia dan Sekolah Adat, Daniel Banai/Jandih/Beasu asu, diiringi musuk etnik Dayak).
16.00 - Pemilihan Pengurus Literasi Dayak Internasional, dilanjutkan dengan pengukuhan/pelantikan (acara adat).
Penulis tercatat sebagai salah satu sastrawan Angkatan 2.000 dalam Sastra Indonesia dalam Leksikon Susastra Indonesia (2000: 390). Pegiat literasi, dosen, peneliti, dan penulis produktif yang sejak 1984 menulis dan menerbitkan lebih dari 4.000 artikel. Karya-karya dan sitasi pubikasinya dapat mengunjungi: Masri Sareb Putra
0 Comments