Literasi Dayak di Malaysia sebagai Role Model: Sastera sebagai Sungai Panjang Peradaban dari Rimba ke Persada Dunia

Literasi Dayak, sungai peradaban dari rimba menuju pentas dunia. Ist.
Oleh Jaya Ramba
Abstrak
Kertas kerja ini mengkaji kedudukan dan perkembangan literasi Dayak di Malaysia, khususnya di Sarawak, sebagai model unggul (role model) bagi pembangunan sastera etnik di wilayah Borneo dan Asia Tenggara. Literasi Dayak tidak semata-mata dipahami sebagai kumpulan teks, melainkan sebagai “sungai peradaban” yang mengalir dari akar kehidupan di rimba, merentasi rumah panjang, tradisi lisan seperti mantera dan sabak, hingga narasi mitos, legenda, dan falsafah hidup yang berpaut erat pada alam.
Baca Kedaulatan Narasi Dayak di Era Kecerdasan Buatan
Kemajuan sastera Dayak di Sarawak tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil sinergi strategis antara institusi seperti Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Sarawak, persatuan penulis, institusi pengajian tinggi, serta komunitas budaya. Transformasi dari tradisi lisan ke bentuk tulisan moden memperlihatkan daya adaptasi yang tinggi sekaligus memperkuat legitimasi sastera Dayak di pentas kebangsaan Malaysia.
Dengan demikian, literasi Dayak bukan hanya berfungsi sebagai penjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam pembentukan identitas nasional yang inklusif dan multikultural. Model Sarawak menawarkan pelajaran penting bagi pengembangan literasi Dayak di wilayah lain di Borneo, termasuk Indonesia dan Brunei Darussalam, terutama dalam hal penguatan institusi, ekosistem sastera, dan keberpihakan kebijakan budaya.
Abstract
This paper examines the position and development of Dayak literacy in Malaysia, particularly in Sarawak, as an exemplary role model for the advancement of ethnic literature in the Borneo region and Southeast Asia. Dayak literacy is not merely understood as a body of texts, but as a “river of civilization” flowing from the roots of forest life, spanning longhouses, oral traditions such as mantras and sabak, to myths, legends, and philosophical worldviews deeply embedded in nature.
Baca Senarai Penulis Dayak dan Bukunya Capai 1.183 Judul : Hasil Citizen Research WAG Literasi Dayak
The progress of Dayak literature in Sarawak is not incidental, but the result of strategic synergy among institutions such as Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Sarawak, writers’ associations, higher education institutions, and cultural communities. The transformation from oral traditions to modern written forms demonstrates both adaptive resilience and growing recognition at the national level.
Thus, Dayak literacy functions not only as a custodian of cultural heritage, but also as a strategic instrument in shaping an inclusive and multicultural national identity. The Sarawak model provides valuable insights for the development of Dayak literacy in other parts of Borneo, including Indonesia and Brunei Darussalam, particularly in strengthening institutions, literary ecosystems, and cultural policy support.
0 Comments