Hewan Jantan Lebih Rupawan daripada Betina: Belajar dari Sepasang Ayam Kampung

Hewan Jantan Lebih Rupawan daripada Betina:  Belajar dari Sepasang Ayam Kampung
Sepasang ayam mengajarkan bahwa kebersamaan tak selalu harus berdampingan. Dokpri.

Pagi Minggu itu (28 Juni 2026) gerimis kecil masih menitis di bumi Lawang Kuwari, Sekadau. Udara sejuk. Dedaunan tampak segar. Dan aroma tanah basah menyeruak ke mana-mana.
Saya baru bangun tidur. Lalu menyeduh secangkir kopi. Belum lama menikmati hangatnya kopi, saya bersama beberapa kawan membantu menurunkan sebuah kulkas yang akan dibawa ke tempat lain. 

Baca Kelapa Indonesia (1) : Tree of Life yang Belum Kita Kelola secara Optimal Nilai Ekonominya

Pekerjaan sederhana itu selesai dalam waktu singkat. Seusai bekerja, saya kembali menghirup kopi yang mulai mendingin sambil memandang halaman Kampus ITKK.

Jantan Lebih Rupawan

Di kampus ini dipelihara beberapa ekor ayam kampung. Mereka tidak dikurung, melainkan dibiarkan bebas berkeliaran mencari makan di antara rerumputan dan pepohonan. 

Pagi itu. Sepasang ayam menarik perhatian saya. Keduanya berjalan beriringan di bibir bak penampung air. Sesekali saling mendekat. Lalu menjauh. Seolah sedang bercanda dan menikmati pagi yang basah oleh gerimis. Mata saya terpanah kepada mereka.

Yang seekor tampil gagah dengan bulu merah tembaga yang berkilau, jengger merah yang tegak, serta ekor hitam kehijauan yang melengkung anggun. Di sampingnya berdiri ayam betina dengan bulu cokelat keabu-abuan yang sederhana.

Baca Gebyar Budaya Dayak SMA Don Bosco Sanggau: Melangkah Bersama Budaya Menuju Masa Depan

Perbedaan keduanya begitu mencolok. Sehingga muncul pertanyaan yang mungkin juga pernah terlintas dalam benak banyak orang: mengapa dalam dunia hewan justru yang jantan lebih tampan, lebih indah, dan lebih memesona dibandingkan yang betina?

Fenomena itu ternyata bukan hanya terjadi pada ayam. Merak jantan memamerkan kipas ekornya yang megah, sementara merak betina tampil sederhana. Singa jantan memiliki surai yang lebat dan gagah. Burung cenderawasih jantan mengenakan bulu-bulu berwarna mencolok dan menari untuk memikat pasangannya. Bahkan rusa jantan dikaruniai tanduk yang megah, sedangkan betinanya tidak.

Alam rupanya mempunyai logika sendiri. Keindahan pada hewan jantan bukan sekadar hiasan. Ia adalah bahasa. Ia menjadi cara untuk mengatakan kepada betina, tanpa kata-kata, bahwa dirinya sehat, kuat, dan layak dipilih sebagai pasangan. Bulu yang mengilap. Warna yang cerah. Suara yang lantang. Bahkan gerak yang anggun adalah bagian dari strategi alam agar keturunan yang lahir berasal dari individu-individu terbaik.

Betina tidak membutuhkan kemewahan

Sebaliknya, betina tidak membutuhkan kemewahan itu. Perannya berbeda. Ia bertelur, mengerami, melindungi, dan membesarkan anak-anaknya. Karena itu, warna tubuh yang sederhana justru menjadi perlindungan. Saat mengerami telur, bulunya yang menyerupai warna tanah membuatnya lebih sulit terlihat oleh pemangsa. Apa yang kita anggap kurang menarik ternyata justru merupakan keunggulan untuk bertahan hidup.

Di situlah ironi alam bekerja. 

Yang paling indah justru memikul risiko paling besar. Ayam jantan dengan bulu menyala akan lebih cepat menarik perhatian betina, tetapi pada saat yang sama juga lebih mudah terlihat oleh elang atau pemangsa lainnya. Keindahan ternyata selalu mempunyai harga.

Baca Rebung Bonti yang Digarami Pak Alui : Citarsa tak ada Duanya

Saya kembali memandangi sepasang ayam itu. Sang jantan berjalan gagah. Sementara betina mengiringinya dengan tenang. Keduanya saling melengkapi. Yang satu dikaruniai pesona untuk memikat, yang lain dianugerahi kesederhanaan untuk menjaga kehidupan.

Barangkali, pagi yang gerimis di Lawang Kuwari itu sedang mengajarkan sebuah pelajaran yang sering luput kita sadari.

Alam tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan. Keindahan bukan selalu soal warna yang mencolok, sebagaimana kesederhanaan bukan berarti kekurangan. Yang satu memikat mata, yang lain menjamin kelangsungan hidup.

Dan kehidupan hanya akan berjalan baik ketika keduanya hadir dalam keseimbangan.

Kampus merah biru, Minggu pagi 28 Juni 2026


0 Comments

Type above and press Enter to search.