Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial

Karakter Baik Orang Bonti
Orang Bonti dalam upacara menyambut tamu agung. Ist.

Karakter masyarakat Bonti yang terbuka, mudah bekerja sama, dan siap menerima perubahan menjadi modal sosial yang kuat. Nilai-nilai tersebut terbukti mendukung perkembangan Credit Union, ekonomi kerakyatan, dan pembangunan daerah.

Banyak orang mengukur kemajuan suatu daerah dari apa yang tampak di permukaan. Jalan yang mulus, gedung yang berdiri megah, pasar yang ramai, atau investasi yang terus berdatangan sering dijadikan indikator keberhasilan pembangunan. 


Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial

Semua itu memang penting. Namun ada satu faktor yang sering luput dari perhatian, padahal justru menjadi fondasi dari seluruh proses pembangunan. Faktor itu adalah karakter masyarakatnya.

Dalam banyak pengalaman pembangunan, kemajuan tidak pernah lahir hanya dari ketersediaan dana atau melimpahnya sumber daya alam. Kemajuan selalu bertumpu pada kualitas manusianya. Ketika masyarakat memiliki karakter yang baik, terbuka terhadap perubahan, mampu bekerja sama, dan memiliki kepercayaan satu sama lain, pembangunan menjadi lebih mudah dijalankan. Sebaliknya, ketika modal sosial lemah, program sebesar apa pun sering kali tidak menghasilkan dampak yang maksimal.

Bonti adalah salah satu contoh menarik mengenai bagaimana karakter masyarakat dapat menjadi modal sosial yang sangat berharga. Kecamatan yang berada di Kabupaten Sanggau ini memiliki kekuatan yang mungkin tidak langsung terlihat oleh orang luar. Kekuatan itu tidak tersimpan di dalam perut bumi atau hutan yang mengelilinginya, melainkan hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Selama bertahun-tahun berkecimpung dalam gerakan ekonomi kerakyatan, khususnya Credit Union (CU), "Saya berkesempatan berinteraksi dengan banyak komunitas di berbagai tempat. Dari pengalaman tersebut, saya melihat ada karakter khas yang menonjol pada masyarakat Bonti," Kasianus Nery bersaksi.

Orang-orang Bonti pada umumnya santun, terbuka, dan mudah diajak bekerja sama. Mereka tidak cepat menolak sesuatu hanya karena hal itu baru. Mereka bersedia mendengar, mempertimbangkan, lalu menilai apakah sebuah gagasan akan membawa manfaat atau tidak bagi kehidupan mereka.

Dalam istilah yang populer sekarang, masyarakat Bonti tergolong "open minded". Mereka memiliki keterbukaan terhadap ide-ide baru, teknologi baru, maupun cara-cara baru dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Namun yang menarik, keterbukaan itu tidak membuat mereka tercerabut dari akar budayanya. Mereka tetap memegang nilai-nilai adat, menghormati tradisi, dan menjaga identitas budaya yang diwariskan para leluhur.

Kemampuan memadukan tradisi dan kemajuan merupakan karakter yang tidak selalu mudah ditemukan. Di satu sisi, ada masyarakat yang terlalu kuat mempertahankan kebiasaan lama sehingga sulit menerima perubahan. Di sisi lain, ada pula yang begitu cepat menerima hal-hal baru hingga kehilangan pijakan budaya. Orang-orang Bonti tampaknya menemukan titik keseimbangan yang baik. Mereka terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap berakar pada tradisi.

Karakter seperti inilah yang membuat berbagai program pembangunan relatif lebih mudah diterima. Ketika ada gagasan baru yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mereka tidak serta-merta menolaknya. Mereka memberi ruang bagi dialog dan pembelajaran. Mereka mau mencoba selama perubahan itu membawa manfaat bagi kehidupan bersama.

Perkembangan Credit Union

Salah satu bukti paling nyata dari kuatnya modal sosial masyarakat Bonti dapat dilihat dari perkembangan gerakan Credit Union. Untuk ukuran sebuah kecamatan, Bonti memiliki jumlah lembaga keuangan berbasis anggota yang cukup mengesankan. Setidaknya ada lima Credit Union besar yang beroperasi dan berkembang di wilayah ini, yaitu Credit Union Pancur Kasih, Credit Union Lantang Tipo, Credit Union Semandang Jaya, Credit Union Banuri Harapan Kita, dan Koperasi Kredit Kusapa.

Keberadaan lima Credit Union besar dalam satu kecamatan tentu bukan kebetulan. Credit Union berbeda dengan lembaga keuangan konvensional yang mengandalkan kekuatan modal dari luar. Credit Union hidup dan berkembang dari partisipasi anggotanya sendiri. Fondasi utamanya adalah kepercayaan.

Karena itu, pertanyaan sederhana dapat diajukan: mungkinkah lima Credit Union besar berkembang dalam satu wilayah jika masyarakatnya tidak memiliki budaya saling percaya?

Jawabannya tentu sulit.

Orang mau menabung di Credit Union karena percaya kepada lembaga yang mereka bangun bersama. Orang mau menjadi anggota karena percaya bahwa pengurus akan mengelola dana secara bertanggung jawab. Orang mau meminjam dan mengembalikan pinjaman tepat waktu karena mereka memahami bahwa lembaga tersebut adalah milik bersama.

Dengan kata lain, keberhasilan Credit Union bukan semata-mata soal uang. Keberhasilan itu merupakan cerminan dari kualitas hubungan sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Kepercayaan yang tumbuh dalam kehidupan sosial kemudian menghasilkan dampak ekonomi yang nyata. Ketika masyarakat percaya satu sama lain, dana dapat dihimpun. Ketika dana terkumpul, modal usaha menjadi tersedia. Ketika akses modal terbuka, berbagai kegiatan ekonomi produktif dapat berkembang. Pada titik inilah modal sosial berubah menjadi modal finansial.

Apa yang terjadi di Bonti menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari investasi besar atau bantuan dari luar. Kadang-kadang pembangunan justru tumbuh dari kekuatan masyarakat itu sendiri. Dari kebiasaan bekerja sama. Dari budaya gotong royong. Dari kemampuan membangun kepercayaan.

Lima Credit Union yang berkembang di Bonti sesungguhnya merupakan monumen sosial yang hidup. Ia menjadi bukti bahwa masyarakat setempat memiliki kapasitas untuk membangun lembaga ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Di balik angka aset, jumlah anggota, atau besarnya dana yang beredar, terdapat karakter masyarakat yang menjadi fondasi utama keberhasilannya.

Mudah Diajak Maju untuk Pembangunan

Pandangan mengenai karakter positif masyarakat Bonti juga datang dari kalangan pemerintahan. Daniel, Camat Beduai yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan Bonti, memiliki kesan tersendiri terhadap masyarakat di wilayah tersebut.

"Saya dulu Sekcam Bonti. Sampai sekarang masih ingin kembali ke Bonti, bahkan menjadi Camat Bonti," ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan nostalgia. Ada pengalaman sosial yang membekas selama dirinya bertugas di sana. Menurut Daniel, masyarakat Bonti memiliki karakter yang terbuka dan relatif mudah diajak bergerak bersama dalam pembangunan.

Tentu istilah "mudah diatur" yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari tidak dimaknai secara negatif. Yang dimaksud adalah masyarakat memiliki kemauan untuk mengikuti kesepakatan bersama, menghargai aturan yang dibuat demi kepentingan umum, serta bersedia mendukung program-program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagi seorang aparatur pemerintah, karakter seperti itu merupakan modal yang sangat berharga. Sebab pembangunan pada hakikatnya adalah kerja kolaboratif. Pemerintah tidak dapat bekerja sendirian. Keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat.

Ketika masyarakat terbuka terhadap dialog, pemerintah lebih mudah menyosialisasikan program. Ketika masyarakat memiliki semangat kerja sama, berbagai kegiatan pembangunan dapat dilaksanakan dengan lebih efektif. Ketika masyarakat percaya kepada pemimpinnya, energi yang seharusnya habis untuk mengatasi konflik dapat dialihkan untuk membangun masa depan.

Dalam konteks itulah Bonti memiliki keunggulan yang tidak selalu dimiliki daerah lain. Masyarakatnya memiliki karakter yang mendukung terciptanya kolaborasi sosial. Mereka relatif mudah diajak maju bersama. Mereka mau terlibat dalam kegiatan yang membawa manfaat bagi kepentingan umum. Mereka juga memiliki kemampuan untuk membangun kesepahaman dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

Kemajuan suatu daerah tidak pernah hanya ditentukan oleh faktor ekonomi. Kemajuan juga ditentukan oleh kualitas karakter masyarakatnya. Bonti memberikan pelajaran berharga bahwa keterbukaan, kepercayaan, kemauan bekerja sama, dan semangat untuk maju merupakan aset yang nilainya tidak kalah penting dibandingkan sumber daya alam atau investasi.

Karakter-karakter baik itulah yang selama ini menjadi kekuatan tersembunyi Bonti. Dari karakter yang baik lahir kepercayaan. Dari kepercayaan lahir kerja sama. Dari kerja sama tumbuh lembaga-lembaga ekonomi yang kuat. Dan dari sana tercipta kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat.

Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan Bonti, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Kita juga sedang berbicara tentang modal sosial yang hidup di tengah masyarakatnya. Modal sosial yang telah terbukti mampu berubah menjadi modal finansial. Modal sosial yang menjadikan Bonti bukan hanya tempat yang nyaman untuk ditinggali, tetapi juga daerah yang memiliki fondasi kuat untuk terus maju dan berkembang.

Siapa Orang Bonti

Menurut keterangan Camat Bonti, Dominikus, jumlah populasi di Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau, tercatat sekitar 19.431 jiwa. 

Penduduk tersebut tersebar di berbagai desa seperti Desa Bonti, Desa Upe, hingga Desa Sami, berdasarkan data statistik wilayah setempat yang menggambarkan sebaran permukiman masyarakat di kawasan kecamatan tersebut. Sebagian kecil adalah Senganan yang pada umumnya bermukim di sekitar pesisir dan tepi sungai Sekayam.

Camat menjelaskan bahwa penduduk Bonti didominasi oleh masyarakat Dayak Bonti yang dikenal sebagai “piri juru”, yakni kelompok yang terdiri dari sembilan subsuku dalam rumpun besar Dayak Budayuh. 

Keberadaan komunitas ini menjadi bagian penting dari identitas sosial dan budaya setempat yang masih terjaga hingga saat ini di tengah dinamika perkembangan wilayah.

0 Comments

Type above and press Enter to search.