Dari Rumah Buku Dayak ke Rumah Literasi Dayak: Sebuah Ide yang Men-jadi
| Desain konsep: dari Rumah Buku Dayak ke Rumah Literasi Dayak. Ist. |
Sejarah ada kalanya tidak lahir dari keputusan besar di ruang kekuasaan. Sejarah justru kerap berawal dari sebuah gagasan yang diucapkan dengan sederhana, didengar dengan saksama, lalu diterima sebagai cita-cita bersama untuk diujud-nyatakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Begitulah perjalanan "Rumah Literasi Dayak". Dari ide menjadi kenyataan. Dari pribadi dan komunitas kecil menjadi gerakan.
Sejarah tidak lahir dalam semalam. Ia bertumbuh melalui percakapan, perenungan, dan kesediaan banyak orang untuk merawat sebuah ide hingga menemukan bentuknya.
Baca Petrus Gunarso Mohon Izin dan Restu Membangun Rumah Buku Dayak di Yogyakarta
Dari Sekadau, sebuah gagasan dilemparkan. Sabtu hari itu ketika kalender mencatatkan peristiwa bersejarah Dayak dalam bidang literasi dalam sebuah almanak.
16 Mei 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan gerakan literasi Dayak. Di Sekadau, dalam rangkaian Kongres Literasi Dayak, Ir. Petrus Gunarso, Ph.D. memperoleh kesempatan memaparkan sebuah gagasan yang telah lama disimpannya.
Pada penghujung presentasi, Gunarso tidak berbicara mengenai capaian pribadi ataupun proyek individual. Sebaliknya, ia melemparkan sebuah ide yang sederhana, tetapi sarat makna: mendirikan Rumah Buku Dayak (RBD).
Izin resmi pada warga Dayak
Suasana ruang kongres berubah hangat. Para peserta menangkap bahwa gagasan tersebut lahir dari kebutuhan nyata. Selama ini buku-buku tentang Dayak tersebar di berbagai tempat. Sebagiannya tersimpan di perpustakaan perguruan tinggi, sebagian lagi berada di rumah-rumah para penulis, peneliti, rohaniwan, maupun kolektor. Tidak sedikit pula naskah penting yang belum terdokumentasi secara baik. Kekayaan intelektual itu seperti kepingan-kepingan mozaik yang belum dipersatukan.
Baca Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial
Karena itu, ketika Petrus Gunarso menyampaikan keinginannya membangun "Rumah Buku Dayak" di Watu Blencong, Kulon Progo, Yogyakarta. Hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan panjang. Tepuk tangan itu bukan sebatas penghargaan atas presentasi yang menarik saja. Di baliknya tersemayam banyak gagasan yang pada ujungnya menjadi kenyataan.
Gunarso yang oleh Masri Sareb disebut "Jawa berhati Dayak" bukan sebatas memberi moral terhadap sebuah ikhtiar menyelamatkan ingatan kolektif masyarakat Dayak melalui buku.Ia juga menyumbangkan pikiran, tenaga, bahkan sejumlah dana prive.
Di hadapan forum tersebut, Gunarso seakan berpamitan sekaligus memohon izin. Ia meminta restu agar cita-cita itu dapat diwujudkan. Sejak saat itu, Rumah Buku Dayak tidak lagi menjadi gagasan pribadi. Ia telah menjadi harapan bersama.
Dari Tepuk Tangan menuju Kerja Nyata
Sebuah gagasan hanya akan tinggal sebagai wacana apabila tidak ada orang yang bersedia menggerakkannya. Kesadaran itulah yang melahirkan kesepakatan berikutnya. Dalam forum dan pembicaraan lanjutan, disetujui bahwa Alexander Mering menjadi person in charge (PIC) untuk mengawal realisasi Rumah Buku Dayak.
Penunjukan tersebut strategis. Bukankah setiap gerakan memerlukan nahkoda yang memastikan arah perjalanan tetap terjaga? Mering dipercaya menjadi penghubung berbagai pihak, menyusun langkah-langkah awal, sekaligus memastikan bahwa gagasan yang lahir di Sekadau tidak berhenti sebagai euforia sesaat.
Baca Kain Tenun Masyarakat Ensaid Panyae, Sintang
Proses itu pun berjalan. Komunikasi dilakukan dengan berbagai kalangan. Konsep kelembagaan mulai dirancang. Koleksi buku mulai dipetakan. Jejaring penulis, penerbit, peneliti, dan pegiat literasi mulai dirangkul. Semua dilakukan secara bertahap dengan semangat gotong royong.
Di sinilah tampak bahwa sebuah gerakan tidak pernah dibangun oleh satu orang. Ia tumbuh karena ada banyak tangan yang bekerja dalam diam, saling melengkapi, tanpa sibuk mencari panggung. Rumah Buku Dayak mulai bergerak dari sebuah ide menuju kenyataan.
Ketika Buku Menjelma Menjadi Literasi
Di tengah proses tersebut, muncul ruang-ruang diskusi yang justru memperkaya gagasan awal. Dalam salah satu kesempatan, Petrus Gunarso dan Alexander Mering berdialog dengan Prof. Laksono. Percakapan itu membuka perspektif baru.
Pertanyaan yang muncul sederhana, tetapi mendasar. Apakah rumah yang sedang dirancang hanya akan menjadi tempat menyimpan buku? Ataukah ia akan menjadi ruang yang lebih luas, tempat bertemunya seluruh aktivitas literasi Dayak?
Dari dialog itu lahirlah kesadaran bahwa buku hanyalah salah satu unsur dari literasi. Literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Ia meliputi tradisi membaca, kebiasaan menulis, penelitian ilmiah, dokumentasi sejarah lisan, penerbitan, digitalisasi arsip, diskusi kebudayaan, hingga pendidikan masyarakat. Literasi bukan sebatas hanya mengoleksi buku, melainkan menghidupkan pengetahuan.
Baca Rumah Betang Saham 150 Tahun, Warisan Dayak yang Tetap Dihuni
Perubahan cara pandang ini menjadi titik balik. Nama "Rumah Buku Dayak" mulai dirasakan belum cukup merepresentasikan cita-cita besar yang hendak diwujudkan.
Rumah yang sedang dibangun tidak semata-mata ingin menjadi perpustakaan. Ia hendak menjadi pusat pembelajaran, dokumentasi, riset, produksi pengetahuan, sekaligus ruang perjumpaan bagi siapa saja yang mencintai kebudayaan Dayak.
Dengan kata lain, yang sedang dirancang bukan sebatas hanya rumah bagi buku, melainkan rumah bagi peradaban literasi Dayak.
Rumah Literasi Dayak: Sebuah Ide yang Menjadi Gerakan
Perjalanan gagasan itu mencapai titik penting pada Minggu, 26 Juli 2026. Dalam pertemuan yang dihadiri Petrus Gunarso, Masri Sareb Putra, dan Matius Mardani, seluruh perkembangan gagasan dibicarakan secara terbuka.
Baca Mengapa Orang Dayak Harus Menulis Sejarah Tanahnya Sendiri?
Berbagai pertimbangan dikemukakan. Setiap usulan dipandang sebagai upaya menyempurnakan cita-cita bersama.
Akhirnya dicapai mufakat.
Nama "Rumah Buku Dayak" diubah menjadi "Rumah Literasi Dayak".
Perubahan tersebut bukan hanya tentang pergantian istilah. Ia merupakan perluasan visi. Rumah Literasi Dayak diproyeksikan menjadi pusat gerakan literasi yang menghimpun penulis, pembaca, peneliti, akademisi, guru, mahasiswa, penerbit, komunitas literasi, serta seluruh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan kebudayaan Dayak.
Di rumah itu, buku tetap memperoleh tempat yang terhormat. Namun, buku bukan tujuan akhir. Ia menjadi pintu masuk bagi lahirnya tradisi berpikir, budaya menulis, penelitian yang berkesinambungan, dokumentasi sejarah, dan regenerasi penulis Dayak.
Rumah Literasi Dayak diharapkan menjadi ruang tempat pengetahuan lokal bertemu dengan ilmu pengetahuan modern, tempat tradisi lisan didokumentasikan menjadi tradisi tulis, dan tempat generasi muda menemukan kembali akar budayanya.
Baca 101 Tokoh Dayak Jilid 4: Siapa Saja Mereka? (2) Jangkar Ilmiah "Dajak" sebagai Binenland pada Dokumen Historis Tahun 1757
Perjalanan dari Rumah Buku Dayak menuju Rumah Literasi Dayak menunjukkan satu pelajaran penting. Sebuah ide akan menemukan maknanya ketika bersedia bertumbuh. Ia tidak kehilangan jati diri ketika berubah nama. Sebaliknya, ia justru menemukan cakrawala yang lebih luas.
Karena pada galibnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pertama kali melontarkan sebuah gagasan. Sejarah juga akan mengingat mereka yang bersedia merawatnya, menyempurnakannya, dan mengubahnya menjadi gerakan yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Rumah Literasi Dayak lahir dari semangat itulah. Bagaimana sebuah ide yang berkelindan. Dan dijaring. Lalu disaring "menjadi nyata". Atau dalam khasanah Aristotelian, berubah ujud dari materia menjadi forma. Karena dikerjakan bersama.
Itulah logos yang menjadi daging!
Gagasan, ide, yang menemukan bentuknya.
Periset dan penulis │ Masri Sareb Putra
Catatan kaki:
"menjadi" di sini dalam konteks sense bahasa Inggris: an idea becoming reality, mengacu kepada awal mula ide, mengalami dinamika, bertransformasi menjadi X.
0 Comments