Hetty Kus Endang: Menganyam Warisan Dayak melalui Kain Pantang dan Pemberdayaan Perempuan
| Hetty Kus Endang Dayak Sintang. Kredit gambar: Kompas |
Hetty Kus Endang adalah pegiat budaya Dayak asal Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, yang mendedikasikan dirinya untuk melestarikan kain pantang (tenun ikat Dayak) melalui Galeri Kain Pantang dan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang.
Berbekal semangat pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan, ia berhasil membawa karya para penenun Dayak menembus pasar nasional hingga tampil dalam berbagai ajang bergengsi, menjadikannya sosok inspiratif dalam menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kehidupan Awal
Hetty Kus Endang lahir di Nanga Tangoi, Kabupaten Sintang,
Kalimantan Barat, pada 1 Januari 1990. Ia tumbuh dan besar di lingkungan
masyarakat Dayak yang masih memegang teguh nilai-nilai adat dan budaya leluhur.
Sejak kecil, Hetty telah akrab dengan kain pantang atau tenun ikat Dayak,
sebuah warisan budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan
masyarakat di kampung halamannya. Kedekatan dengan tradisi tersebut membentuk
kecintaan sekaligus kepeduliannya terhadap pelestarian budaya Dayak.
Dalam kehidupan keluarganya, Hetty menikah dengan Dian Beni
Yuda dan dikaruniai dua orang anak. Di tengah perannya sebagai istri dan ibu,
ia tetap aktif mengabdikan diri untuk mengembangkan potensi masyarakat,
khususnya para perempuan penenun di Kabupaten Sintang.
Pendidikan
Pendidikan dasar ditempuh Hetty di SD Negeri 18 Kampung
Ladang, Sintang (1996–2001). Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan di SLTP
Panca Setya II Sintang (2001–2004), kemudian menempuh pendidikan menengah di
SMA Santo Paulus Nyarumkop, Kota Singkawang (2004–2007).
Semangat belajarnya mengantarkan Hetty ke jenjang perguruan
tinggi. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Komunikasi (FISKOM) Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah,
pada 2011. Bekal akademik tersebut memperkuat kemampuannya dalam membangun
jejaring, mengembangkan komunikasi publik, serta memasarkan produk budaya lokal
hingga dikenal secara nasional.
Kiprah di Bidang Organisasi Sosial dan Adat Budaya Dayak
Sepulang dari dunia pendidikan, Hetty memilih mengabdikan
diri bagi masyarakat dan budaya Dayak. Pada 2014, ia melihat para penenun kain
pantang di Kabupaten Sintang menghadapi persoalan serius, yakni minimnya akses
pemasaran sehingga hasil karya mereka hanya tersimpan di rumah dan tidak
memiliki nilai ekonomi yang memadai. Di sisi lain, sebagian besar penenun telah
berusia lanjut sehingga keberlangsungan tradisi menenun terancam.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Hetty mulai
mempromosikan kain pantang melalui jejaring pertemanan dan media sosial. Upaya
sederhana itu berkembang menjadi gerakan pemberdayaan yang melibatkan sekitar
130 perempuan penenun dari empat desa di Kabupaten Sintang. Ia kemudian
mendirikan Galeri Kain Pantang di Kota Sintang sebagai pusat pemasaran
sekaligus ruang promosi bagi karya para artisan tenun ikat Dayak.
Melalui galeri tersebut, Hetty tidak hanya membantu
memasarkan hasil tenun, tetapi juga mendampingi para penenun memperoleh modal
produksi, menjaga kualitas karya, dan membuka akses ke pasar yang lebih luas.
Berkat kerja kerasnya, kain pantang mulai dikenal dalam berbagai pameran
nasional, tampil dalam peragaan busana, hingga dipasarkan di Sarinah Jakarta
sejak 2024. Karya para penenun binaannya juga digunakan sebagai busana delegasi
VVIP pada World Water Forum Ke-10 di Bali tahun 2024.
Komitmennya terhadap pelestarian budaya semakin kuat dengan
mendirikan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang pada 2024. Yayasan ini
menjadi pusat edukasi bagi generasi muda, mahasiswa, wisatawan, dan masyarakat
umum untuk mempelajari proses pembuatan tenun ikat Dayak, mulai dari pengikatan
benang, pewarnaan alami, hingga penenunan. Rumah Belajar juga menjadi ruang
transfer pengetahuan dari para penenun senior kepada generasi muda agar tradisi
menenun tetap berlanjut.
Bagi Hetty, pelestarian kain pantang tidak hanya berkaitan
dengan menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan
perempuan dan pelestarian lingkungan. Ia mendorong penggunaan pewarna alami
dari tumbuhan lokal sekaligus mengajak masyarakat membudidayakan tanaman
pewarna sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian alam.
Inspirasi dan Motivasi bagi Orang Lain
Hetty Kus Endang menunjukkan bahwa pelestarian budaya akan
memiliki dampak yang lebih besar apabila disertai dengan pemberdayaan
masyarakat. Melalui dedikasinya, kain pantang tidak lagi dipandang sekadar
produk kerajinan tradisional, melainkan menjadi simbol identitas budaya Dayak,
sumber penghidupan bagi para perempuan penenun, serta media pelestarian
lingkungan.
Perjalanan Hetty membuktikan bahwa kepedulian terhadap
budaya lokal dapat melahirkan perubahan nyata ketika dijalankan dengan
ketekunan, inovasi, dan semangat kolaborasi. Ia menjadi inspirasi bagi generasi
muda Dayak untuk mencintai warisan leluhur, berani berinovasi, serta menjadikan
budaya sebagai kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui
kerja yang konsisten, Hetty telah menunjukkan bahwa melestarikan tradisi
berarti sekaligus membangun masa depan.
Bionarasi ini telah disusun dengan alur yang Anda minta dan menggunakan gaya ensiklopedis yang sesuai untuk buku biografi tokoh.
Penulis: Rangkaya Bada
0 Comments