Ingkong Ala: Dari Perbatasan Kalimantan menuju Panggung Kepemimpinan Provinsi

Ingkong Ala
Ingkong Ala. Ist.

Ingkong Ala meniti perjalanan dari birokrasi sebagai PNS, dunia usaha, hingga politik sebelum dipercaya menjabat sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Utara. Berbekal pengalaman panjang mengabdi di kawasan perbatasan, ia dikenal sebagai pemimpin yang berkomitmen memperkuat pelayanan publik, memperluas akses pendidikan, serta mendorong pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Di antara kabut pagi dan lebat hutan tropis Kalimantan Utara, lahir seorang anak kampung bernama Ingkong Ala, tepat pada 17 November 1966 di Long Nawang, sebuah wilayah pedalaman yang kini masuk wilayah Kabupaten Malinau. 

Jauh dari sorotan ibu kota, kehidupan awalnya dibentuk oleh realitas keras pedalaman dan keterbatasan infrastruktur. Namun, justru dari sanalah tekad dan semangatnya terasah.

Putra daerah ini menapaki pendidikan dasarnya di SDN 09 Mara I dan melanjutkan ke SMPN I serta SMAN I Tanjung Selor, sebuah kota kecil yang kelak menjadi salah satu pusat aktivitas politiknya. Selepas masa sekolah, Ingkong mengawali karier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Bulungan sejak 1988. Di sinilah ia mengabdi selama lebih dari satu dekade, khususnya di Dinas Kesehatan.

Karier di birorkasi

Sebagai staf dinas, ia kerap bertugas ke pelosok daerah perbatasan, menyaksikan langsung minimnya akses kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Pengalaman-pengalaman itu membekas dalam dirinya. Perjalanan ke desa-desa yang terisolasi menjadi semacam panggilan batin. Ia merasa sistem pemerintahan yang ada belum cukup tanggap menjawab kebutuhan rakyat di wilayah terluar.

Dengan idealisme dan keresahan yang mendalam, Ingkong memutuskan untuk berhenti sebagai PNS dan beralih ke sektor swasta. Ia terjun ke dunia konstruksi dan mendirikan serta memimpin PT Bahtera Indah Jaya sejak 2005. Dunia usaha memberinya ruang untuk bergerak lebih luwes, namun idealismenya untuk memperjuangkan pembangunan tidak surut. Justru dari dunia swasta, ia melihat peluang untuk berkontribusi lebih luas melalui jalur politik.

Tahun 2010 menjadi titik balik. Ia bergabung dengan Partai Hanura, sebuah partai yang saat itu tengah berkembang pesat. Dalam waktu singkat, karier politiknya menanjak. Ia dipercaya menjadi Ketua DPC Hanura Kabupaten Bulungan, kemudian menjadi Pelaksana Tugas Sekretaris DPD Hanura Provinsi Kalimantan Utara (2014–2015), dan akhirnya dipercaya sebagai Ketua DPD Hanura Kalimantan Utara pada 2015. Kepiawaiannya memimpin organisasi membuatnya duduk di kursi Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Utara (2014–2019), sebelum mengundurkan diri untuk maju dalam Pilkada Bulungan 2015.

Wakil Bupati Bulungan periode 2016–2020

Bersama Bupati Sudjati, ia terpilih sebagai Wakil Bupati Bulungan periode 2016–2020. Duet ini dikenal dekat dengan rakyat dan berkomitmen membangun daerah, terutama di bidang pelayanan publik dan konektivitas wilayah. Pada periode berikutnya, ia kembali mendampingi Bupati terpilih Syarwani (2021–2024), memperkuat posisinya sebagai tokoh kunci dalam politik daerah.

Pada Februari 2021, ketika Bupati terpilih belum dilantik, Ingkong sempat menjadi Bupati Bulungan selama sepekan (11–17 Februari). Meskipun singkat, masa ini menjadi simbol kepercayaan publik terhadap dirinya. Kepemimpinan singkat itu pun menjadi pelengkap dari karier politiknya yang kaya pengalaman, mulai dari legislatif hingga eksekutif.

Wakil Gubernur Kalimantan Utara

Tak berhenti di kabupaten, Ingkong melangkah lebih jauh. Pada Pilkada 2024, ia mendampingi Zainal Arifin Paliwang sebagai calon Wakil Gubernur Kalimantan Utara. Pasangan ini menang dan dilantik pada Februari 2025, menandai babak baru dalam kepemimpinannya—kali ini di tingkat provinsi. Dengan pengalaman panjang dan kedekatan yang nyata dengan rakyat perbatasan, Ingkong Ala membawa perspektif akar rumput dalam merumuskan kebijakan provinsi.

Di luar politik, Ingkong aktif dalam berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum FORKI Bulungan (2005–2014), Ketua I Pebeka Tawai Dayak Kenyah Kalimantan Timur (2005–sekarang), hingga Ketua Laskar Merah Putih Bulungan (2010–2015). Ia juga memimpin Komite Sekolah SMP Agape Bulungan, menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan generasi muda.

Pendidikan formalnya ia lanjutkan hingga perguruan tinggi. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dari STIE Bulungan Tarakan (2002), dan kemudian menyelesaikan Magister Manajemen di Universitas Mulawarman pada 2013. Bagi Ingkong, pendidikan adalah tangga perubahan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi bagi seluruh masyarakat Kalimantan Utara.

Dalam kehidupan keluarga, ia dikenal sebagai sosok ayah penyayang. Ia memiliki empat anak: Agustina Selima, Herry Mexygo, Heber Nego, dan Herlinda Ingkong. Istri pertamanya, alm. Herlina Djalung, wafat, dan kini ia bersama pasangannya Kornie Serliany, yang mendampinginya dalam menjalani tugas kenegaraan dan kehidupan pribadi.

Ingkong Ala adalah representasi pemimpin dari daerah perbatasan yang tak melupakan akar. Ia membuktikan bahwa suara dari pelosok bisa menggema sampai ke pusat pemerintahan, bila disuarakan dengan kerja nyata, ketekunan, dan integritas. Dari desa kecil di Long Nawang hingga ruang-ruang kebijakan di ibu kota provinsi, ia hadir sebagai penghubung antara yang terpinggirkan dan mereka yang memegang kuasa. *)


0 Comments

Type above and press Enter to search.