Kristoporus Riski: Bujang Gawai yang Terus Bertumbuh dan Menemukan Makna dari Perjalanan Hidup
Kristoporus Riski, si Bujang Gawai. Ist.
Sanggau, dayaktoday.com — Anak muda dan perubahan zaman. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Zaman terus bergerak, teknologi berkembang, informasi datang silih berganti. Di tengah arus perubahan itu, anak muda dituntut tidak sekadar menjadi penonton.
Mereka perlu belajar. Membaca keadaan. Berpikir kritis. Membangun jejaring. Dan, yang paling penting, berani bertumbuh.
Kristoporus Riski adalah salah seorang pemuda yang memilih jalan itu.
Baca Dr. Yansen TP: Memajukan Dayak Melalui Gerakan Literasi
Pemuda budayawan Kalimantan Barat ini pernah menyandang gelar Bujang Gawai pada 2019. Namun, gelar dan pencapaian bukanlah titik akhir baginya. Justru, setiap pengalaman menjadi pijakan untuk terus melangkah.
Riski: keinginan untuk terus berkembang
Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Riski: keinginan untuk terus berkembang.
Ia adalah sosok yang peduli terhadap perkembangan. Bukan hanya perkembangan zaman, melainkan juga perkembangan dirinya sendiri. Baginya, manusia tidak boleh berhenti pada satu titik. Selalu ada ruang untuk belajar. Selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Sikap tersebut tidak datang tiba-tiba.
Sejak kecil, Riski telah terbiasa belajar secara mandiri. Ia berusaha mencari tahu, memahami, dan menemukan jawaban melalui proses belajarnya sendiri. Kebiasaan inilah yang kemudian turut membentuk dirinya menjadi pribadi yang berpikiran kritis.
Baca 101 Tokoh Dayak: Orang Dayak Menulis Sejarahnya Sendiri
Belajar mandiri mengajarkannya satu hal penting: bahwa pengetahuan tidak selalu datang dengan sendirinya. Ada kemauan yang harus dibangun. Ada rasa ingin tahu yang harus dipelihara.
Dari sanalah cara pandang seseorang terhadap kehidupan mulai terbentuk.
Riski pun menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus. Ada banyak peristiwa yang datang silih berganti. Ada pengalaman yang menyenangkan, ada pula yang mungkin tidak mudah untuk dilalui. Namun, semuanya memiliki satu kesamaan. Semuanya adalah pelajaran.
Pengalaman hidup penting
Bagi Riski, pengalaman hidup yang telah berlalu bukan sekadar masa lalu. Ia adalah guru. Setiap kejadian meninggalkan sesuatu yang dapat dipelajari untuk menjalani kehidupan berikutnya.
Mungkin karena itu pula, ketika berbicara tentang generasi muda, pesan yang disampaikannya tidak berhenti pada kata-kata tentang kesuksesan. Ia berbicara tentang proses Tentang bagaimana anak muda harus memanfaatkan zaman yang mereka miliki hari ini.
Baca Gebyar Budaya Dayak SMA Don Bosco Sanggau: Melangkah Bersama Budaya Menuju Masa Depan
Generasi muda, menurutnya, hidup dalam sebuah era yang memberikan akses informasi begitu luas. Pengetahuan dapat dicari dengan mudah. Dunia seolah berada dalam genggaman. Namun, kemudahan akses informasi tidak otomatis menjadikan seseorang berpengetahuan. Diperlukan kemauan untuk belajar. Kemampuan untuk menganalisis. Dan keberanian untuk berpikir kritis.
Riski mengingatkan agar anak muda tidak menjadi pribadi yang tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan. Teruslah belajar. Bangun koneksi. Amati situasi. Analisis keadaan. Berpikirlah kritis.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: jangan merendahkan orang lain.
Kecerdasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada sesama. Sebaliknya, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menghargai orang lain. Di sinilah pentingnya tata krama.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manners atau sopan santun terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sederhana. Padahal, justru dari hal-hal sederhana itulah karakter seseorang terlihat.
Bagi Riski, menjadi cerdas dan berpikir kritis harus berjalan bersama dengan kemampuan menghargai sesama. Lalu, bagaimana dengan mimpi? Pesannya sederhana: kejar!
Jika memiliki impian, jangan hanya menyimpannya dalam angan-angan. Beranilah mencoba. Sebab, mencoba selalu memberikan kemungkinan, sedangkan tidak mencoba hanya menyisakan pertanyaan tentang apa yang mungkin terjadi.
It is better to try than not at all.
Nasihat itu terasa semakin kuat karena lahir dari perjalanan hidup yang telah dilaluinya sendiri.
Ttiap orang punya jalan masing-masing
Riski memahami bahwa setiap orang punya jalan masing-masing. Tidak semua orang harus menempuh rute yang sama untuk mencapai keberhasilan. Tidak semua keberhasilan harus memiliki bentuk yang seragam. Maka, temukan jalanmu sendiri.
Belajar lebih banyak. Bangun relasi. Kenali keadaan. Berpikirlah kritis. Jangan meremehkan tata krama. Jangan pula takut mengejar mimpi.Sebab, masa depan adalah sesuatu yang sedang dibangun hari ini.
Baca Tim Perumus Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau, Kalbar, 16 Mei 2026
Kristoporus Riski mungkin pernah dikenal sebagai Bujang Gawai. Ia adalah pemuda budayawan Kalimantan Barat. Namun, di balik gelar dan identitas itu, ada perjalanan panjang seorang manusia yang terus belajar dari kehidupan.
Riski tumbuh dari pengalaman. Ia ditempa oleh proses. Dan ia memilih untuk terus berkembang.
Pesannya kepada generasi muda pada akhirnya kembali kepada satu hal: jangan berhenti belajar dan jangan takut mencoba. Sebab, kehidupan selalu menyediakan pelajaran bagi mereka yang mau melihat.
Baca Kongres Literasi Dayak Internasional Tegaskan Masa Depan Dayak Bertumpu pada Pengetahuan dan Identitas Budaya
Setiap langkah yang berani diambil hari ini, sekecil apa pun, dapat menjadi jalan menuju sebuah senyum di masa depan.
0 Comments