Long Midang: Garuda di Dada. Malaysia di Perut
| Long Midang, Kalimantan Utara: masyarakat yang menjaga adat, hutan, dan Indonesia di beranda utara Borneo. |
Long Midang di perbatasan Indonesia-Malaysia menyimpan kisah tentang nasionalisme, kekerabatan Dayak Lundayeh, dan ironi "Garuda di dada, Malaysia di perut".
Narasi ini merekam secuil kehidupan masyarakat yang menjaga adat, hutan, dan Indonesia di beranda utara Borneo.
Garuda di Dada. Malaysia di Perut
Dalam perjalanan panjang sebagai penulis, ada tempat-tempat yang selesai dipahami begitu kendaraan berhenti. Ada pula tempat yang baru mulai dipahami justru ketika kita meninggalkannya. Long Midang termasuk yang kedua.
Baca Rumah Betang Saham 150 Tahun, Warisan Dayak yang Tetap Dihuni
Nama itu nyaris tak pernah muncul dalam percakapan nasional. Tidak menjadi tujuan wisata utama. Tidak pula menghiasi berita-berita televisi. Padahal, di sanalah Indonesia berdiri setiap hari. Bukan sebagai slogan. Melainkan sebagai kehidupan.
Long Midang berada di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebuah wilayah perbatasan yang dihuni masyarakat Dayak Lundayeh. Dari sinilah jalan menuju Ba' Kelalan, Sarawak, Malaysia, terbentang hanya sekitar satu kilometer. Begitu dekat. Terlalu dekat untuk disebut negeri asing. Terutama bagi orang-orang yang sejak berabad-abad lalu hidup dalam satu rumpun budaya.
Saya menginjakkan kaki di Long Midang pada 15 Juni 2025. Bersama Dr. Yansen TP dan Pepih Nugraha. Kami bertiga tergabung dalam Tim Espelindo. Empat Sekawan Pegiat Literasi Indonesia. Seorang anggota lain batal berangkat. Setelah melapor kepada petugas TNI yang menjaga perbatasan, iring-iringan kendaraan kami bergerak menuju garis batas Indonesia dan Malaysia.
Tidak ada pagar menjulang. Tidak ada benteng beton. Hanya sebuah jalan. Patok perbatasan. Lalu hamparan pegunungan yang membentang tanpa mengenal kewarganegaraan.
Baca Mengapa Orang Dayak Harus Menulis Sejarah Tanahnya Sendiri?
Yansen meminta saya dan Pepih berdiri tepat di garis batas. Ia mengangkat telepon genggamnya. Beberapa kali kamera berbunyi. Kami tertawa. Rasanya aneh. Begitu mudah berpindah beberapa langkah dari satu negara ke negara lain. Namun kami tahu, yang sesungguhnya tidak mudah adalah memahami kehidupan orang-orang yang setiap hari hidup di perbatasan.
"Saudara-saudara kami sejak dahulu tinggal di sana."
Yansen menunjuk ke arah Ba' Kelalan.
Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk menjelaskan sejarah panjang yang tidak pernah selesai hanya dengan melihat peta.
Orang Lundayeh telah mendiami kawasan pegunungan ini jauh sebelum Indonesia dan Malaysia berdiri sebagai negara modern. Mereka membuka ladang. Membangun rumah panjang. Menyusuri sungai. Menamai bukit dan lembah. Ketika pemerintah kolonial Belanda dan Inggris membagi Pulau Borneo ke dalam wilayah kekuasaan masing-masing, masyarakat adat tidak pernah diminta pendapatnya. Garis batas lahir dari meja perundingan. Bukan dari kehidupan orang-orang yang telah lebih dahulu tinggal di sana.
Baca Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial
Karena itu, bagi masyarakat Long Midang, Ba' Kelalan bukan sekadar wilayah negara lain. Di sana tinggal saudara. Paman. Sepupu. Kerabat. Mereka masih saling menghadiri pesta adat. Mengunjungi keluarga. Bermain sepak bola. Menjaga hubungan kekeluargaan yang diwariskan turun-temurun. Bahasa yang mereka gunakan tetap sama. Cerita leluhur yang mereka tuturkan juga sama. Yang berubah hanyalah administrasi negara. Kebudayaan tidak pernah mengenal paspor.
Dalam percakapan dengan warga, saya mendengar sebuah kalimat yang kemudian terus terngiang sepanjang perjalanan pulang.
Garuda di dada. Malaysia di perut
Mereka mengucapkannya tanpa nada sinis. Tidak pula dengan kemarahan. Kalimat itu lahir dari kenyataan hidup sehari-hari. Mereka mencintai Indonesia. Mereka mengibarkan Merah Putih. Anak-anak mereka belajar lagu Indonesia Raya. Namun kebutuhan pokok sering kali lebih mudah diperoleh dari Malaysia. Akses lebih dekat. Barang lebih tersedia. Hubungan ekonomi lintas batas menjadi bagian dari kehidupan yang sulit dihindari.
Kalimat itu bukan bentuk pengingkaran terhadap Indonesia. Justru sebaliknya. Ia adalah cara paling jujur untuk mengatakan bahwa nasionalisme membutuhkan perhatian negara. Cinta kepada tanah air tidak dapat terus-menerus dibebankan kepada masyarakat perbatasan tanpa diikuti kehadiran negara yang nyata.
Namun Long Midang bukan hanya cerita tentang batas negara. Ia juga cerita tentang manusia yang berhasil menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan.
Hutan primer masih membentang di sekeliling kampung. Sungai mengalir jernih. Udara terasa ringan. Rumah-rumah panjang masih menjadi pusat kehidupan sosial. Di tempat seperti ini, alam tidak dipandang sebagai komoditas semata. Hutan adalah ruang hidup. Tempat berburu. Tempat mengambil rotan. Tempat mengenang leluhur. Tempat anak-anak belajar memahami alam sebagaimana orang tua mereka dahulu belajar dari generasi sebelumnya.
Ketika banyak daerah berlomba menjual konsep ekowisata, masyarakat Long Midang sesungguhnya telah lama menjalankannya tanpa merasa perlu memberi nama. Mereka menjaga hutan karena di situlah kehidupan mereka berakar. Mereka menerima tamu dengan ramah. Mereka terbuka terhadap perubahan. Namun mereka juga memahami bahwa pembangunan yang mengabaikan adat dan lingkungan hanya akan melahirkan kehilangan.
Perbatasan sering dipahami sebagai garis pemisah. Long Midang mengajarkan hal yang berbeda. Perbatasan juga dapat menjadi ruang perjumpaan. Tempat dua negara saling berhadapan. Tempat dua sistem pemerintahan berjalan berdampingan. Tempat satu kebudayaan tetap bertahan meskipun dipisahkan oleh batas politik.
Dalam perjalanan kembali meninggalkan Long Midang, saya memandang sekali lagi pegunungan yang membentang hingga Ba' Kelalan. Sulit membedakan mana hutan Indonesia dan mana hutan Malaysia. Alam tidak mengenal batas yang dibuat manusia. Yang mengenalnya hanyalah peta. Pos pemeriksaan. Dan administrasi negara.
Baca Pengakuan Hutan Adat Tawang Panyai Tapang Sambas Sekadau: Perjuangan 4 Tokoh Dayak dan Dampaknya bagi Masyarakat
Namun di tengah kenyataan itu, masyarakat Dayak Lundayeh memilih tetap berdiri sebagai warga Indonesia. Mereka menjaga adat. Menjaga bahasa ibu. Menjaga hutan. Menjaga tanah leluhur. Mereka melakukannya tanpa banyak bicara. Tanpa pidato. Tanpa panggung.
Barangkali di situlah makna Indonesia paling mudah dipahami. Bukan di pusat kekuasaan. Melainkan di tempat-tempat sunyi seperti Long Midang. Di sebuah kampung kecil di utara Kalimantan. Tempat orang masih bisa tersenyum sambil berkata, "Garuda di dada. Malaysia di perut." Kalimat yang terdengar sederhana. Namun menyimpan pekerjaan rumah yang belum selesai bagi republik ini.
Jakarta, 24 Juli 2026
0 Comments