81 Tahun Indonesia Merdeka 17 Agustus 2026: Waktu dan Kita Tetap Berjalan

81 Indonesia Merdeka 17 Agustus 2026: Waktu dan Kita Tetap Berjalan
Gap kaya-miskin yang kian menganga menjadikan Indonesia: tidak adil dan tidak beradab. Ist.

Bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Jelang peringatan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026. Berbagai persoalan kemanusiaan, kebangsaan, dan kenegaraan masih datang silih berganti.

Kemiskinan belum sepenuhnya pergi. Ketimpangan tetap terasa. Kegelisahan sosial terus menemukan bentuk-bentuk baru.

Ada banyak hal yang membuat kita bertanya: ke mana sebenarnya negeri ini sedang berjalan?

Baca Yustianus dan Masri Sareb Putra: Nostalgia Dua Alumni di TangCity Bahas Reuni Akbar 110 Tahun PKN dan Buku Kenangan

Namun sebuah bangsa tidak dapat diukur hanya dari keadaan pada satu masa. Sejarah tidak pernah merupakan jalan yang lurus dan rata.

Historia lebih menyerupai sungai yang terus mencari jalan di antara batu, akar, dan tebing. Ada masa ketika arusnya deras. Ada saat ketika ia melambat, bahkan seolah-olah kehilangan arah. Tetapi selama air masih bergerak, sungai itu belum berhenti menjadi sungai.

Demikian pula Indonesia. Kita mungkin sedang berada dalam masa yang penuh retakan, tetapi kehidupan bangsa ini belum berhenti.

Kita perlu mengingat kembali ungkapan Jawa: rame ing gawe, sepi ing pamrih. Ramai dalam bekerja, tetapi sunyi dalam mengharapkan imbalan. Ungkapan ini mengandung kritik terhadap kecenderungan manusia modern yang sering ingin setiap kebaikannya diketahui, setiap jasanya dicatat, dan setiap pengorbanannya dikembalikan dalam bentuk penghargaan.


Kita masih tegak dan masih berjalan ke depan, seturut hukum alam yang sederhana: segala sesuatu yang hidup mempunyai dorongan untuk mempertahankan hidupnya. Bertumbuh. Lalu menemukan bentuk baru ketika berhadapan dengan kesulitan.

Baca Dayak Today

Karena itu, peringatan kemerdekaan tidak semestinya hanya menjadi perayaan tentang masa lalu. Kemerdekaan bukan benda yang selesai ketika Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan adalah pekerjaan yang terus-menerus.

Kemerdekaan menuntut kita bertanya apakah manusia di sekitar kita sungguh merasa merdeka. Apakah orang miskin mempunyai kesempatan untuk bangkit? Apakah anak-anak dari keluarga sederhana dapat bermimpi tanpa terlebih dahulu dikalahkan oleh keadaan?

Orang Miskin Selalu Ada Bersama Kita

Di sinilah perkataan Yesus tentang orang miskin menjadi relevan. Dalam Injil, kemiskinan bukan sesuatu yang boleh kita singkirkan dari pandangan hanya karena ia membuat perayaan kebangsaan terasa kurang sempurna.

“Orang miskin selalu ada padamu.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung filsafat kemanusiaan yang dalam.

Baca https://www.dayaktoday.com/2026/06/ribuan-mahasiswa-kepung-jakarta-demo.html

Isa Al-masih mengingatkan bahwa di tengah segala kemajuan, manusia selalu berhadapan dengan manusia lain yang membutuhkan perhatian, belas kasih, dan solidaritas. Orang miskin, janda, anak yatim, orang sakit, dan mereka yang tersisih adalah semacam ujian moral bagi sebuah masyarakat.

Ukuran sebuah bangsa bukan hanya seberapa besar kekayaannya. Melainkan bagaimana ia memperlakukan mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya sendiri.

Mother Teresa memahami hal itu bukan sebagai teori. Di Kalkuta, ia masuk ke ruang yang justru dihindari banyak orang. Bunda Teresa memandang tiang kemiskinan bukan sebagai statistik, melainkan sebagai wajah. Ia menyentuh manusia yang terlupakan, menemani mereka yang sekarat, dan memberikan kembali sesuatu yang sering kali lebih mahal daripada uang: rasa bahwa seseorang masih dianggap sebagai manusia.

Karena kepedulian dan belas kasihnya, Teresa dari Kalkuta kemudian dikenang sebagai santa.

Kita tentu tidak harus menjadi Mother Teresa. Dunia tidak menuntut setiap orang mengulangi seluruh jalan hidupnya. Tetapi kita mungkin dapat melakukan sesuatu yang kecil, bahkan sangat kecil, dari apa yang pernah dilakukannya. Seujung jari dari kepedulian itu pun sudah berarti apabila dilakukan dengan tulus.

Baca Petrus Gunarso Mohon Izin dan Restu Membangun Rumah Buku Dayak di Yogyakarta

Kita dapat membantu seorang anak sekolah, memberi makan seseorang yang lapar. Mengunjungi orang tua yang hidup sendirian. Memperhatikan seorang janda yang kesulitan. Atau sekadar menyediakan waktu untuk mendengarkan seseorang yang sedang kehilangan harapan.

Kebaikan tidak senantiasa harus monumental agar mempunyai makna. Kebaikan malah kerang terbungkus oleh salju. Ditutup oleh awan kelam niat-niat glorifikasi pribadi.

Umbi Tumbuh dalam Diam

Justru kehidupan sering dibangun oleh hal-hal yang tidak kelihatan. Umbi tumbuh di dalam tanah tanpa suara dan tanpa penonton. Akar bekerja dalam kegelapan sebelum batang dan daun muncul di permukaan. Mawar pun tidak langsung mekar; ia membutuhkan waktu, tanah, air, cahaya, dan kesunyian.

Ada proses yang memang harus berlangsung jauh dari sorotan. Begitu pula perubahan sosial. Banyak hal besar dalam kehidupan manusia dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah dikenal sejarah.

Mungkin karena itu kita perlu mengingat kembali ungkapan Jawa: rame ing gawe, sepi ing pamrih. Ramai dalam bekerja, tetapi sunyi dalam mengharapkan imbalan. Ungkapan ini mengandung kritik terhadap kecenderungan manusia modern yang sering ingin setiap kebaikannya diketahui, setiap jasanya dicatat, dan setiap pengorbanannya dikembalikan dalam bentuk penghargaan.

Baca Agnotologi di Borneo: Penjajahan yang Terjadi di Dalam Pikiran

Padahal ada pekerjaan yang nilainya justru terletak pada ketidakterlihatannya. Ia dilakukan karena memang harus dilakukan, bukan karena seseorang sedang menunggu tepuk tangan.

Pada usia 81 tahun, Indonesia membutuhkan manusia-manusia semacam itu. Bukan hanya mereka yang pandai berbicara tentang bangsa, tetapi mereka yang bersedia mengerjakan sesuatu bagi bangsa tanpa terlalu sibuk bertanya apakah namanya akan disebut. Petani yang terus menanam, guru yang tetap mengajar, orang tua yang membesarkan anak dengan segala keterbatasan, pekerja yang menjaga keluarganya tetap hidup, dan siapa saja yang masih mau menolong sesamanya adalah bagian dari kerja panjang mempertahankan Indonesia.

Tetap Tegak, Tetap Berjalan

Sebab kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya soal bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga merupakan kemampuan sebuah bangsa untuk menjaga martabat manusia di dalam dirinya sendiri. Sebuah negeri belum sepenuhnya merdeka apabila sebagian warganya masih hidup dalam ketakutan, kelaparan, penghinaan, atau ketidakberdayaan.

Maka, di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja ini, kita tidak perlu kehilangan harapan. Harapan bukan sikap naif yang berpura-pura bahwa semua persoalan telah selesai. Harapan justru lahir dari keberanian melihat kenyataan apa adanya, lalu memilih untuk tidak menyerah kepadanya.

Indonesia sudah berjalan selama 81 tahun. Jalan di depannya tentu masih panjang, dan mungkin tidak selalu terang. Tetapi selama kita masih mau berjalan, masih mau bekerja, masih mau peduli, dan masih mau melihat manusia lain sebagai saudara, perjalanan itu belum kehilangan makna.

Baca Transmigran Kuasai Pasar Sayur Keliling di Kalimantan Barat

Suatu bangsa tidak diselamatkan oleh slogan-slogan besar saja. Ia diselamatkan oleh kebiasaan kecil untuk tetap melakukan yang benar ketika tidak ada yang melihat. Di sanalah kemerdekaan menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling dalam: manusia yang memerdekakan manusia lain dari kesepian, kelaparan, ketidakpedulian, dan keputusasaan.

Pada usia 81 tahun, Indonesia mungkin memang tidak sedang baik-baik saja. Tetapi kita masih di sini. Kita masih mempunyai tanah yang dipijak, sejarah yang diwariskan, dan masa depan yang belum ditulis.

Baca Dayak di Titik Hijau Pulau Kalimantan

Karena itu, kita tetap tegak. Kita tetap berjalan. Bukan karena jalan di depan bebas dari batu, melainkan karena hidup selalu menemukan jalannya sendiri.

Harapan yang tersisa

Adakah harapan tersisa? Ya, harapan satu-satunya milik manusia paling berharga. Sebagaimana dicatat ribuan tahun silam oleh Yesaya:

Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.

Jakarta, 16 Agustus 2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.