Bendera Dayak : Jangan Salah Menilai!
| Bendera Dayak : jangan salah menilai! Ist. |
Bendera warna merah kuning biru berkibar di seantero penjuru pulau Dayak jelang 17 Agustus 2026. Dinaikkan. Lalu ditutunkan petugas. Dayak bukan ingin merdeka, tapi menuntut keadilan sosial. Jangan salah menilai!
Bendera bukan semata-mata kain yang dijahit, diberi warna, lalu diikatkan pada sebatang tiang. Bendera memang benda, tetapi manusia tidak pernah berhenti pada benda.
Di balik warna dan bentuk bendera. Manusia menaruh ingatan, pengalaman, kebanggaan, bahkan luka. Karena itu, sebuah bendera dapat berarti sangat berbeda bagi orang yang melihatnya dari luar dan bagi mereka yang mengalaminya dari dalam.
Baca Dayak Indonesia dan Malaysia: Satu Tubuh Dua Wajah Berbeda
Orang luar mungkin melihat selembar kain. Orang yang berada di dalam sejarahnya dapat melihat sebuah dunia.
Bendera Dayak yang dinaikkan
Barangkali itulah yang perlu kita pahami ketika sebuah bendera Dayak dinaikkan di Kalimantan, kemudian diturunkan oleh petugas. Peristiwanya tampak sederhana.
Ada kain yang dinaikkan, kemudian diturunkan. Tetapi sesungguhnya yang sedang berhadapan bukan hanya petugas dengan kain. Ada sesuatu yang lebih halus dan lebih dalam: negara berhadapan dengan simbol identitas; hukum berhadapan dengan ingatan; dan kekuasaan berhadapan dengan perasaan memiliki.
Merah Putih adalah Indonesia sebagai negara. Bendera Dayak, dalam konteks kebudayaan, dapat menjadi Dayak sebagai identitas. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat hidup dalam kesadaran yang sama, sebagaimana seseorang dapat mencintai rumah tempat ia tinggal sekaligus mencintai tanah tempat leluhurnya dahulu berpijak.
Hal yang menarik, setelah diturunkan, bendera itu dinaikkan kembali. Bahkan semakin ramai. Di sini kita menemukan satu hal yang sering luput dalam cara berpikir administratif: menurunkan sebuah simbol tidak selalu berarti menurunkan maknanya. Sebab makna tidak berada pada tiang. Ia berada dalam ingatan manusia. Kain dapat diturunkan dengan tangan, tetapi sesuatu yang telah berakar dalam kesadaran tidak semudah itu diturunkan.
Apa sebenarnya salahnya sebuah bendera?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi justru karena itu ia layak diajukan. Kita hidup dalam masyarakat yang dipenuhi bendera. Universitas mempunyai bendera. Fakultas mempunyai bendera. Program studi pun dapat mempunyai bendera. Organisasi mahasiswa, kelompok olahraga, komunitas kebudayaan, lembaga sosial, dan berbagai perkumpulan memiliki lambang serta bendera sendiri. Kita menerima kenyataan itu sebagai sesuatu yang wajar karena kita memahami bahwa tidak setiap bendera bermaksud menjadi bendera negara.
Baca Dayak yang Dibagi-bagi dalam Peta Kolonial
Bendera sebuah universitas tidak sedang menyaingi Merah Putih. Bendera fakultas tidak sedang mendeklarasikan negara baru. Bendera sebuah program studi tidak sedang mengklaim kedaulatan atas wilayah tertentu. Ia hanya menyatakan identitas. Ia mengatakan: inilah kelompok kami, inilah sejarah kami, inilah sesuatu yang kami anggap penting untuk dikenali.
Maka ketika melihat bendera Dayak, pertanyaan pertama seharusnya bukan: apakah ini bendera Indonesia? Jawabannya jelas: bukan. Merah Putih adalah bendera kebangsaan Indonesia. Tetapi pertanyaan berikutnya lebih penting: apakah karena ia bukan bendera kebangsaan Indonesia, ia otomatis menjadi ancaman terhadap Indonesia?
Di sinilah kita memerlukan kejernihan sekaligus kebesaran hati.
Identitas tidak sama dengan kedaulatan. Kebudayaan tidak sama dengan negara. Rasa memiliki terhadap suatu kelompok tidak dengan sendirinya berarti penolakan terhadap negara tempat kelompok itu hidup. Seseorang dapat merasa sebagai Dayak dan sekaligus sebagai orang Indonesia. Bahkan bagi banyak orang, kedua identitas itu tidak berada dalam pertentangan. Yang satu menjelaskan akar kebudayaannya; yang lain menjelaskan rumah politiknya.
Indonesia dibangun dari keberagaman
Indonesia sendiri dibangun dari kenyataan semacam itu. Republik ini tidak lahir dari satu kebudayaan tunggal. Ia lahir dari perjumpaan banyak masyarakat, bahasa, agama, adat, sejarah, dan pengalaman. Karena itu, menjadi Indonesia tidak harus berarti berhenti menjadi Dayak, Jawa, Batak, Bali, Papua, Sunda, atau identitas kebudayaan lainnya. Justru di situlah salah satu keindahan Indonesia: kita menjadi satu bukan karena kita sama, melainkan karena kita bersedia hidup bersama di tengah ketidaksamaan.
Baca 81 Tahun Indonesia Merdeka 17 Agustus 2026: Waktu dan Kita Tetap Berjalan
Persatuan yang sehat tidak menuntut manusia menghapus asal-usulnya. Ia meminta manusia menempatkan asal-usul itu dalam suatu ruang bersama yang lebih luas. Sebab akar tidak pernah menjadi musuh bagi pohon. Justru karena memiliki akar, pohon dapat berdiri, tumbuh, dan menaungi yang lain. Demikian pula identitas kebudayaan: ia dapat menjadi akar yang membuat seseorang mengetahui dari mana ia datang, tanpa harus membuatnya menolak tanah tempat ia berpijak bersama orang lain.
Dalam konteks itulah sebuah bendera kebudayaan seharusnya dibaca. Ia dapat menjadi tanda bahwa sebuah komunitas masih mengingat dirinya sendiri. Ia dapat menjadi simbol dari sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia dapat pula menjadi cara sederhana untuk mengatakan bahwa kebudayaan tertentu belum selesai dengan dunia, dan masih ingin berbicara kepada anak-anaknya tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Tetapi ada sesuatu yang sering tidak dipahami oleh mereka yang melihat dari luar: makna simbol tidak selalu dapat dijelaskan kepada orang yang tidak pernah mengalaminya. Ada pengalaman yang hanya bisa dipahami dari dalam. Orang yang tidak pernah hidup dalam sebuah kebudayaan mungkin mengetahui nama sebuah suku, tetapi belum tentu memahami apa arti menjadi bagian dari suku itu. Ia dapat membaca sejarahnya, tetapi tidak serta-merta merasakan denyut ingatannya.
Di situlah simbol memperoleh kekuatannya.
Baca Transmigran Kuasai Pasar Sayur Keliling di Kalimantan Barat
Misalkan seseorang yang melihat sebatang pohon tua. Baginya mungkin hanya pohon. Tetapi bagi orang yang tumbuh di bawah pohon itu, ia dapat menjadi bagian dari masa kanak-kanak, tempat ayah pernah duduk, tempat keluarga pernah berkumpul, atau penanda bahwa kampungnya masih seperti dahulu. Benda yang sama mempunyai dua dunia makna karena dua orang mempunyai pengalaman yang berbeda terhadapnya.
Begitu pula bendera.
Bagi seseorang yang tidak mempunyai hubungan batin dengan sejarah Dayak, bendera itu mungkin hanya selembar kain dengan warna tertentu. Tetapi bagi orang yang mengalaminya dari dalam, ia dapat mengandung sesuatu yang jauh lebih dalam: ingatan tentang leluhur, tanah, bahasa, adat, komunitas, dan perjalanan sebuah masyarakat menghadapi perubahan zaman.
Ada wajah-wajah yang mungkin telah lama tiada di dalam ingatan itu. Ada suara orang tua yang dahulu berbicara dalam bahasa yang kini semakin jarang terdengar. Ada kampung yang berubah, hutan yang menyusut, sungai yang tetap mengalir sementara manusia berganti. Semua itu dapat hadir dalam sesuatu yang bagi orang lain hanyalah kain.
Baca Cornelis Ajak Masyarakat Dayak Kibarkan Merah Putih Sambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Itulah sebabnya kita harus berhati-hati ketika menilai simbol. Tidak semua yang tidak kita kenal adalah ancaman. Tidak semua yang berbeda adalah pembangkangan. Dan tidak semua tanda identitas merupakan deklarasi politik. Kita perlu membaca maksud, konteks, dan keadaan yang melahirkannya. Lebih dari itu, kita perlu mempunyai kerendahan hati untuk mengakui bahwa mungkin ada bagian dari makna itu yang tidak kita mengerti karena kita tidak pernah hidup di dalam pengalaman yang sama.
Negara tentu mempunyai hak untuk menjaga simbol dan hukum yang berkaitan dengan kedaulatan negara. Tidak ada yang perlu diperdebatkan mengenai kedudukan Merah Putih sebagai bendera kebangsaan. Tetapi negara yang kuat semestinya juga mampu membedakan antara ancaman terhadap kedaulatan dan ekspresi kebudayaan. Negara yang besar tidak perlu tergesa-gesa merasa kecil hanya karena melihat sebuah simbol yang bukan miliknya.
Sebab ada perbedaan besar antara mengatakan, "Kami Dayak," dan mengatakan, "Kami bukan Indonesia." Kalimat pertama berbicara tentang identitas. Kalimat kedua berbicara tentang posisi politik. Keduanya tidak boleh diperlakukan sebagai hal yang sama hanya karena sama-sama menggunakan simbol. Di antara keduanya terdapat ruang yang luas: ruang kebudayaan, ruang ingatan, ruang harga diri, dan ruang bagi manusia untuk mengatakan bahwa ia mempunyai akar.
Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo
Mungkin justru di sinilah ukuran kedewasaan sebuah negara dapat dilihat. Negara yang tidak percaya diri akan mudah merasa terancam oleh simbol-simbol kecil. Negara yang percaya diri tahu bahwa identitas kebudayaan yang hidup tidak otomatis mengurangi kewibawaan negara. Sebaliknya, negara yang mampu memberikan ruang bagi berbagai identitas menunjukkan bahwa persatuannya tidak dibangun di atas ketakutan, melainkan di atas kepercayaan.
Bendera Merah Putih dan bendera lain
Bendera Merah Putih tidak menjadi kurang tinggi hanya karena di tempat lain ada bendera universitas, fakultas, organisasi, atau kebudayaan.
Kebesaran sebuah simbol tidak ditentukan oleh banyaknya simbol lain yang harus disingkirkan. Merah Putih memiliki tempatnya sendiri sebagai simbol negara. Bendera-bendera lain, dalam konteksnya, dapat mempunyai ruang makna yang berbeda.
Kita tidak perlu mempertentangkan sesuatu yang sejak awal tidak berada pada tingkat pengertian yang sama.
Baca Dari Rumah Buku Dayak ke Rumah Literasi Dayak: Sebuah Ide yang Men-jadi
Kita sering menyangka bahwa persatuan berarti hanya boleh ada satu tanda. Padahal kehidupan manusia tidak bekerja demikian. Dalam satu keluarga saja terdapat banyak identitas: ayah, ibu, anak, profesi, kampung asal, bahasa, pengalaman, dan berbagai kenangan. Semua itu tidak otomatis membuat seseorang terpecah. Justru keseluruhan identitas itulah yang membentuk dirinya. Manusia menjadi dirinya karena ia membawa banyak lapisan kehidupan sekaligus.
Begitu pula sebuah bangsa.
Indonesia bukan ruang kosong yang baru memperoleh makna ketika Merah Putih dikibarkan. Indonesia hidup melalui manusia-manusia yang membawa sejarahnya masing-masing. Mereka datang dari berbagai kampung, bahasa, adat, dan kebudayaan. Mereka membawa cerita tentang nenek moyang, tentang tanah yang mereka tinggali, tentang sungai yang menghidupi mereka, tentang rumah yang diwariskan, tentang doa yang diajarkan orang tua. Jika semua itu dihapus demi keseragaman, yang tersisa mungkin memang tampak lebih sederhana, tetapi belum tentu lebih Indonesia.
Indonesia bukan penghapusan perbedaan
Indonesia bukan penghapusan perbedaan. Indonesia adalah cara mengelola perbedaan.
Bendera, dengan demikian, dapat menjadi ujian kecil bagi cara kita memahami Indonesia. Apakah kita melihat perbedaan sebagai ancaman atau sebagai kenyataan yang harus dikelola? Apakah kita cukup dewasa untuk bertanya sebelum menuduh? Apakah kita bersedia memahami makna sebuah simbol dari pengalaman orang yang menggunakannya? Dan apakah kita sanggup menerima bahwa seseorang dapat mencintai tanah leluhurnya tanpa mengurangi kecintaannya kepada Indonesia?
Baca Bendera Borneo Raya yang Berkibar, Diturunkan: Dukungan Mulai Bermunculan
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena simbol selalu mempunyai dua sisi. Ada sisi yang tampak dan ada sisi yang dialami. Yang tampak dapat difoto, diukur, dan diatur. Yang dialami jauh lebih sulit. Ia hidup dalam ingatan. Ia tumbuh bersama seseorang sejak kecil. Ia kadang diwariskan tanpa pernah dituliskan. Ia dapat muncul kembali ketika seseorang mendengar sebuah lagu lama, mencium bau tanah setelah hujan, mendengar bahasa neneknya, atau melihat sebuah bendera berkibar di kejauhan.
Mungkin karena itu, bendera yang diturunkan tadi tidak benar-benar turun. Secara fisik, ia turun dari tiang. Tetapi secara batin, ia mungkin justru naik lebih tinggi ke dalam kesadaran mereka yang merasa diwakilinya. Peristiwa itu kemudian melahirkan percakapan, pertanyaan, bahkan keberanian untuk menaikkannya kembali. Ada saat ketika sebuah tindakan yang dimaksudkan untuk mengakhiri sesuatu justru membuat sesuatu itu semakin disadari.
Di situlah kita belajar bahwa simbol mempunyai kehidupan sendiri. Ia dapat menjadi lebih besar daripada benda yang mewakilinya. Sebuah bendera dapat menjadi tempat manusia menitipkan kenangan yang tidak ingin hilang. Ia dapat menjadi pengingat bahwa sebelum seseorang menjadi bagian dari sebuah negara, ia juga tumbuh dari keluarga, kampung, bahasa, kebudayaan, dan sejarah tertentu.
Makna bendera
Bendera pada akhirnya adalah persoalan tentang makna. Dan makna tidak selalu dapat diputuskan oleh mereka yang berdiri di luar. Ada dunia batin yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah tinggal di dalamnya. Mereka yang tidak mengalami mungkin dapat menilai bentuknya, tetapi belum tentu memahami kedalamannya. Karena itu, barangkali kita perlu lebih banyak mendengar sebelum menyimpulkan, lebih banyak memahami sebelum menilai, dan lebih banyak membuka ruang sebelum menutup pintu.
Sebab bisa jadi, sebelum sebuah bendera dinaikkan, ada hati yang telah lama menyimpannya. Ada seorang anak yang melihatnya melalui cerita orang tua. Ada seorang tua yang melihat di dalamnya wajah leluhur. Ada sebuah komunitas yang melihat di dalamnya sejarah yang tidak ingin hilang. Dan ada generasi yang mengibarkannya bukan untuk meninggalkan Indonesia, melainkan agar ketika kelak mereka ditanya siapa mereka, mereka masih mempunyai sesuatu untuk dijawab.
Merah Putih adalah Indonesia sebagai negara. Bendera Dayak, dalam konteks kebudayaan, dapat menjadi Dayak sebagai identitas. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat hidup dalam kesadaran yang sama, sebagaimana seseorang dapat mencintai rumah tempat ia tinggal sekaligus mencintai tanah tempat leluhurnya dahulu berpijak.
Merah putih dan warna lain
Barangkali Indonesia yang matang justru adalah Indonesia yang mampu melihat keduanya tanpa rasa takut. Merah Putih tetap berkibar sebagai tanda rumah bersama, sementara berbagai identitas kebudayaan tetap mempunyai ruang untuk mengingat dari mana mereka berasal. Sebab orang yang tahu dari mana ia berasal tidak dengan sendirinya ingin meninggalkan rumah. Kadang-kadang justru karena ia mengenal akarnya, ia lebih mampu memahami mengapa rumah bersama itu harus dijaga.
Barangkali hanya orang yang pernah mengalami sesuatu dari dalam yang benar-benar mengerti: sebuah bendera tidak pernah hanya berkibar di udara.
Bendera juga berkibar di dalam ingatan manusia. Ia membawa sesuatu yang tidak tampak oleh mata, tetapi terasa oleh hati. Ia mengingatkan kita bahwa di balik sebuah simbol selalu ada manusia, dan di balik manusia selalu ada cerita yang mungkin belum selesai diceritakan.
Periset dan penulis: Rangkaya Bada
0 Comments