Books Give Wings
| Pameran Buku Dayak di Sekadau 15-16 Mei 2026: Books Give Wings. |
Ada sesuatu yang ganjil pada buku. Ia benda yang diam, tetapi sanggup menggerakkan sesuatu yang hidup di dalam diri manusia. Ia tidak memiliki kaki, tetapi dapat membawa kita pergi jauh. Buku tidak memiliki sayap, tetapi dapat membuat seseorang menembus batas yang oleh tubuhnya sendiri tak mungkin dilampaui.Di situ tata-letak keajaiban buku. Buku tidak bergerak, tetapi membuat manusia bergerak.
Saya kerap menggambar dalam imajinasi: buku sebagai semacam jendela yang dapat dibawa ke mana-mana. Kita membukanya, dan dunia lain tiba-tiba hadir. Kota yang belum pernah kita datangi, manusia yang belum pernah kita jumpai, pikiran yang sebelumnya asing, bahkan masa lalu yang telah lama terkubur, semuanya dapat muncul di hadapan kita.
Aneh, bukan? Sebuah benda yang terbuat dari kertas dan tinta dapat membuat ruang menjadi lebih luas daripada yang sanggup ditangkap mata.
Mungkin karena itu orang membaca bukan semata-mata untuk mengetahui. Membaca adalah cara manusia memperluas dirinya.
Ada batas tubuh, tetapi tidak ada batas yang sama bagi pikiran. Kita dapat tinggal di sebuah kampung kecil, tetapi melalui buku kita dapat bercakap dengan Plato, menyusuri sungai bersama Conrad, memasuki lorong-lorong sejarah, atau mendengarkan suara seseorang yang hidup berabad-abad sebelum kita lahir.
***
Saya percaya. Di situlah makna terdalam kalimat "Books Give Wings".
Buku memberi sayap. Bukan sayap untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan sayap untuk melihat kenyataan dari ketinggian yang berbeda. Dari sana, persoalan yang semula tampak sebagai tembok mungkin hanya sebuah pagar; kesulitan yang terasa sebagai akhir perjalanan bisa jadi hanya sebuah tikungan.
Ada orang yang memperoleh sayap dari perjalanan. Ada yang menemukannya dalam pendidikan. Ada pula yang mendapatkannya dari pengalaman pahit. Bagi sebagian orang, sayap itu datang melalui buku.
Saya termasuk yang percaya pada kemungkinan terakhir ini. Buku pernah membawa saya keluar dari ruang yang sempit, bahkan ketika secara fisik saya tidak ke mana-mana. Membaca membuat saya bertemu dengan dunia yang lebih besar daripada dunia yang saya kenal sehari-hari.
Tetapi buku bukan pesawat. Ia tidak membawa kita sampai ke tujuan tanpa usaha. Ia hanya memberikan kemungkinan untuk terbang. Selebihnya, pembacalah yang harus mengepakkan sayapnya sendiri. Sebuah buku yang hebat tidak selalu memberikan jawaban; kadang-kadang ia justru memberikan pertanyaan yang lebih baik. Dan pertanyaan yang baik dapat mengubah arah hidup seseorang.
Saya kira itulah sebabnya sebuah masyarakat yang kehilangan kebiasaan membaca perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk membayangkan masa depan. Ia mungkin tetap memiliki gedung, jalan, teknologi, bahkan kemajuan ekonomi. Tetapi tanpa imajinasi, semua itu mudah menjadi sekadar benda. Masa depan pertama-tama lahir dalam kemampuan manusia membayangkan sesuatu yang belum ada.
Buku bekerja di wilayah yang sunyi itu. Ia menanam kemungkinan. Hari ini mungkin hanya sebuah halaman yang dibaca seorang anak di sudut kamar. Bertahun-tahun kemudian, halaman itu bisa menjelma keputusan untuk menjadi guru, dokter, penulis, peneliti, atau seseorang yang memilih mengubah nasib kampungnya. Kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana sebuah buku akan membawa seseorang setelah ia selesai dibaca.
Karena itu saya selalu merasa bahwa pekerjaan menulis dan menerbitkan buku bukan sekadar pekerjaan memproduksi benda. Yang diproduksi sesungguhnya adalah kemungkinan. Kemungkinan bagi seseorang untuk berpikir, kemungkinan bagi seseorang untuk berubah, kemungkinan bagi seseorang untuk menemukan dirinya sendiri. Sebuah buku mungkin tampak kecil di tangan, tetapi akibat yang ditimbulkannya kadang jauh lebih besar daripada ukurannya.
Ada buku yang selesai dibaca, lalu dilupakan. Ada pula buku yang selesai dibaca, tetapi tidak pernah benar-benar selesai bekerja di dalam diri pembacanya. Ia tinggal sebagai gema. Kadang muncul ketika seseorang harus mengambil keputusan. Kadang hadir ketika hidup sedang berada di titik paling gelap. Kadang hanya berupa satu kalimat yang tiba-tiba teringat setelah bertahun-tahun. Barangkali di situlah kekuatan buku yang sesungguhnya: ia dapat terus hidup setelah halaman terakhir ditutup.
Saya semakin yakin bahwa buku mempunyai hubungan yang aneh dengan waktu. Buku memungkinkan orang yang sudah mati berbicara kepada orang yang belum lahir. Seorang penulis yang hidup ratusan tahun lalu dapat duduk diam di sebuah rak, lalu suatu pagi pikirannya dibangunkan oleh tangan seorang pembaca. Dalam satu detik, masa lalu dan masa kini bertemu. Bukankah itu semacam keajaiban yang hampir tidak kita sadari setiap hari?
Maka, ketika mengatakan "Books Give Wings", kita sebenarnya sedang mengatakan sesuatu yang lebih dalam tentang manusia. Bahwa manusia tidak cukup hanya dengan tempat untuk berdiri. Manusia membutuhkan kemungkinan untuk melampaui tempat itu. Ia membutuhkan imajinasi untuk melihat dunia yang belum selesai. Ia membutuhkan cerita untuk memahami bahwa hidupnya sendiri bukan satu-satunya cerita yang mungkin.
Buku memberi sayap karena ia mengajarkan bahwa batas bukan selalu akhir. Buku membuka cakrawala. Ia membuat kita sadar bahwa dunia jauh lebih besar daripada apa yang selama ini kita lihat dari jendela rumah, dari jalan kampung, dari meja kerja, bahkan dari pengalaman hidup kita sendiri.
Membaca, dalam pengertian ini, bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah sebuah cara untuk keluar dari diri sendiri tanpa harus kehilangan diri.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah alasan saya terus percaya pada buku. Sebab sejilid buku yang baik tidak hanya mengisi kepala. Buku menggerakkan hati. Buku memperluas pandangan. Dan diam-diam buku mengubah arah langkah.
Buku tidak mengatakan kepada kita, “Terbanglah sejauh-jauhnya!”
Buku hanya membiarkan diri untuk dibuka halamannya. Memperlihatkan langit.
Lalu menyerahkan sayap itu kepada kita. Selebihnya. Kita sendiri yang harus belajar terbang.
Jakarta, 22 Agustus 2026
Penulis: Masri Sareb Putra
0 Comments