Evaluasi Tengah Tahun Puskhat: Munaldus Endorse Buku tentang Koperasi Kredit yang Mengeksplorasi Pemikiran Robby Tulus
| Evaluasi Tengah Tahun Puskhat: Bersama CU Menjadikan Hidup Lebih Hidup. Ist. |
PONTIANAK, 20 Agustus 2026— Acara Evaluasi Tengah Tahun Puskhat di Pontianak, Kamis (20/8/2026), menjadi momentum penting. Antara lain untuk kembali melihat perjalanan gerakan koperasi kredit, bukan semata dari capaian organisasi, tetapi juga dari gagasan, nilai, dan perubahan hidup yang dibangun bersama anggota.
Menurut keterangan CEO Pusat Koperasi Kredit Khatulistiwa (Puskhat), Primus Segang Lase, dalam kesempatan tersebut, Munaldus, penulis buku Bersama CU Menjadikan Hidup Lebih Hidup turut memberikan endorsement terhadap buku yang diterbitkan Lembaga Literasi Dayak pada Agustus 2026.
Buku setebal 228 halaman ini mengeksplorasi pemikiran Robby Tulus, sosok yang dikenal luas dalam gerakan koperasi kredit Indonesia, terutama melalui gagasan A Man Conquers Poverty.
Baca Bank Dayak Itu bernama Credit Union (CU)
Bagi Munaldus, koperasi kredit tidak berhenti pada urusan simpan-pinjam atau pelayanan keuangan. CU adalah gerakan yang menempatkan manusia sebagai pusat. Di dalamnya ada pendidikan, kepercayaan, kemandirian, solidaritas, dan keberanian untuk mengubah keadaan. Karena itu, evaluasi tengah tahun menjadi penting: ia bukan sekadar membaca angka, melainkan bertanya sejauh mana gerakan CU sungguh-sungguh membuat kehidupan anggotanya menjadi lebih baik.
Bersama CU, hidup menjadi lebih hidup menjadi gagasan penting yang ditawarkan buku ini. Hidup yang dimaksud bukan hanya kehidupan yang lebih sejahtera secara ekonomi, tetapi kehidupan yang tumbuh karena seseorang merasa dipercaya, dihargai, dididik, dan memiliki komunitas tempat ia dapat bertumbuh.
Baca Kepercayaan adalah Modal Dasar Credit Union
Buku Bersama CU Menjadikan Hidup Lebih Hidup: Mengeksplorasi Pemikiran “A Man Conquers Poverty Indonesia, Robby Tulus lahir dari pergulatan panjang Munaldus membaca, menerjemahkan, dan merenungkan gagasan tentang koperasi kredit. Melalui 28 bab reflektif, ia berusaha mempertemukan pemikiran dengan pengalaman konkret gerakan CU di Indonesia.
Salah satu benang merah buku ini adalah keyakinan bahwa kemiskinan tidak semata-mata persoalan kekurangan materi. Kemiskinan juga berkaitan dengan hilangnya kesempatan, pendidikan, kepercayaan diri, dan akses untuk berkembang. Karena itu, pemberdayaan manusia menjadi jantung gerakan koperasi kredit.
Pemikiran tersebut berakar pada warisan Friedrich Wilhelm Raiffeisen. Dari pengalaman menghadapi kemiskinan di Jerman, Raiffeisen menunjukkan bahwa masyarakat dapat membangun kekuatan ekonominya sendiri melalui kerja sama, kepercayaan, pendidikan, dan tanggung jawab bersama. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan koperasi kredit yang menyebar ke berbagai belahan dunia.
Dalam konteks Indonesia, pemikiran tersebut menemukan relevansinya melalui berbagai gerakan credit union. Robby Tulus menjadi salah satu tokoh yang terus menghidupkan gagasan bahwa koperasi kredit harus menjadi lebih dari sekadar lembaga keuangan. CU harus menjadi sekolah kehidupan: tempat orang belajar mengelola keuangan, mengambil keputusan, membangun disiplin, dan terutama belajar hidup bersama.
Perubahan besar dari langkah kecil
“Perubahan besar berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan setia,” demikian salah satu gagasan yang menjadi napas buku Munaldus. Pesan ini terasa relevan dalam evaluasi tengah tahun. Sebab, sebuah gerakan tidak dibangun dalam satu rapat, satu program, atau satu periode kepengurusan. Ia tumbuh dari kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus oleh ribuan orang.
Baca Belajar Jujur dan Amanah Mengelola Uang Anggota dari Credit Union
Karena itu, evaluasi tengah tahun Puskhat dapat dibaca sebagai kesempatan untuk menyalakan kembali pertanyaan mendasar: untuk siapa gerakan ini bekerja, kehidupan seperti apa yang hendak dibangun, dan perubahan apa yang sungguh-sungguh dirasakan anggota?
Di titik inilah buku Munaldus menemukan relevansinya. Ia mengajak pembaca melihat CU bukan hanya sebagai institusi ekonomi, melainkan sebagai gerakan sosial yang mempunyai misi kemanusiaan. Uang menjadi instrumen; manusia tetap menjadi tujuan.
Buku ini juga mengingatkan bahwa kebersamaan bukan sekadar slogan. Kebersamaan harus melahirkan kepercayaan dan tindakan. Orang yang sebelumnya berjalan sendiri belajar berdiri bersama orang lain. Orang yang semula merasa tidak berdaya menemukan keberanian. Dari sinilah kekuatan kolektif tumbuh.
Bersama CU Menjadikan Hidup Lebih Hidup
Dengan harga Rp100.000, buku Bersama CU Menjadikan Hidup Lebih Hidup diterbitkan dalam format soft cover, berukuran 14 x 21 cm. Buku ini berada pada persimpangan antara literasi, ekonomi, bisnis, dan gerakan koperasi kredit.
Bagi para pegiat CU, buku tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk membaca kembali akar gerakan. Bagi anggota, buku ini dapat membantu memahami bahwa keanggotaan dalam CU bukan hanya soal menabung dan meminjam. Sementara bagi masyarakat luas, buku ini menawarkan perspektif bahwa pemberantasan kemiskinan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: membangun manusia agar mampu percaya kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain.
Ealuasi bukan hanya tentang apa yang telah dicapai selama setengah tahun. Evaluasi adalah kesempatan untuk memastikan bahwa arah perjalanan masih sesuai dengan tujuan. Dalam perspektif itulah pesan Munaldus menjadi penting: CU bukan sekadar tempat mengelola uang. CU adalah ruang untuk menumbuhkan kehidupan.
Baca Cornelis Ajak Masyarakat Dayak Kibarkan Merah Putih Sambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Jika atu orang kembali percaya kepada dirinya sendiri, satu keluarga menjadi lebih kuat, dan satu komunitas menemukan keberanian untuk berjalan bersama, maka gerakan itu telah menyalakan sesuatu. Api kecil itu kemudian dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
Di situlah makna terdalam dari Bersama CU Menjadikan Hidup Lebih Hidup: bukan sebatas hidup bersama CU. Lebih dari itu, CU menjadikan kebersamaan itu sendiri sebagai kekuatan untuk mengubah kehidupan. (X-5)
0 Comments