Membaca Hutan Hujan Tropika Indonesia Karya Prof. Sosilawaty MP di Tengah Krisis Kebakaran Hutan

Membaca Hutan Hujan Tropika Indonesia Prof. Sosilawaty MP di Tengah Krisis Kebakaran Hutan
Kekayaan hutan hujan tropika Kalimantan yang diteliiti Profesor Dayak. Ist.

Memahami dan menyelami buku Sosilawaty MP, kita dipaksa melihat ironi yang selama ini kerap ditutup-tutupi: hutan Kalimantan yang diwariskan sebagai kekayaan kehidupan justru terus terancam oleh pembukaan lahan berskala besar. Sementara masyarakat Dayak yang hidup bersama hutan, tidak jarang ditempatkan sebagai pihak pertama yang dicurigai.

Data Buku

Judul: Hutan Hujan Tropika Indonesia
Pengarang: Prof. Dr. Sosilawaty MP
Penerbit: Animage
Tahun terbit: 2025
Kota terbit: Tangerang Selatan
Tebal: 177 halaman
ISBN: 978-602-6510-86-0

Ada ironi besar ketika membaca buku Hutan Hujan Tropika Indonesia karya Sosilawaty MP. Buku edisi kedua (revisi) setebal 177 halaman yang diterbitkan Animage, Tangerang Selatan, pada 2025 ini membawa pembaca masuk ke sebuah dunia yang luar biasa kaya: hutan hujan tropika Indonesia dengan flora, fauna, dan keanekaragaman hayati yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat mega keanekaragaman hayati dunia.

Baca Bendera Dayak : Jangan Salah Menilai!

Richard (1964), sebagaimana dikutip dalam buku ini, menunjukkan bahwa hutan hujan tropika Kalimantan dan Sumatera memiliki kekayaan floristik yang sangat besar. Soekotjo (1999) bahkan menempatkan Indonesia sebagai Center of Biological Diversity, Center of Endemism, sekaligus Center of Mega Biological Diversity.

Kalimat-kalimat pamungkas tersebut sesungguhnya bukan hanya uraian akademik. Ia adalah peringatan tentang sesuatu yang sangat berharga dan tidak mudah dikembalikan apabila telah hilang.

Dari titik inilah buku Sosilawaty MP menjadi relevan dibaca ketika kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi persoalan di Kalimantan. Sebab yang terbakar bukan hanya pepohonan. Yang terbakar adalah habitat, keanekaragaman hayati, sumber air, ruang hidup masyarakat, dan bagian dari ekosistem yang terbentuk melalui proses ekologis yang sangat panjang.

Hutan Bukan Sekbatas Hamparan Tanah

Cara pandang paling berbahaya terhadap hutan adalah melihatnya hanya sebagai tanah kosong yang menunggu investasi. Buku ini justru memperlihatkan sebaliknya. Hutan hujan tropika adalah sistem kehidupan yang kompleks. Setiap jenis tumbuhan memiliki relasi dengan organisme lain, tanah, air, iklim mikro, dan keseluruhan ekosistem.

Baca Cornelis Ajak Masyarakat Dayak Kibarkan Merah Putih Sambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Karena itu, ketika kawasan hutan dibuka secara besar-besaran, persoalannya tidak berhenti pada berapa hektare pohon yang hilang. Ada mata rantai ekologis yang ikut diputus. Ketika kawasan tersebut kemudian terbakar, kerusakannya menjadi semakin kompleks.

Di sinilah buku ini terasa seperti teguran. Indonesia memiliki kekayaan hayati yang oleh dunia akademik disebut luar biasa, tetapi dalam praktik pengelolaannya hutan sering kali diperlakukan sebagai komoditas. Nilai ekologisnya jauh lebih besar daripada sekadar harga kayu, tanah, atau komoditas yang ditanam di atasnya.

Jangan Mudah Menjadikan Dayak sebagai Tersangka

Persoalan kebakaran hutan di Kalimantan juga membawa persoalan lain: siapa yang pertama kali dituding?

Dalam sejumlah pemberitaan tentang kebakaran hutan dan lahan, masyarakat lokal, termasuk masyarakat Dayak, acap kali muncul dalam narasi tentang pembukaan lahan dengan api. Padahal, membicarakan api tanpa membicarakan skala pembukaan lahan, struktur penguasaan tanah, konsesi, dan aktivitas korporasi adalah cara melihat masalah hanya dari satu sisi.

Berladang tradisional masyarakat Dayak mempunyai konteks sosial, ekonomi, budaya, dan ekologis yang berbeda dari pembukaan lahan dalam skala industri. Api dalam sistem perladangan tradisional bukanlah sinonim dari penghancuran hutan. Ada pengetahuan lokal mengenai pemilihan lahan, waktu pembakaran, pengendalian api, serta pemanfaatan kembali lahan.

Baca Bendera Borneo Raya yang Berkibar, Diturunkan: Dukungan Mulai Bermunculan

Karena itu, ketika kebakaran terjadi, pertanyaan yang lebih serius bukan sekadar, "Siapa yang menyalakan api?" Pertanyaannya harus diperluas: di mana kebakaran terjadi, dalam penguasaan siapa kawasan tersebut, berapa luas arealnya, bagaimana perubahan tutupan lahannya, dan siapa yang memperoleh keuntungan ekonomi dari perubahan kawasan itu?

Pertanyaan semacam ini penting agar masyarakat Dayak tidak terus ditempatkan sebagai kambing hitam dalam persoalan ekologis yang jauh lebih besar.

Korporasi dan Skala Kerusakan yang Berbeda

Membedakan pembakaran lahan tradisional dan pembukaan lahan berskala korporasi bukan berarti memberikan kekebalan kepada siapa pun yang membakar hutan secara melanggar hukum. Sebaliknya, justru diperlukan penegakan hukum yang sama terhadap semua pihak. Namun, skala harus menjadi bagian dari analisis.

Satu keluarga yang membuka ladang untuk kebutuhan pangan tidak dapat begitu saja disamakan dengan pembukaan kawasan dalam skala ribuan hektare untuk kepentingan komersial. Keduanya mungkin sama-sama menggunakan api, tetapi konteks, tujuan, luasan, risiko, dan dampak ekologisnya berbeda.

Karena itu, jika terjadi kebakaran di kawasan yang berkaitan dengan konsesi atau pembukaan lahan skala besar, investigasi seharusnya tidak berhenti pada masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi. Pemeriksaan harus mengikuti jejak penguasaan lahan, sejarah perubahan tutupan hutan, izin, aktivitas perusahaan, serta pola kebakaran.

Buku Sosilawaty MP memberikan dasar ekologis bagi pertanyaan tersebut. Semakin tinggi nilai keanekaragaman hayati sebuah kawasan, semakin besar pula tanggung jawab negara, perusahaan, dan masyarakat untuk menjaganya.

Membaca Hutan sebagai Hak Hidup

Buku ini pada galibnya tidak hanya berbicara tentang pohon. Ia berbicara tentang masa depan.

Kalimantan memiliki hutan hujan tropika yang menjadi rumah bagi kekayaan hayati dan sekaligus ruang hidup masyarakat adat. Ketika hutan rusak, masyarakat yang hidup paling dekat dengan hutan sering menjadi kelompok pertama yang merasakan akibatnya: air berubah, tanah kehilangan kesuburan, sumber pangan berkurang, dan ruang hidup menyempit.

Ironisnya, masyarakat yang secara turun-temurun hidup bersama hutan justru dapat dengan mudah dicurigai sebagai perusak hutan. Sementara itu, perdebatan tentang pembukaan kawasan dalam skala besar sering kali berlangsung dalam bahasa yang lebih teknokratis: investasi, produktivitas, hilirisasi, perkebunan, dan pertumbuhan ekonomi.

Di sinilah Hutan Hujan Tropika Indonesia mempunyai arti penting. Buku ini mengingatkan bahwa hutan mempunyai nilai yang tidak seluruhnya dapat dihitung dengan rupiah.

Hutan adalah kehidupan.

Dan karena itu, kebakaran hutan bukan semata-mata persoalan kriminalitas perorangan. Ia adalah persoalan tata kelola lingkungan, keadilan ekologis, penguasaan tanah, tanggung jawab korporasi, dan keberlanjutan hidup manusia.

Baca Soft Launching Buku Terbaru Munaldus: Refleksi Perjalanan dan Nyala Gerakan Credit Union Indonesia

Membaca buku Sosilawaty MP dalam konteks kebakaran hutan Kalimantan hari-hari ini membuat satu pertanyaan menjadi semakin keras: mengapa masyarakat Dayak begitu mudah dituding ketika hutan terbakar, sementara sumber api dan struktur penguasaan lahan yang lebih besar tidak selalu mendapat sorotan yang sama?

Pertanyaan itu layak dijawab dengan data, bukan prasangka.

Sebab apabila hutan hujan tropika Indonesia memang merupakan salah satu pusat mega keanekaragaman hayati dunia, maka yang harus dilindungi bukan hanya hutannya. Kita juga harus melindungi masyarakat yang sejak lama hidup bersamanya dari tuduhan yang tidak proporsional.

Peresensi: Fidelis Saputra, S.Pd.

0 Comments

Type above and press Enter to search.