Modus Vivendi Dayak hari ini: Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi Kulkas
Malas. Adalah kesan, bahkan tuduhan, yang terlalu mudah dilemparkan kepada orang Dayak. Dayak terbiasa dimanjakan alam. Namun, kini Dayak rajin. Dayak berpotensi untuk beradaptasi dan sanggup menaklukkan berbagai hambatan dalam kehidupannya.
Padahal kesan pertama tak senantiasa benar menggambarkan suasana sesungguhnya. Tuduhan itu biasanya datang dari orang yang melihat hasil, tetapi tidak melihat musim; melihat rumah, tetapi tidak melihat hutan; melihat apa yang tidak dimiliki, tetapi lupa bertanya apa yang dahulu tersedia tanpa harus dibeli.
Baca Cornelis Bekali Kepala Desa dengan Buku Hukum: Perjuangkan Hak dengan Undang-Undang, Bukan Kekerasan
Orang Dayak pernah hidup dalam sebuah ekonomi yang tidak mengenal istilah stock opname. Hutan tidak pernah meminta laporan bulanan. Sungai tidak pernah mengirim tagihan. Tanah tidak pernah menagih sewa.
Buah-buahan tumbuh tanpa proposal, ikan berenang tanpa harus dipelihara dalam kolam, dan obat-obatan tersedia di rimba tanpa resep dokter. Alam adalah supermarket yang tidak pernah tutup. Lebih tepat lagi, alam adalah kulkas hidup.
Alam dan lingkungan kulkas hidup orang Dayak
Tidak ada kulkas di rumah karena kulkas terbesar berada di luar rumah. Daging ada di hutan, ikan ada di sungai, sayur ada di ladang, buah ada di pohon, obat ada di rimba. Rotan, damar, madu, kayu, umbi, daun, bahkan bahan untuk membuat rumah semuanya tersedia dalam sebuah ruang yang luas bernama alam.
Baca Cornelis Bekali Kepala Desa dengan Buku Hukum: Perjuangkan Hak dengan Undang-Undang, Bukan Kekerasan
Dalam keadaan demikian, apakah masuk akal menyebut manusia yang hidup di dalamnya sebagai malas? Barangkali kita harus berhati-hati dengan kata malas. Bisa jadi anggapan malas lahir dari cara pandang orang yang tidak memahami sistem kehidupan masyarakat Dayak. Alam menyediakan banyak kebutuhan pokok, sehingga masyarakat tidak selalu harus mengubah seluruh waktunya menjadi uang.
Di sinilah sejarah kadang lucu. Ketika orang hidup dalam kelimpahan, orang lain dapat menganggap kehidupan tersebut tidak produktif. Orang yang terbiasa membeli mengira orang yang mengambil dari alam tidak bekerja. Orang yang terbiasa menyimpan menganggap orang yang tidak menimbun sebagai ceroboh. Padahal ukuran kerja berubah bersama keadaan.
Cara berada dan cara hidup Dayak dahulu dan kini
Masyarakat Dayak bekerja dalam sebuah sistem kehidupan yang berbeda. Alam menyediakan banyak hal yang bagi masyarakat kota harus dibeli dengan uang. Jika sebagian kebutuhan pokok tersedia di sekitar rumah, seseorang tidak harus mengubah seluruh waktu menjadi uang.Baca Pemikiran Robby yang Tulus tentang Credit Union (CU), Dieksplorasi Munaldus
aalam bukan ibu yang tidak pernah tua. Hutan yang dahulu seperti perpustakaan tanpa katalog kini banyak halamannya hilang. Sungai yang dulu seperti urat nadi kampung berubah menjadi jalur yang membawa lumpur.
Tanah yang dahulu memberi makan keluarga kini sebagian telah berpindah tangan. Pohon-pohon pergi lebih cepat daripada generasi yang sempat mengenalnya. Kita hidup dalam sebuah ironi besar: kulkas hidup itu sedang dikosongkan.
Sebagian alam diambil kayunya, sebagian dibuka tanahnya, sebagian ditanami komoditas yang hasilnya tidak selalu kembali menjadi makanan di atas meja, sebagian lagi dikuasai mereka yang datang dengan peta, izin, modal, dan kalkulator.
Masyarakat Dayak sering baru menyadari kehilangan setelah pintu kulkas dibuka. Kulkas kosong. Tidak ada ikan, tidak ada daging, tidak ada buah, tidak ada sayur. Yang tersisa mungkin hanya udara dingin. Bahkan kulkasnya pun bisa saja sudah tidak ada.
Lalu masyarakat bertanya: mengapa hidup sekarang terasa lebih mahal?
Jawabannya sederhana sekaligus pahit. Dulu masyarakat mengambil sebagian besar kebutuhan hidup dari alam. Sekarang masyarakat harus membeli sebagian besar kebutuhan hidup dari pasar. Perubahan tersebut bukan sekadar perubahan ekonomi.
Perubahan tersebut merupakan perubahan peradaban. Dulu tanah memberi makan. Sekarang uang harus membeli makanan.
Baca Rumah Betang Saham 150 Tahun, Warisan Dayak yang Tetap Dihuni
Dulu sungai memberi protein. Sekarang protein datang dalam kemasan. Dulu hutan menyediakan obat. Sekarang obat dibeli di apotek. Dulu kebun adalah dapur yang terbuka. Sekarang dapur membutuhkan uang agar tetap menyala.
Karena itu, persoalannya bukan apakah orang Dayak malas. Persoalannya adalah apakah masyarakat Dayak sudah mengubah cara hidup ketika dunia di sekitar berubah. Jika alam dahulu merupakan kulkas masyarakat, sekarang masyarakat perlu memiliki kulkas sendiri. Kulkas bukan semata-mata benda listrik di dapur.
Kulkas juga menjadi simbol ketahanan pangan keluarga. Masyarakat perlu belajar menyimpan apa yang dapat disimpan, mengolah apa yang dapat diolah, menanam apa yang dapat ditanam, dan tidak menghabiskan seluruh hasil hari ini hanya karena hari ini terasa cukup.
Modus vivendi Dayak hari ini
Bagaimamaa sebaiknua modus videndi (cara hidup) Dayak hari ini?
Pertama, mulailah mengisi kulkas di rumah. Simpan ikan, daging, sayuran, dan bahan makanan secukupnya. Belajar mengawetkan pangan. Belajar mengolah hasil kebun. Jangan setiap rupiah yang diperoleh langsung berubah menjadi barang konsumsi yang habis dalam beberapa hari. Kulkas menjadi metafora sederhana tentang masa depan. Kulkas mengajarkan satu hal yang sebenarnya sudah lama diketahui leluhur: hari esok tidak boleh selalu bergantung pada keberuntungan hari ini.
Baca Dayak Today
Yang kedua adalah mengisi lumbung. Lumbung merupakan kebijaksanaan lama yang sering kalah oleh gaya hidup baru. Dahulu masyarakat menyimpan padi bukan karena masyarakat takut kepada hari esok, melainkan karena masyarakat menghormati hari esok. Ada musim panen, ada musim paceklik, ada pesta, ada masa ketika ladang belum menghasilkan. Lumbung menjadi semacam perjanjian antara hari ini dan hari esok. Hari ini seolah berkata kepada hari esok: hasil hari ini tidak akan dihabiskan semuanya.
Filsafat tersebut sederhana, tetapi sangat modern. Dunia keuangan hari ini mengenalnya dengan istilah yang lebih rumit: tabungan, dana darurat, investasi, diversifikasi, dan ketahanan ekonomi.
Leluhur tidak mengenal istilah-istilah tersebut, tetapi leluhur mengenal lumbung. Karena itu pesta boleh, gawai boleh, perayaan boleh. Hidup memang bukan hanya soal menabung. Manusia perlu tertawa dan berkumpul. Tetapi pesta jangan sampai lebih besar daripada masa depan. Jangan sampai hasil berbulan-bulan habis dalam satu malam, lalu beberapa hari kemudian keluarga bertanya: besok makan apa?
Ada semacam satire dalam keadaan seperti itu. Masyarakat dapat sangat murah hati kepada tamu, tetapi pelit kepada masa depan. Masyarakat dapat menghabiskan hasil berbulan-bulan dalam satu pesta, kemudian meminjam uang untuk hidup pada bulan berikutnya. Karena itu lumbung perlu diisi. Lumbung tidak perlu dipamerkan. Lumbung perlu disiapkan untuk bertahan. Sebuah keluarga yang memiliki lumbung pada dasarnya sedang mengatakan bahwa keluarga tersebut tidak ingin sepenuhnya menjadi korban dari hari buruk.
Ketiga, barangkali yang paling penting: jangan jual tanahmu.
Kalimat tersebut sederhana, tetapi di belakang kalimat tersebut terdapat seluruh filsafat tentang keberadaan. Tanah bukan sekadar benda yang dapat diberi harga per meter. Tanah adalah kemungkinan.
Hari ini tanah mungkin hanya sebidang tanah kosong. Besok tanah dapat menjadi kebun. Tahun depan tanah dapat menjadi sumber pangan. Beberapa tahun kemudian tanah dapat menjadi sumber pendapatan anak cucu. Uang dari penjualan tanah dapat habis. Tanah, jika dirawat, dapat terus menghasilkan.
Karena itu jangan hanya bertanya, berapa harga tanah ini? Tanyakan pula: berapa banyak generasi yang dapat hidup dari tanah ini?
Baca Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial
Jangan menjual tanah untuk membeli barang yang segera menjadi tua. Jangan menukar aset yang dapat menghasilkan dengan benda konsumsi yang kehilangan nilai begitu keluar dari toko. Jika benar-benar terpaksa menjual, keputusan harus dipikirkan masak-masak. Namun selama tanah masih mungkin dipertahankan, pertahankan. Tanah merupakan modal yang paling tua sekaligus salah satu modal yang paling sering dikorbankan untuk kebutuhan yang sesaat.
Setelah tanah dipertahankan, tanah harus ditanami. Tanam durian, petai, jengkol, karet, buah-buahan, tanaman pangan, tanaman obat, atau tanaman lain yang sesuai dengan tanah, iklim, kebutuhan keluarga, dan pasar.
Jangan meremehkan sebatang pohon hanya karena pohon tersebut belum menghasilkan hari ini. Satu pohon mungkin tidak membuat seseorang kaya. Seratus pohon dapat mengubah ekonomi sebuah keluarga. Seribu keluarga yang menanam dapat mengubah ekonomi sebuah kampung. Kampung-kampung yang menanam dapat mengubah masa depan sebuah wilayah.
Kita perlu berhenti melihat alam semata-mata sebagai sesuatu yang dapat dijual. Alam juga harus dilihat sebagai sesuatu yang menghidupi. Ada perbedaan besar antara resource dan home. Jika hutan hanya dianggap sebagai sumber daya, pertanyaannya adalah berapa kubik kayu yang dapat dikeluarkan. Jika hutan dianggap sebagai rumah, pertanyaannya berubah: bagaimana rumah ini tetap dapat dihuni oleh anak cucu?
Di situlah perubahan cara berpikir diperlukan. Perubahan cara berpikir bukan berarti kembali ke masa lalu secara romantis dan bukan pula berarti menolak modernitas. Masyarakat Dayak perlu membawa kebijaksanaan lama ke dalam keadaan baru. Masyarakat Dayak tidak perlu malu karena pernah hidup dekat dengan alam. Kedekatan tersebut justru merupakan modal peradaban. Yang perlu diperbaiki bukan watak masyarakat, melainkan strategi kehidupan masyarakat.
Dulu alam berlimpah. Kini alam tidak selalu berlimpah. Dulu hutan adalah gudang. Kini gudang tersebut menyusut. Dulu sungai adalah dapur. Kini dapur tersebut harus dibantu oleh usaha sendiri. Karena itu masyarakat perlu belajar menjadi masyarakat yang mampu menyimpan, menanam, mengolah, mengelola, dan mempertahankan apa yang masih dimiliki. Modernitas tidak seharusnya berarti meninggalkan kebijaksanaan leluhur. Modernitas seharusnya membuat kebijaksanaan tersebut bekerja dalam bentuk baru.
Mungkin sudah waktunya orang Dayak memiliki definisi baru tentang kemajuan. Kemajuan bukan hanya rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, telepon yang lebih mahal, atau pesta yang lebih ramai.
Kemajuan juga berarti kulkas yang terisi, lumbung yang penuh, kebun yang tumbuh, tanah yang tetap dimiliki, dan anak-anak yang kelak tidak harus pergi jauh hanya untuk mencari makanan yang sebenarnya dapat ditanam di tanah leluhurnya.
Masa depan tidak selalu datang dari apa yang kita beli. Masa depan sering tumbuh dari apa yang kita tanam. Tanah yang hari ini dipertahankan mungkin belum menghasilkan apa-apa. Pohon yang hari ini ditanam mungkin belum memberi buah. Lumbung yang hari ini diisi mungkin belum diperlukan. Kulkas yang dipenuhi makanan mungkin tampak seperti kehati-hatian yang berlebihan. Namun masa depan memang selalu tampak berlebihan bagi mereka yang hanya menghitung hari ini.
Dayak jangan jual tanah!
Barangkali kelak seorang anak Dayak akan bertanya kepada ayahnya, "Mengapa dulu orang menjual tanah?"
Sang ayah mungkin diam. Sang ayah melihat ke halaman. Di sana sebatang pohon durian mulai berbuah. Sang ayah kemudian menjawab, “Karena mereka mengira tanah hanya bernilai ketika menjadi uang.”
Anak itu mungkin bertanya lagi, “Lalu sekarang?”
Ayahnya tersenyum.
“Sekarang kita belajar bahwa tanah adalah kekayaan yang belum berbicara.”
Pohon itu terus tumbuh. Pohon tidak tergesa-gesa dan tidak berpidato. Pohon hanya melakukan pekerjaan paling tua di dunia: menanam kehidupan.
Mungkin di situlah Dayak menemukan kembali satu modal yang sebenarnya tidak pernah hilang: tanah, tangan, pengetahuan, dan kesediaan untuk menanam hari esok.
0 Comments