Suwido Hester Limin: Merawat Ingatan Pakar Gambut Penemu DAM V (1)
Preambul:
"It is deeply regretted, really. Suwido’s brilliance, his expertise, and his ideas passed away with him, without leaving any written trace," tulis Masri Sareb dalam sebuah WAG terbatas para literat Dayak. Padahal, temuan inovatif Suwido luar biasa dalam hal mencegah dan mengatasi kebakaran lahan gambut. Hasil temuannya menjadi acuan. Dibicarakan di fora internasional, sementara di negeri sendiri; namanya tenggelam bahkan nyaris terlupakan.
Kebakaran lahan gambut, terutama di Kalimantan Tengah, belakangan ini ramai dibicarakan. Termasuk strategi dan taktik memadamkan dan mencegah kebakaran. Padahal tokoh Dayak, Suwido Limin, telah secara akademik, dan dirujuk dunia, hasil temuannya.
Untuk merawat ingatan, Redaksi mulai hari ini memuat serial tulisan tentang Suwido, temuan, dan legasinya. Narasi disarikan dari buku yang sedang disiapkan penerbitannya oleh Petrus Gunarso, Darmae Nasir, dan Masri Sareb Putra dikatapengantari oleh Prof. Salampak Dohong, seorang pakar gambut.
Selamat menikmati!
Suwido Hester Limin lahir di Desa Bawan, 24 Mei 1955. Ia tumbuh di tengah keluarga sederhana dari garis keturunan Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah.
Baca Demo Peladang di Pontianak, Gubernur Norsan Janji Tak Cabut Perda tentang Ladang
Dari rumah itulah fondasi wataknya dibentuk: kerja keras, ugahari, penghormatan kepada sesama, dan terutama kedekatan dengan alam. Nilai-nilai itu tidak diajarkan lewat ceramah panjang, melainkan melalui teladan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Di tanah kelahirannya, alam bukan sebatas latar kehidupan. Alam adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Sungai, hutan, rawa, tanah, dan segala yang tumbuh di dalamnya membentuk semacam ruang belajar yang tidak pernah berhenti.
Sejak kecil Suwido menyaksikan bagaimana masyarakat Dayak mengatur kehidupan komunalnya dengan mengikuti irama alam. Di sanalah, mungkin tanpa disadarinya, benih perhatian terhadap lingkungan mulai tumbuh.
Sungai Kahayan sumber pangan
Sungai Kahayan yang perkasa mengalirkan bukan hanya air, melainkan juga kehidupan. Sungai ini menjadi sumber pangan, jalur perhubungan, sekaligus ruang sosial bagi masyarakat di sepanjang alirannya. Ikan menjadi sumber protein, perahu menjadi sarana mobilitas, dan sungai menjadi urat nadi yang menghubungkan satu permukiman dengan permukiman lainnya. Bagi masyarakat tradisional, menjaga sungai berarti menjaga kehidupan.
Baca Membaca Hutan Hujan Tropika Indonesia Karya Prof. Sosilawaty MP di Tengah Krisis Kebakaran Hutan
Bawan sendiri mengalami perubahan dalam perjalanan administrasi pemerintahan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, desa ini berada dalam wilayah Kabupaten Kapuas.
Seiring perubahan tata pemerintahan dan pembentukan daerah otonom pada era reformasi, Bawan kemudian menjadi bagian dari Kabupaten Pulang Pisau. Peta administrasi boleh berubah, tetapi lanskap kultural tempat Suwido dibesarkan tetap meninggalkan jejak yang kuat dalam dirinya.
Suwido kecil mengenal alam bukan dari buku teks. Ia mengenalnya dengan berjalan, mengamati, menyusuri tepian sungai, memasuki jalur-jalur hutan, dan menyaksikan langsung kehidupan rawa.
Alam menjadi laboratorium pertamanya. Dari pengalaman itu terbentuk hubungan emosional yang kelak berkembang menjadi perhatian ilmiah terhadap lingkungan hidup.
Lingkungan mengajarkan
Lingkungan pedalaman yang keras juga mengajarinya ketekunan. Hidup tidak selalu menyediakan jalan yang mudah. Ada sungai yang harus diseberangi, hutan yang harus dilalui, dan alam yang harus dibaca tandanya.
Dalam konteks seperti itulah karakter Suwido ditempa. Tanah kelahiran akhirnya bukan hanya tempat ia berasal, melainkan sumber nilai yang ikut menentukan jalan hidupnya.
Baca Ladang (Orang) Dayak di Kalimantan Sudah Sejak 10.000 Tahun Silam
Dalam perjalanan selanjutnya, Suwido Hester Limin memilih Ir. Agustina D. Dewel sebagai pendamping hidup. Di balik perjalanan panjang seorang akademisi dan pejuang lingkungan, selalu ada ruang domestik yang memberi tenaga untuk terus berjalan.
Dukungan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pengabdian Suwido. (bersambung)
Periset dan penulis: Masri Sareb Putra
Daftar Pustaka
Limin, S. H. (2007). Management and development of tropical peatland in Central Kalimantan, Indonesia (Disertasi doktor). Hokkaido University, Jepang.
Limin, S. H. (2007). History of the development of tropical peatland in Central Kalimantan, Indonesia. Tropics, 16(3), 291–301.
Mongabay. (2016, 7 Juni). Suwido Limin, pakar gambut dari Kalteng ini telah berpulang. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2016/06/07/suwido-limin-pakar-gambut-dari-kalteng-ini-telah-berpulang/
Mongabay. (2016, 12 Juni). Peat expert dies from cancer after fighting Indonesian fires. Mongabay. https://news.mongabay.com/2016/06/peat-expert-dies-from-cancer-after-fighting-indonesian-fires/
Ritzema, H., Limin, S., Kusin, K., Jauhiainen, J., & Wösten, H. (2014). Canal blocking strategies for hydrological restoration of degraded tropical peatlands in Central Kalimantan, Indonesia. Catena, 114, 11–20. https://doi.org/10.1016/j.catena.2013.10.009
Suwido Limin. (n.d.). Dalam Wikipedia bahasa Indonesia. Diakses 31 Agustus 2026, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suwido_Limin
Tokoh Indonesia. (2011, 9 Februari). Upaya menyelamatkan gambut: Suwido H. Limin. TokohIndonesia.com. https://tokoh.id/biografi/5-wiki-tokoh/upaya-menyelamatkan-gambut/
Weiss, D., Shotyk, W., Rieley, J., Page, S., Gloor, M., Reese, S., & Martinez-Cortizas, A. (2002). The geochemistry of major and selected trace elements in a forested peat bog, Kalimantan, SE Asia, and its implications for past atmospheric dust deposition. Geochimica et Cosmochimica Acta, 66(13), 2307–2323. https://doi.org/10.1016/S0016-7037(02)00834-7
Wösten, J. H. M., Clymans, E., Page, S. E., Rieley, J. O., & Limin, S. H. (2008). Peat–water interrelationships in a tropical peatland ecosystem in Southeast Asia. Catena, 73(2), 212–224. https://doi.org/10.1016/j.catena.2007.07.010
0 Comments