ASEAN Tidak Butuh Asap, Tapi Energi Hijau dari Tanah Kita
| ASEAN tidak membutuhkan CO₂ dan jerbu atau asap, dibutuhkan kawasan ini adalah energi hijau. Ist. |
Oleh Petrus Gunarso
Kadang saya duduk diam di teras rumah, menatap langit yang keruh di musim kemarau. Asap tipis masih menggantung di kejauhan, sisa-sisa api yang pernah membakar semak dan lahan.
Di kampung-kampung di Kalimantan, pemandangan seperti itu sudah terlalu biasa. Orang bilang itu “jerbu”, asap yang datang membawa sesak dan keluhan.
Tapi saya sering bertanya dalam hati. "Mengapa yang terbakar itu selalu digambarkan hanya sebagai masalah, bukan sebagai peluang yang terbuang?"
Heran, thaumasia dan bertanya, demikian kata para filsuf Yunani kuna, "adalah pangkal mula filsafat". Saya heran. Dan bertanya-tanya: mengapa demikian?
Baca Mengapa Orang Dayak Harus Menulis Sejarah Tanahnya Sendiri?
ASEAN tidak membutuhkan CO₂ dan jerbu atau asap. Itu sudah jelas. Yang dibutuhkan kawasan ini adalah energi hijau. Energi yang bersih, berkelanjutan, dan bisa menghidupi jutaan orang tanpa harus mengorbankan paru-paru bumi.
Energi hijau itu bisa berasal dari biomassa yang sekarang ini justru sering terbakar sia-sia. Bayangkan: batang, ranting, serasah, sisa panen, bahkan kayu dari lahan yang terbengkalai; semuanya bisa diolah dengan teknologi.
Ada yang disebut biomethane, gas yang dihasilkan dari proses anaerobik. Ada pula synthetic gas. Ada yang diubah menjadi biochar, arang hayati yang sekaligus memperbaiki tanah. Berbagai cara lain masih terbuka, asal ada niat dan pengelolaan yang serius.
Baca Tiji Tibeh: Ketika Konflik (Lahan) Berakhir Menjadi Api
Semua itu Indonesia punya.Kita punya lahan. Kita punya biomassa. Kita punya potensi untuk berjualan, berkolaborasi, dan mengelola. Ada sekitar 31 juta hektar hutan yang tidak produktif yakni lahan kosong yang kini hanya menjadi objek perdebatan dan, sering kali, objek penguasaan. Di lapangan, tidak ada yang menjaga dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada yang mengelola dengan visi jangka panjang. Lahan itu seperti rumah besar yang ditinggalkan pemiliknya: pintu terbuka, siapa saja bisa masuk, mengambil, atau bahkan menguasai.
Saya teringat pembicaraan sebelumnya tentang TJI-TIBEH. Itu bukan sekadar istilah. Itu cermin dari pola yang sudah lama berlangsung: upaya untuk menguasai apa yang seharusnya dikelola bersama.
Ketika tanah tidak dijaga oleh orang-orang yang mencintainya, maka orang lain akan datang dengan peta, izin, dan alasan pembangunan. Kita sendiri yang membuka ruang itu.Padahal, jika Indonesia mau serius, biomassa dari lahan-lahan itu bisa menjadi sumber energi yang menghidupi ASEAN.
Baca 12 Taktik Konkret Rust en Orde Hindia Belanda
Kita bisa menjual. Kita bisa berkolaborasi. Kita bisa mengubah “hutan kosong” menjadi lahan produktif yang menghasilkan energi hijau, sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Bukan dengan membakar, melainkan dengan mengolah. Bukan dengan menguasai, melainkan dengan mengelola.
Saya menulis ini bukan sebagai pakar energi, melainkan sebagai orang yang melihat tanah airnya dari dekat. Saya melihat asap yang membuat anak-anak batuk. Saya melihat lahan yang dibiarkan terbengkalai. Saya juga melihat potensi yang menunggu untuk diangkat. ASEAN butuh energi hijau. Indonesia punya bahan bakunya. Yang kurang hanyalah keberanian untuk menjaga dan mengelola apa yang sudah ada di depan mata.
Kalau kita terus membiarkan lahan kosong tanpa penjaga, tanpa pengelola, maka cerita tentang “upaya untuk menguasai” akan terus berulang. Tapi jika kita mulai dari sekarang mengolah biomassa, membangun teknologi, melibatkan masyarakat maka asap yang selama ini menjadi momok bisa berubah menjadi sumber kehidupan.
Baca Bendera Dayak : Jangan Salah Menilai!
Itulah yang saya pikirkan setiap kali langit menguning di musim kemarau. Bukan hanya tentang asap yang harus dipadamkan, melainkan tentang energi yang menunggu untuk dinyalakan.
Penulis seorang konservatoris, pecinta dan pegiat lingkungan; pula seorang rimbawan.
0 Comments