Jurus Kitab Berisi Surat Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (49)
| Buku pelajaran terselip surat cinta: jurus silat anak asrama mengelabui teman dan gurunya ketika dunia belum mengenal HP waktu itu. Ist. |
Di kaki Gunung Poteng. Tempat kabut turun hampir setiap pagi dan angin pegunungan membawa dingin sampai ke tulang, berdirilah Nyarumkop. Kisah kasih di sekolah hingga era digital di mana buku pelajaran terselip surat cinta untuk si dia. Di sanalah dahulu kala jurus silat itu dimainkan untuk mengelabui kawan dan juga guru.
Di tempat itulah dua dunia yang sangat berbeda hidup berdampingan. Wisma Widya menjadi kerajaan anak-anak lelaki. Sementara Wisma Rini menjadi kerajaan anak-anak perempuan.
Jarak kedua wisma itu sebenarnya tidak seberapa. Hanya seberapa puluh langkah saja. Akan tetapi, bagi anak muda yang sedang mulai mengenal arti berdebar di dada, jarak beberapa puluh langkah dapat terasa lebih jauh daripada perjalanan menuju negeri seberang.
Di antara kedua dunia itu terdapat sekolah, kantin, lapangan basket, dan lorong-lorong kayu yang setiap hari menjadi medan pertemuan.
Di sanalah mata sering bertemu sebelum mulut sempat menyapa. Di sanalah seorang anak lelaki tiba-tiba menjadi rajin membaca majalah dinding hanya karena seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya.
Dan di sanalah pula sebuah pandangan yang berlangsung terlalu lama dapat menjadi berita paling hangat di asrama sebelum jam makan malam tiba.
Kami mempunyai aturan yang tidak pernah tertulis di papan pengumuman, tetapi semua anak mengetahuinya. Boleh berpapasan, tetapi jangan terlalu sering. Boleh berbicara, tetapi jangan terlalu lama. Boleh tersenyum, tetapi jangan sampai teman-teman melihatnya sebagai tanda. Sebab pamong mungkin hanya menegur, tetapi teman-teman dapat menjadikan satu senyum sebagai bahan cerita selama berhari-hari. Di usia kami, rupanya tidak ada mata yang lebih tajam daripada mata kawan sendiri.
Aku pertama kali melihat LA pada suatu jam istirahat. Lorong sekolah sedang ramai. Anak-anak keluar dari kelas seperti burung yang baru dilepaskan dari sangkar. Dari kantin terdengar suara piring beradu dan tawa yang bersahut-sahutan. Beberapa anak lelaki berlari menuju lapangan basket, sementara anak-anak perempuan berjalan bergerombol sambil membawa buku dan makanan kecil.
Aku berdiri di dekat papan majalah dinding. Entah mengapa, saat itu aku berpura-pura membaca sebuah tulisan yang sebenarnya sudah kubaca sejak beberapa hari sebelumnya.
Lalu aku melihatnya. Mula-mula bukan wajahnya yang kulihat, melainkan rambut hitam lurus sebahu yang bergerak mengikuti langkahnya. Ia datang bersama beberapa orang teman. Aku tidak tahu mengapa pandanganku tertahan di sana. Aku mencoba kembali membaca majalah dinding, tetapi mataku malah bergerak dari sudutnya, mengikuti langkah gadis itu.
Ketika ia semakin dekat, barulah wajahnya tampak jelas. Sederhana. Bersih. Tanpa riasan. Ia tidak melakukan apa-apa yang istimewa. Hanya berjalan melewati lorong seperti gadis-gadis lain. Tetapi entah mengapa, ketika pandangan kami bertemu, dadaku berdesir aneh.
Aku segera memalingkan muka.
“Sudah dibaca?”
Aku menoleh. Seorang teman berdiri di sampingku. Aku tidak tahu sejak kapan ia berada di situ.
“Apa?”
“Majalah dinding itu.”
Aku tersenyum kaku. “Sudah.”
Ia melihat ke arah gadis yang baru saja lewat, lalu kembali menatapku. Senyumnya mulai mengembang. Aku tahu, kalau ia bertanya lebih jauh, tamatlah riwayatku.
Aku segera meninggalkan papan majalah dinding.
Sejak hari itu, aku mulai mengenal LA dari jauh. Kadang-kadang hanya dari rambut hitamnya yang muncul di ujung lorong. Kadang dari langkahnya di depan kantin. Kadang dari sekilas wajahnya ketika kami berpapasan. Kami belum pernah benar-benar berbicara. Namun anehnya, aku mulai hafal kehadirannya.
Ia siswi kelas II SPG. Wajahnya sederhana, bersih, tanpa hiasan yang berlebihan. Tidak ada sesuatu yang mencolok pada dirinya. Justru karena itulah mataku berkali-kali mencarinya di antara gadis-gadis lain. Aku belum berani menyebutnya cinta. Pada masa itu kami menyebutnya dengan istilah yang lebih aman: suka. Tetapi jantung yang berdebar tidak pernah peduli pada nama yang diberikan kepadanya.
***
Setelah beberapa kali berpapasan, aku mulai mencari kesempatan untuk berbicara dengannya. Namun kesempatan di Nyarumkop tidak pernah datang sendirian. Selalu ada teman di dekatnya, selalu ada teman di dekatku. Kalau aku berjalan ke arah kantin, ada saja Benyamin atau Gunawan yang ikut. Kalau LA datang bersama kawan-kawannya, keberanianku mendadak menguap. Kami berada dalam satu sekolah, bahkan sering berada dalam lorong yang sama, tetapi untuk mengatakan satu kalimat sederhana saja rasanya seperti hendak menyeberangi sungai deras.
Suatu siang, ketika aku kembali berdiri di dekat majalah dinding, Benyamin lewat. Ia melihatku, lalu melihat ke arah lorong.
“Syairnya bagus?”
Aku mengangguk.
“Hebat. Dari tadi tidak berganti.”
Ia tertawa dan pergi. Aku pura-pura membaca tulisan di papan. Padahal saat itu aku justru mendapat sebuah pikiran. Kalau mulut tidak berani berkata, mungkin tangan bisa menulis. Kalau bertemu langsung terlalu sulit, mungkin sebuah buku dapat menjadi perantara.
Gagasan itu mula-mula terasa lucu. Tetapi semakin kupikirkan, semakin masuk akal. Buku adalah benda biasa. Tidak ada orang yang akan curiga kalau seorang anak lelaki menyerahkan buku kepada seorang siswi. Maka sore itu aku mengambil selembar kertas dan mulai menulis.
Aku menulis pelan-pelan. Beberapa struktur kalimat kuhapus. Kutulis lagi. Kubaca berkali-kali. Surat itu akhirnya berbunyi:
LA, aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin tidak berani kukatakan kalau bertemu langsung denganmu. Aku sering melihatmu di sekolah. Setiap kali kita berpapasan, aku selalu merasa senang, walaupun aku tidak pernah tahu harus berkata apa. Mungkin kau akan menganggap surat ini aneh. Tetapi aku ingin mengenalmu lebih dekat. Kalau kau tidak mempunyai perasaan yang sama, tidak apa-apa. Jangan merasa terbebani dan tidak perlu menjawab. Anggap saja surat ini tidak pernah ada. Aku hanya ingin sekali jujur kepadamu.
dari: seorang anak widya hina yang sudah lama meperhatikanmu!
***
Aku melipat kertas itu dan memandangnya cukup lama....
Ada keberanian dalam surat tersebut, tetapi juga ada ketakutan. Aku hampir merobeknya. Kalau surat ini tidak pernah sampai kepada LA, bukankah semuanya akan lebih aman?
Namun akhirnya surat itu kuselipkan ke tengah buku.
Sejak saat itu, buku tersebut berubah menjadi benda yang aneh. Dari luar tetap sebuah buku biasa. Di dalamnya tersimpan sebuah rahasia yang membuat tanganku sendiri kadang-kadang gemetar. Aku membawanya ke sekolah, tetapi belum berani menyerahkannya. Setiap kali melihat LA, niat itu muncul. Setiap kali ia mendekat, niat itu pula yang hilang.
Sampai suatu siang, kesempatan itu datang.
Jam istirahat berdentang. Lorong Nyarumkop segera dipenuhi anak-anak yang keluar dari kelas. Dari kantin terdengar suara piring dan gelak tawa. Bola basket memantul bertalu-talu di lapangan. Aku berdiri dekat tiang kayu dengan buku di tangan kanan. Surat itu terselip di tengah halaman.
Aku menunggu.
Satu rombongan siswi lewat. Bukan LA. Rombongan berikutnya juga bukan. Aku mulai gelisah. Keberanian yang sejak pagi kukumpulkan terasa seperti uang receh yang satu per satu jatuh dari saku.
Lalu dari ujung lorong muncul beberapa siswi.
Aku mengenali rambut hitam sebahu itu sebelum wajahnya tampak jelas: LA.
Jantungku berdegup lebih cepat. Ia berjalan bersama dua kawannya. Aku menunggu sampai jarak kami cukup dekat, lalu mengangkat buku sedikit.
LA melihatnya. Langkahnya melambat. Kedua kawannya terus berjalan. Ia berhenti beberapa langkah di depanku.
“Ini?”
“Ya.”
Tangannya terulur. Aku menyerahkan buku itu. Ujung jari kami hampir bersentuhan. Ia melihat sampulnya, kemudian memandangku sebentar. Aku tidak tahu apa yang dibacanya dari wajahku. Setelah itu ia berbalik dan menyusul kedua kawannya.
Aku tetap berdiri di tempat. Buku itu sudah pergi.
Dan bersama buku itu, pergi pula surat yang selama berhari-hari kusimpan seperti rahasia terbesar dalam hidupku.
***
Malam harinya....
Wisma Widya mulai sunyi. Kabut turun dari Gunung Poteng. Anak-anak satu per satu masuk kamar. Aku berbaring, tetapi tidak dapat tidur. Pikiranku terus kembali kepada satu benda: buku itu.
Mungkin LA sudah membukanya. Mungkin ia baru membukanya setelah semua teman sekamarnya tidur. Mungkin tangannya sudah sampai pada halaman tempat surat itu kuselipkan.
Dan ketika halaman itu terbuka, suratku akhirnya tidak lagi menjadi rahasia.
Aku membayangkan ia membaca kalimat pertama. Lalu kalimat kedua. Sampai kalimat terakhir. Setelah itu aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Surat itu bisa disimpan. Bisa dilipat dan dimasukkan kembali ke dalam buku. Bisa diperlihatkan kepada seorang sahabat. Bisa pula diremas dan dibuang. Bahkan mungkin dibakar. Kertasnya menjadi abu, sementara namaku lenyap bersama kata-kata yang kutulis di atasnya.
Aku membalik badan. Di luar terdengar langkah kaki di lorong. Aku sempat mengira seseorang datang membawa kabar. Ternyata tidak ada siapa-siapa.
Malam itu aku baru menyadari sesuatu. Setelah sebuah surat diberikan, penulisnya tidak lagi menguasai nasib surat tersebut. Kata-kata yang kutulis dengan tanganku sendiri kini mempunyai jalan hidupnya sendiri.
Aku hanya bisa menunggu pagi.
Sementara di suatu tempat di Wisma Rini. Mungkin LA sedang memegang sebuah buku. Dan di tengah buku itu....
Untuk pertama kalinya, terbuka sepucuk surat cinta.
Jakarta, malam 19 September 2026.
0 Comments