Mobil yang Memanggil Sejuta Kenangan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (15)
Mobil sejuta kenangan: Benediktus yang mulai membuka ingatan tentangnya. Ist.
Pagi ini Benediktus mengirimkan sebuah foto. Sebuah mobil tua, terdiam di dekat simpang Nyarumkop.
Catnya telah lama kehilangan kilau. Tubuhnya mulai berkarat. Rumput tumbuh di sekelilingnya, seakan-akan alam perlahan hendak mengambil kembali apa yang pernah dipinjamkan kepada manusia.
Saya mengenal mobil itu.
Dahulu, sebelum kami mengenal arti rindu, suara mesinnya sudah lebih dahulu mengajarkan kami tentang kedatangan. Dari kejauhan bunyinya terdengar. Kami tahu: guru-guru telah tiba dari Singkawang.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam dada kami,,..
Mobil itu berhenti. Pintu terbuka. Satu per satu mereka turun. Pak Toekidji, Pak Slamet, Pak Harjanto, Pak Heryanto, Pak Suratman. Mereka masuk ke kantor guru. Kadang-kadang, jika waktu mendesak, langsung menuju kelas.
***
Betapa anehnya ingatan. Ia tidak menyimpan segala sesuatu. Ia memilih suara mesin. Pintu mobil yang terbuka. Sepatu yang menginjak tanah. Pakaian resmi. Wajah-wajah yang dahulu begitu biasa, tetapi kini justru menjadi wajah yang kita cari-cari di antara kabut masa silam.
Kami mengagumi mobil itu. Tetapi sesungguhnya, yang kami kagumi adalah orang-orang yang ditumpangkannya. Mereka datang membawa pelajaran. Membawa buku. Membawa suara. Mungkin juga membawa kecemasan-kecemasan mereka sendiri yang tidak pernah kami ketahui. Bagi kami, mereka adalah guru. Bagi waktu, mereka adalah penumpang.
Dan bukankah hidup pada akhirnya semacam perjalanan dengan kendaraan yang tidak kita pilih sendiri? Kita naik ketika masih muda. Kita duduk, bercakap, tertawa. Kita mengira perjalanan itu akan panjang. Lalu suatu hari kendaraan berhenti. Satu per satu orang turun. Ada yang turun di tikungan pertama. Ada yang lebih jauh. Ada yang tidak pernah kita lihat lagi.
“Mudah-mudahan jangan hilang!” sergah John Patalas spontan dalam WAG.
“Jangan! Simpan! Jadi barang-barang antik museum!”
Kami tertawa. Tetapi ada tawa yang, setelah selesai, meninggalkan kesunyian. Sebab mungkin yang harus diselamatkan bukanlah mobil itu semata-mata. Yang harus diselamatkan adalah jejak orang-orang yang pernah ada di dalamnya. Mereka yang pernah menempuh jalan Singkawang-Nyarumkop. Mereka yang pernah membuka pintu kelas. Mereka yang pernah berdiri di depan papan tulis. Mereka yang dahulu kami pikir akan selalu ada.
Kini mobil itu tidak lagi berjalan. Ia hanya diam di tepi jalan, seperti sebuah kalimat yang kehilangan kata terakhir. Tetapi justru dalam diamnya ia menjadi saksi. Bahwa pernah ada suatu masa ketika pagi mempunyai suara mesin.
Ketika kedatangan seorang guru dapat membuat halaman sekolah terasa berbeda. Ketika kami masih muda dan belum tahu bahwa setiap kedatangan, diam-diam, membawa kemungkinan sebuah perpisahan.
Maka simpanlah mobil tua itu.Biarkan ia berkarat dengan terhormat. Jangan buru-buru disingkirkan oleh zaman.
Kelak, mungkin anak-anak kita akan melihatnya sebagai benda tua yang tidak berarti. Tetapi bagi kami, ia adalah semacam "almari waktu". Jika pintunya dibuka, dari dalamnya akan keluar suara mesin, langkah kaki, wajah-wajah guru, halaman sekolah, dan kami yang dahulu berdiri di sana.
Kami yang masih muda. Kami yang belum tahu bahwa suatu hari nanti. Ihwal yang paling mahal dari sebuah masa bukanlah apa yang kita miliki di dalamnya, melainkan orang-orang yang tidak dapat kita panggil kembali.
0 Comments