Reuni yang Mempertemukan Kakak-Adik, Saya dan Agustina Yudith - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (16)

 

Reuni  yang Mempertemukan Kakak-Adik
Yudith (kiri) dan saya. Reuni juga mempertemukan saudara kandung. Ist.

Pagi itu, 4 September 2026. Nyarumkop diliputi asap.Tidak tebal, tetapi cukup untuk membuat pandangan sedikit kurang tajam. Saya berjalan di tengah keramaian Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN). Melihat satu wajah ke wajah lain.
Orang-orang datang dari berbagai arah. Ada yang langsung saya kenali. Ada pula yang harus saya tatap agak lama. Seperti hendak memanggil kembali nama yang tersimpan puluhan tahun di kepala.

Lalu saya melihat seorang perempuan berdiri tidak jauh dari saya.

Saya berhenti sejenak.
Wajah itu saya kenal. Tetapi dari mana? Saya menatapnya sekali lagi. Cara berdirinya. Sorot matanya. Gerak wajahnya.

Ada sesuatu yang begitu akrab, tetapi sekaligus seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

Saya belum menyebut namanya. Belum juga mendekat. Namun hati saya sudah lebih dahulu mengenalinya.

***

“Dit!” Saya menyapanya. Ia sudah mafhum. Siapa yang selalu memanggil namanya demikian itu.

Ia menoleh.

Benar. Agustina Yudith.

Di situlah saya seperti terkena sesuatu yang tidak saya duga. Bukan hanya karena saya bertemu adik sendiri setelah lama tidak berjumpa. Ada wajah lain yang tiba-tiba muncul di balik wajah Yudith. Wajah yang jauh lebih tua daripada kami. Wajah mak.

Aneh memang. Puluhan tahun saya tidak tinggal serumah dengan Yudit. Kami hanya sesekali bertemu. Ia di Pontianak. Saya di Jakarta.

Tetapi pagi itu di Nyarumkop, berbeda. Hanya dengan melihat wajahnya beberapa detik, ingatan tentang mak seperti terbuka begitu saja. Seolah-olah Nyarumkop menyimpan sebilah pintu yang selama ini tidak saya tahu masih ada. Yudith datang. Pintu itu terbuka. Dan dari baliknya, sosok mak muncul.

Yudith adalah alumna SPG, mungkin ujung 1980-an. Tahun persisnya saya lupa. Yang pasti, ia datang sekitar satu dasawarsa setelah saya meninggalkan Nyarumkop.

Namun pagi itu. Saya tidak melihatnya sebagai anak yang lahir belakangan. Saya melihat sesuatu yang lebih tua dalam dirinya. Cara ia bertutur. Geraknya yang cekatan. Cara ia bekerja. Bahkan lidahnya yang tajam. Semuanya membawa saya kepada perempuan yang dahulu menjadi pusat rumah kami.

Saya bersyukur. Sebab tidak semua orang masih diberi kesempatan menemukan kembali ibunya setelah ibu itu tiada. Saya menemukannya dalam wajah seorang adik: Yudith. Di sebuah tempat yang juga penuh kenangan masa muda. Nyarumkop seperti mempertemukan dua masa sekaligus: masa ketika saya masih menjadi anak mak dan masa ketika saya sudah menjadi orang tua dari ingatan sendiri.

Saya lalu teringat pernah berkata kepadanya, “Kok kamu makin tua persis mak kita sih?”

Yudith langsung sewot. Sedikit malu. Tetapi kemudian tertawa. Saya pun ikut tertawa. Barangkali ia menganggap saya sedang meledeknya. Padahal saya sungguh-sungguh. Saya sedang mengatakan sesuatu yang, saya sendiri baru sadari, pagi itu: saya menemukan mak dalam dirinya.

Sampai di sini pembaca tentu sudah dapat menebak bahwa saya dan Yudith satu kandungan. Ia adik saya. Hanya saja, kami bersaudara dua belas orang. Kalau sekarang saya ditanya Yudith anak keberapa, terus terang saya harus membilangnya dengan jari. Setelah dihitung barulah saya tahu. Tidak bisa saya sebut spontan.

Begitulah keluarga kami. Terlalu banyak anak. Terlalu panjang jarak usia. Dan terlalu banyak cerita yang masing-masing kami bawa.

Sebagai saudara sekandung, kami malah jarang bertemu. Yudith menjadi PNS di Pontianak, sedangkan saya tinggal di Jakarta. Bahkan ketika saya datang ke Kalimantan Barat untuk urusan dinas, tidak selalu sempat mampir ke rumahnya di Jeruju. Waktu rupanya mempunyai kekuatan yang aneh. Ia dapat membuat orang yang satu darah hidup berjauhan dan lama tidak bertemu.
                                                                    ***

Tetapi Nyarumkop pagi itu memperpendek semua jarak....
Di antara ratusan wajah alumni. Saya menemukan satu wajah keluarga. Dan di dalam wajah keluarga itu, saya menemukan wajah ibu.

Reuni ini akhirnya bukan hanya pertemuan dengan masa sekolah. Ia menjadi pertemuan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada kenangan tentang PKN: rumah, masa kanak-kanak, dan mak kami 12 adik beradik.

Karena itu saya menjuluki Yudith “kader mak”. Titisan mak. Bukan karena ia sebatas mirip secara wajah.

Ada sesuatu yang lebih dalam. Seolah-olah sebagian dari perempuan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah kepada anak-anaknya. Dan pagi itu, di Nyarumkop, saya kebetulan menemukannya kembali dalam diri Yudith.

Saya bersyukur. Sebab tidak semua orang masih diberi kesempatan menemukan kembali ibunya setelah ibu itu tiada. Saya menemukannya dalam wajah seorang adik: Yudith. Di sebuah tempat yang juga penuh kenangan masa muda. Nyarumkop seperti mempertemukan dua masa sekaligus: masa ketika saya masih menjadi anak mak dan masa ketika saya sudah menjadi orang tua dari ingatan sendiri.

Dan lucunya. Hampir semua orang yang melihat kami justru mengira saya adiknya. Saya biarkan saja. Tidak perlu diluruskan.

Pagi itu saya memang tidak keberatan menjadi adik. Sebab di hadapan wajah Yudith, untuk sesaat, saya kembali menjadi anak kecil. Anak mak. Salah satu dari dua belas anak yang masih dapat menemukan jalan pulang melalui wajah saudaranya.

***

Lalu saya teringat Lijun....
Dari namanya, orang mengira ia Cina. Bukan! Ayah kami, Sareb sangat kreatif dan luar biasa pintar. Lijun lahir pada tanggal lima Juni. Disingkat menjadi: Lijun.

Nah,  si "Lima Juni" ini bahkan tidak lagi dapat saya bujuk untuk datang. Seorang kawan saat reuni menyebutnya dengan kalimat yang sederhana, tetapi membuat dada seperti diremas: “Lijun sudah berada di Yerusalem abadi.”

Saya tidak tahu mengapa kalimat itu begitu lama tinggal di kepala. Mungkin karena Nyarumkop pagi itu penuh orang, tetapi ada juga yang tidak kelihatan. 

Ada yang hadir dalam langkah dan suara. Ada yang hadir dalam cerita. Ada pula yang hanya hadir dalam doa. Dan di antara kabut, asap, tawa, serta pelukan teman-teman lama, saya tiba-tiba merasa bahwa reuni sesungguhnya adalah pertemuan kita dengan waktu. Waktu yang tidak pernah mau mengembalikan siapa pun dalam keadaan yang sama.

Dari empat bersaudara alumni PKN. Pagi itu hanya sebagian yang dapat berkumpul kembali di Nyarumkop.

Saya dan Yudith berdiri di sana. Maliki tinggal bersama tiga ring di dalam dadanya. Di mana jantungnya sejak kecil ternyata sudah sedikit bandel. Lijun sudah tinggal di Yerusalem yang abadi.

Namun mungkin begitulah cara keluarga bertahan terhadap kehilangan. Kita tidak benar-benar meninggalkan orang yang kita cintai. 

Kita membawa mereka dalam percakapan. Dalam ingatan. Dalam nama yang masih disebut. Bahkan dalam air mata yang jatuh diam-diam ketika tidak ada orang melihat.

Saya datang ke Nyarumkop untuk menghadiri reuni 110 tahun PKN. Tetapi ketika pulang, saya membawa sesuatu yang jauh lebih berat: wajah tiga saudara. 

Satu berdiri di samping saya. Satu menunggu di rumah, di Jangkang. Satu lagi sudah menunggu di alam baka.

Dan untuk pertama kalinya saya mengerti. Mungkin inilah arti pulang. Bukan kembali ke tempat kita dahulu datang, melainkan menyadari siapa saja yang masih berjalan bersama kita? Siapa yang harus kita jaga dari jauh?

Dan siapa pula yang kelak hanya dapat kita temui dalam doa?

Masri Sareb Putra

Ketika pagi membukakan pintu rezekinya pada 12/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.