Sarawak dan Indonesia Sepakat Mengangkat Tradisi Lisan ke Persada Ilmu : 5 Tokoh Literasi Dayak di Panggung Sarawak
| Lima tokoh literasi Dayak membahas Dayak di Panggung internasional Miri, Sarawak. Dayak menulis dari dalam. Ist. |
MIRI, 23 September 2026 – Wacana Bahasa dan Sastera Dayak: Dari Tradisi Lisan ke Persada Ilmu berlangsung pada Rabu (23/9/2026) di Miri Indoor Stadium, Miri, Sarawak. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian tahunan Pesta Buku Miri dan menghadirkan lima tokoh literasi Dayak dari Indonesia sebagai panelis, yakni Masri Sareb Putra, M.A., Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., Alexander Mering, S.H., Albertus Imas, M.A., dan Martina Lie.
Wacana tersebut mempertemukan penulis, peneliti, dan penggiat bahasa untuk berbagi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Dayak. Pembahasan juga diarahkan pada upaya menjaga bahasa dan sastra Dayak agar tetap berkembang di tengah perubahan zaman.
Kegiatan berlangsung sekitar dua jam dan diikuti sesi tanya jawab dengan peserta sebanyak dua kali. Pertanyaan dan tanggapan dari peserta membuat pembahasan berlangsung aktif hingga kegiatan berakhir.
Pembahasan mencakup riset dan publikasi, diplomasi buku dan hasil penelitian, penggunaan kecerdasan buatan (AI), hubungan bahasa dengan ruang hidup Dayak, serta pengalaman penulis muda dalam menjaga adat dan budaya.
Lima Tokoh, Lima Perspektif
Masri Sareb Putra, M.A. membahas riset dan publikasi serta pentingnya orang Dayak menulis tentang dirinya sendiri. Ia menekankan gagasan “write from within”, yaitu menulis dari dalam komunitas berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang masyarakat Dayak.
Dngan pendekatan itu, masyarakat Dayak tidak hanya menjadi objek tulisan. Mereka juga menjadi penulis, peneliti, dan pencatat sejarah, bahasa, budaya, serta kehidupan mereka sendiri.
Ir. Petrus Gunarso, Ph.D. membahas diplomasi buku dan hasil penelitian. Buku dan hasil penelitian dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pengetahuan tentang Dayak kepada masyarakat yang lebih luas. Pengetahuan yang sudah diteliti perlu diterbitkan agar dapat dibaca dan dimanfaatkan lebih banyak orang.
Alexander Mering, S.H. mengangkat tema do and don't di era AI. Ia membahas hal yang perlu dilakukan dan dihindari ketika menggunakan kecerdasan buatan dalam kegiatan menulis dan menghasilkan karya. Penggunaan AI perlu disertai tanggung jawab, ketelitian, dan sikap kritis.
Albertus Imas, M.A.membahas hubungan antara bahasa dan ruang hidup Dayak. Bahasa berkaitan erat dengan tempat tinggal, alam, hutan, sungai, dan kehidupan masyarakat. Perubahan ruang hidup juga dapat memengaruhi bahasa serta pengetahuan yang diwariskan melalui bahasa.
Sementara itu, Martina Lie memaparkan pengalamannya sebagai penulis muda Dayak. Ia berbagi pengalaman tentang bagaimana generasi muda dapat ikut menjaga adat dan budaya Dayak melalui kegiatan menulis, berkarya, dan terlibat dalam kehidupan masyarakat.
Dari Tradisi Lisan ke Era Digital
Ketua Jabatan Kajian Iban, Dayak Research Center Kalimantan, Indonesia, Dr. Patricia Ganing, mengatakan keberagaman latar belakang panelis membuat pembahasan menjadi lebih luas.
Menurutnya, bahasa dan sastra Dayak tidak hanya berkaitan dengan karya tradisional. Penelitian, penulisan, pelestarian alam, generasi muda, dan teknologi digital juga perlu diperhatikan.
Tradisi lisan yang dahulu disampaikan dari satu orang kepada orang lain kini dapat didokumentasikan dalam buku dan media digital. Dengan cara ini, pengetahuan tentang bahasa dan budaya Dayak dapat lebih mudah dipelajari generasi muda.
Sarawak dan Indonesia Saling Belajar
Kegiatan tersebut diikuti penggiat bahasa dan sastra dari Sarawak dan Indonesia. Peserta dari negara lain, termasuk India, juga ikut ambil bagian.
Pertemuan lintas wilayah ini membuka kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Para penulis dan peneliti juga dapat membangun jaringan kerja sama dalam bidang bahasa, sastra, penelitian, dan literasi.
Kerja sama tersebut dapat membantu memperkenalkan karya dan pengetahuan tentang Dayak kepada masyarakat yang lebih luas.
Menjaga Bahasa dan Sastra Dayak
Dr. Patricia yang menjadi moderator sesi panel pertama hari pertama Pameran Buku di Miri itu berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan pada masa mendatang. Penulis, peneliti, dan generasi muda perlu terus diberi ruang untuk berbagi gagasan dan pengalaman.
Bahasa dan sastra Dayak dapat terus berkembang apabila diteliti, didokumentasikan, ditulis, diterbitkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya. (X-5)
0 Comments