Widuri di Miri: Bunga yang Membawa Pulang dari Sakit Kulit Masa Kanak-Kanak
| Widuri di Miri:Bunga yang membuka pintu masa kanak-kanak saya. PG. |
Oleh: Petrus Gunarso
Ketika mempromosikan buku "Jalan Pulang dari Diabetes" di Miri, Sarawak, aku menemukan tanaman widuri di tepi jalan. Seketika tanaman itu mengingatkanku pada penyakit kulit yang pernah kualami ketika masih duduk di kelas 4 SD.Penyakit itu menahun dan sulit disembuhkan. Berulang kali orangtuaku membawaku ke dokter. Berbagai salep sudah digunakan dan berbagai obat telah diminum, tetapi hasilnya nihil.
Waktu itu, pengetahuan tentang obat belum seperti sekarang. Orang-orang di kampung mempunyai cara sendiri untuk mengatasi penyakit kulit, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman liar yang tumbuh di sekitar rumah, kebun, tepi sungai, sawah, atau jalan.
Daun widuri penyembuh kulit
Seorang kawanku menyarankan agar aku menggunakan daun widuri untuk kulitku yang penuh koreng. Daunnya diambil, dioseng di atas api hingga layu dan panas, kemudian digongso seperti tembakau. Setelah itu, ramuan sederhana tersebut dioleskan pada bagian kulit yang sakit.Aku mencobanya sendiri. Ternyata, kurang dari seminggu, kulit yang selama berbulan-bulan menganga karena luka mulai mengering dan akhirnya sembuh. Begitulah pengetahuan berjalan pada masa itu, dari orang tua kepada anak, dari tetangga kepada tetangga, dan dari pengalaman sehari-hari yang diwariskan tanpa buku, laboratorium, atau nama ilmiah yang rumit.
Puluhan tahun berlalu. Tanaman yang dahulu begitu akrab dengan kehidupan kampung itu perlahan menghilang dari pandangan. Aku bahkan tidak tahu apakah tanaman tersebut masih tumbuh. Nama lokalnya pun samar. Yang tersisa hanyalah ingatan tentang bentuk bunganya dan pengalaman ketika daunnya digunakan untuk mengobati kulitku.
Pagi tadi, ketika berjalan di Kota Miri, aku melihat tanaman yang bentuknya begitu akrab. Ia tumbuh tertata di sepanjang jalan, dengan bunga putih dan ungu yang banyak dihinggapi lebah mencari nektar. Aku berhenti dan memperhatikannya. Benarkah ini tanaman yang sama?
Untuk memastikannya, aku mengirimkan gambar tanaman tersebut kepada Meta AI. Jawabannya menyebut tanaman itu sebagai bunga widuri atau biduri, Calotropis gigantea, yang juga disebut Calotropis procera. Ciri-cirinya antara lain bunga berbentuk bintang dengan lima kelopak berwarna putih keunguan, bagian tengah berwarna ungu pekat, daun besar dan tebal dengan bulu halus keputihan, serta getah putih seperti susu pada batangnya.
Di Miri seperti bertemu masa lalu
Melihatnya kembali di Miri seperti bertemu seseorang yang pernah dikenal enam puluh tahun lalu, lalu tiba-tiba muncul di tengah keramaian kota.
Tanaman itu membawa ingatanku kembali kepada masa kecil, kepada kelas 4 SD, kepada penyakit kulit yang lama tidak sembuh, dan kepada daun yang dulu dioseng lalu digunakan sebagai obat. Alam seakan menyimpan sesuatu yang pernah lewat dalam kehidupan kita, lalu mengembalikannya pada saat yang tidak kita duga.
Kini tanaman itu kutemukan di kawasan dekat penginapan Marina Bayside, Miri. Tentu saja, belum dapat dipastikan apakah tanaman ini benar-benar sama dengan yang dahulu tumbuh di kampungku. Identitasnya masih perlu dipastikan secara botani. Khasiat pengobatannya pun tidak dapat disimpulkan hanya dari pengalaman masa lalu. Untuk itu diperlukan identifikasi dan penelitian yang tepat.
Namun, bagi sebuah kenangan, kepastian ilmiah bukan satu-satunya perkara. Yang kutemukan kembali di Miri pagi ini bukan hanya bunga liar, melainkan sepotong masa kanak-kanak yang selama puluhan tahun tersimpan di sudut ingatan.
Terima kasih, Miri.
Pagi ini aku menikmati begitu banyak keragaman hayati yang hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aku jadi berpikir tentang Sekadau, Malinau, Melawi, Sintang, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Palangka Raya, Banjarbaru, Tanjungselor, dan nantinya IKN.
Mungkin sebuah kota akan terasa lebih dekat dengan manusia ketika biodiversity tidak hanya menjadi istilah, tetapi hadir dan tumbuh di sepanjang jalan, dekat dengan mata, langkah, dan hati orang yang melewatinya.
Miri, 25 September 2026
0 Comments