Telaga Biru Sekabu dan Rahasia Para Bidadari Mandi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (104)
![]() |
| Rahasia para bidadari mandi di telaga Sekabu. Ilustrasi: Supardi. |
Kuntum bunga semuaSerentak mekar menyebar wangiUntuk menyambut Dewi MurniBertiti pelangi turun mandi....
Di bawah sorot rembulan yang keemasan, para bidadari suci Sekabu itu melangkah berbondong-bondong menuju pemandian laksana sang Dewi Murni yang turun dari kahyangan untuk membujuk hati yang sedang gundah gulana.
Udara malam yang sedingin es seketika berubah menjadi hangat oleh keharuman puspawarna yang menguar dari raga mereka. Namun, di sinilah hukum alam seolah tunduk pada kesucian jiwa yang luar biasa kuat!
Hanya kawanan udang dan ikan-ikan kali kecil yang berenang bebas di bawah permukaan air yang diizinkan oleh jagat raya untuk memandang keindahan lekuk tubuh mereka tanpa sekat. Sedangkan bagi pandangan orang luar, apalagi bagi mata kaum laki-laki yang mencoba mengintip dengan hati penuh gejolak nafsu duniawi, mereka hanya akan menyaksikan para bidadari itu sedang mandi dengan tetap mengenakan kain kemben yang lengkap dan utuh!
Alunan lagu keroncong dari Mus Mulyadi itu pun seolah menjadi latar musik yang paling indah. Meningkahi gerakan lincah dan anggun para srikandi Sekabu dalam menjaga kemurniannya, meninggalkan rasa kagum yang teramat dalam bagi siapa saja yang pernah menyaksikan sepotong kisah kasih bersahaja di Nyarumkop ini.
Maka sungguh lihai dan mustajab jurus bersalin kain ini! Biarpun ada mata sepasang pendekar muda yang mencoba mengintip dari balik semak belukar atau tebing curam di dekat Poliklinik, mereka tidak akan pernah bisa mendapatkan sudut bidik yang benar-benar terbuka! Kesucian para perawan Sekabu tetap terjaga rapat, terlindungi oleh kecerdikan mereka sendiri dan tirai air sungai yang mengalir abadi di bawah restu sang Gunung Poteng.
Melihat kegagalan sepasang mata pengintip yang gigit jari di balik semak belukar, alam seolah ikut tertawa bersama riak air Sungai Sekabu. Siapa gerangan pendekar muda yang mengendap-endap dengan jantung berdegup kencang itu? Tiada lain, ia adalah Si Ali Topan, seorang cantrik yang terkenal cerdik namun keras kepala dari Padepokan Wisma Widya. Bersama karibnya, ia hanya bisa menghela napas panjang, mengagumi taktik bersalin kemben yang jauh lebih lihai daripada jurus langkah seribu manapun di jagat persilatan!
Namun, kesunyian sore itu tiba-tiba pecah. Langkah kaki yang teratur namun mengandung getaran tenaga batin yang kokoh terdengar mendekat dari arah jalan setapak Poliklinik. Suara seret ujung payung hitam di atas tanah berbatu membuat darah di tubuh Si Ali Topan seketika berdesir dingin. Dari balik kabut senja yang mulai turun, muncullah sesosok wanita sepuh berkerudung putih dengan wajah yang memancarkan aura kekudusan sekaligus ketegasan yang maha berat. Beliau adalah Suster Anastasia, salah satu dari Sembilan Pendekar Penjaga Kemurnian Sekabu!
"Ehem! Anak-anak nakal dari Wisma Widya, apakah angin Gunung Poteng kurang dingin hingga kalian harus berlama-lama menyerap hawa air di balik semak?" suara Suster Anastasia mengalun tenang, namun bagi kuping para cantrik, suara itu laksana dentuman lonceng besi padepokan yang merontokkan bulu kuduk.
Tanpa menunggu teguran kedua, Si Ali Topan dan kawannya segera mengerahkan ilmu bunderan batin alias jurus langkah seribu! Mereka melompat dari balik persembunyian, kocar-kacir berlari mendaki lereng bukit menuju asrama putra, meninggalkan gelak tawa para bidadari yang masih asyik bersenda gurau di dalam air. Suster Anastasia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Beliau mahfum, darah muda para eng-hiong ini memang laksana api yang meletup-letup, namun di bawah asuhan disiplin baja Nyarumkop, riak-riak kecil itu kelak akan menempa mereka menjadi manusia-manusia yang tangguh dan berbudi luhur.
Ketika malam benar-benar telah melabuhkan tirainya yang hitam pekat, dan angin pegunungan mulai bersuling ngilu di sela dinding kayu asrama, suasana di Padepokan Wisma Widya kembali tenang. Si Ali Topan duduk termenung di sudut barak, memandangi petikan dawai sampek yang dimainkan oleh kawannya di bawah temaram lampu minyak.
Kenangan sore itu di Sungai Sekabu mendarat indah di dalam sanubarinya, bukan sebagai ingatan yang kotor, melainkan sebagai sepotong kisah kasih bersahaja di sekolah Nyarumkop yang kelak akan abadi, sejauh apa pun pedang takdir membawa mereka merantau melintasi empat penjuru angin fana.
Hati seorang pemuda yang sedang dimabuk kepayang laksana gumpalan awan di puncak Gunung Poteng, mudah tertiup angin namun menyimpan guntur asmara yang bergejolak hebat. Demikianlah keadaan Si Ali Topan setelah peristiwa memalukan di tepi Sungai Sekabu. Rasa malu karena tepergok oleh Suster Anastasia serasa membakar pipinya, membuat pendekar muda kita ini tidak enak makan dan tak nyenyak tidur.
Maka untuk menebus rasa bersalah sekaligus menawar gejolak rasa bersalah di dalam dada, Si Ali Topan memutar otak mencari sebuah siasat batin yang paling jitu. Dan siasat itu tiada lain adalah kekuatan aksara! Ketika sang fajar menyingsing memeluk bumi Nyarumkop, dan tugas melatih anak-anak SKP bermain volley di lapangan Sekabu tiba, ia melangkah dengan dada membusung, walau hatinya ketar-ketir laksana menghadapi gempuran pendekar golongan hitam.
Di tepi lapangan volley samping kapel yang dinaungi pohon flamboyan yang sedang meranggas, mata Si Ali Topan langsung tertumbuk pada sosok seorang srikandi Sekabu. Dara jelita itu berdiri anggun, tersenyum simpul dengan tatapan mata yang seolah menyindir peristiwa sore lalu. Namun, bukan Ali Topan namanya jika langsung menyerah kalah! Di sela-sela riuhnya peluit volley dan deburan bola yang dipukul, sang pemuda dengan gerakan tangkas menyelipkan selembar kertas yang telah digoresi tinta suci ke tangan sang dara.
Kertas itu memuat seuntai puisi yang lahir dari ketulusan sukma, diberi judul yang teramat harum: "Melati". Untaian baitnya mengalun indah, melukiskan keharuman sekuntum bunga melati yang menusuk langsung ke jantung hatinya, membasuh segala debu kemaluan menjadi sebuah kidung penghormatan yang teramat luhur. Sungguh mustajab mantra aksara tersebut! Sang srikandi Sekabu yang membacanya tak mampu menahan rona merah di kedua pipinya, dan dendam asmara pun seketika mencair menjadi sebuah ikatan rasa yang teramat manis.
Hanya kawanan udang dan ikan-ikan kali kecil yang berenang bebas di bawah permukaan air yang diizinkan oleh jagat raya untuk memandang keindahan lekuk tubuh para bidadari sedang mandi itu tanpa sekat.
Siapa yang menyangka bahwa puisi penawar malu itu kelak membawa Tuah gaib yang luar biasa? Di kemudian hari, dalam sebuah panggung megah kompetisi pembacaan puisi se-Persekolahan Katolik Nyarumkop, Si Ali Topan maju ke depan mimbar dengan gagah berani. Dengan diiringi petikan sahdu piringan hitam yang diputar langsung oleh Mgr. Agus sang karib batin, Ali Topan membacakan puisi "Melati" dengan getaran suara yang begitu menggelegar sekaligus menyayat kalbu, hingga seluruh hadirin terpesona dan dewan juri tanpa ragu menobatkannya sebagai pembawa puisi terbaik di seluruh jagat persekolahan Nyarumkop!
Kemenangan Si Ali Topan dalam perlombaan puisi se-Persekolahan Katolik Nyarumkop bukanlah akhir dari segalanya. Justru, raihan piala emas di bawah iringan piringan hitam sahdu dari Mgr. Agus itu menjadi semacam maklumat gaib yang menyebarkan keharuman namanya hingga menyeberangi bukit-bukit fana. Namun, dalam jagat persilatan asmara, sebuah puncak keberhasilan sering kali diikuti oleh ujian batin yang lebih berat laksana badai salju di puncak gunung!
Dara jelita sang srikandi Sekabu, murid Sekolah Pendidikan Guru (SPG) itu, yang menjadi ilham di balik bait-bait indah puisi "Melati" tersebut, kini menatap Ali Topan dengan pandangan yang berbeda. Ada binar kebanggaan yang tak mampu disembunyikan dari sepasang matanya yang lincah. Namun, hukum takdir di lingkungan asrama yang dipagari oleh kedisiplinan baja Pak Aki (Lim Kheng Siang) tidaklah mengizinkan sepasang merpati ini terbang bebas begitu saja. Setiap pertemuan adalah kemewahan, dan setiap tatapan mata adalah selarik prasasti rahasia yang harus disimpan rapat di dalam lipatan sanubari.
Maka untuk merayakan kemenangan batin itu tanpa mengundang murka para suster penjaga benteng Sekabu, sebuah rencana rekreasi besar-besaran pun disusun oleh para guru dan pembimbing asrama. Sebuah maklumat gembira menggema di seantero barak Wisma Widya: seluruh cantrik putra akan dibawa pergi bertamasya menuju hamparan pasir putih dan deburan ombak Pantai Pasir Panjang!
Dan yang membuat darah muda di tubuh Si Ali Topan bergejolak hebat laksana kawah candradimuka adalah berita bahwa rombongan bidadari Sekabu pun akan ikut serta dalam perjalanan suci ini!
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba dengan diiringi cuaca cerah tanpa mendung di langit Singkawang. Jangan bayangkan sebuah kereta kencana yang mewah atau tandu sutra yang empuk, para pembaca yang jenaka!
Kereta takdir yang menjemput mereka hanyalah sebuah truk terbuka dengan bak kayu yang kokoh. Namun bagi Si Ali Topan, bak truk terbuka itu serasa menjelma menjadi kereta kencana dewa yang paling megah di kolong langit!
Di dalam bak truk yang terguncang-guncang menyusuri jalanan berdebu itulah. Anak-anak Wisma Widya dan para siswi Sekabu duduk berbaur dengan batasan sopan santun yang ketat di bawah mata awas para guru.
Angin bertiup kencang memainkan rambut panjang sang srikandi yang duduk tak jauh di hadapannya. Setiap kali truk berguncang melewati lubang jalanan, tawa riang pecah di antara mereka, mengubur segala rasa canggung sore hari di Sungai Sekabu tempo lalu.
Di bawah lambaian pohon kelapa Pantai Pasir Panjang kelak, sepasang pendekar muda ini akan mengukir lembaran paling manis dari kisah kasih mereka, sebuah getaran asmara bersahaja yang kelak di kemudian hari, pada tahun 1986, akan mekar sepenuhnya menjadi sebaris karya sastra abadi berbentuk novel perdana berjudul Flamboyan Kembali Berbunga.

0 Comments