Mahar Loh Gender kepada Darajuanti: Jejak dan Rekam Sejarah Lambang Kerajaan Sintang (3)
| Lambang kerajaan Sintang ini tersimpan rapi di Museum Poesaka Ningrat Kesultanan Sintang. Ist. |
Serial tulisan menelusuri jejak sejarah lambang negara kita, Garuda Pancasila, mulai digulirkan. Cerita bermula di dermaga Dhuban (Tuban) ketika kapal Abang Jubair yang berlayar dari Sintang, diperdaya. Sedemikian rupa, sehingga menjadi tawanan Majapahit yang membuat Darajuanti menuntut pembebasan.
Baca Burung Garuda: Mitos ataukah Realita?
Lalu lewat Loh Gender yang memperistri Dara Juanti dari Kerajaan Sintang, ide burung garuda, setelah bersetubuh dengan burung enggang, simbol Patih Jawa dan Putri Dayak, menjadi burung garuda. Jadi, burung garuda itu perkawinan antara konsep Jawa dan Varuna-dvipa, yakni Borneo.
Mahar berupa artefak burung dan gong disimpan di Kerajaan Sintang. Ketika Sultan Hamid II mengemban tugas merancang lambang negara RI dari Bung Karno, ia meminjam lambang itu untuk dimodifikasi. Jadilah burung garuda lambang negara RI. Keberadaan burungnya sendiri tidak real, ia mitos. Inilah hasil penelusuran sejarah yang terungkap dalam novel NGAYAU.”
Narasi tersebut beredar dalam tulisan populer dan karya sastra. Namun secara metodologis harus ditegaskan: hingga saat ini sedang dikaji dokumen primer, prasasti, arsip kerajaan, maupun kajian akademik terverifikasi yang membuktikan hubungan langsung antara Kerajaan Sintang dan desain resmi Garuda Pancasila tahun 1950.
Sejarah menuntut pembedaan tegas antara memori budaya dan fakta arsip.
Serial tulisan di media ini bergerak dalam disiplin itu.
Dhuban: Pelabuhan Nyata dalam Sumber Sejarah
Pelabuhan Tuban memang tercatat dalam sejarah. Sejak masa Kahuripan dan terutama pada era Majapahit, Tuban menjadi bandar niaga penting di pesisir utara Jawa. Kitab Nagarakretagama (1365) mencatat jaringan kekuasaan Majapahit yang luas, termasuk wilayah Tanjungpura di Kalimantan.[2]
Sumber Tiongkok abad ke-14 juga menyebut pelabuhan di pesisir utara Jawa dalam jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara.[3] Fakta ini memperkuat posisi Tuban sebagai pelabuhan strategis.
Namun kisah tentang penangkapan Abang Jubair di dermaga Dhuban, tentang penjara bawah tanah dan tawanan sakti mandraguna, tidak ditemukan dalam prasasti Majapahit maupun kronik Jawa klasik yang telah diteliti para sejarawan.[4]. Bisa jadi ini bagian dari peristiwa yang memang sengaja tidak untuk dituliskan.
Toh demikian, di Sintang dan sekitarnya. Hingga kini ia hidup dalam tradisi lisan dan narasi novel, bukan dalam dokumen sejarah terverifikasi.
Baca Janggala, Pelabuhan yang Mempertemukan Darajuanti dan Loh Gender
Majapahit memang memiliki armada laut kuat dan kebijakan maritim tegas.[5] Tetapi detail dramatik yang dikisahkan belum memiliki dukungan bukti primer.
Garuda dan Enggang: Simbol dalam Lintas Budaya
Garuda adalah mitologis dalam tradisi Hindu sebagai wahana Dewa Wisnu. Simbol ini menyebar ke Asia Tenggara melalui proses Indianisasi sejak awal Masehi.[6] Representasi arkeologisnya ditemukan pada arca dan relief Jawa Timur, termasuk periode Singhasari dan Majapahit.[7]
Sementara itu, dalam kebudayaan Dayak Kalimantan, burung enggang memiliki makna simbolik penting sebagai lambang kepemimpinan dan martabat.[8] Motif enggang hadir dalam ukiran rumah panjang dan ornamen adat.
Namun klaim bahwa terjadi “persenyawaan historis” antara simbol garuda Jawa dan enggang Dayak yang kemudian menjadi dasar lambang negara Indonesia belum didukung penelitian akademik peer reviewed.
Tidak ada arsip resmi yang menunjukkan bahwa desain tahun 1950 secara eksplisit mengambil model dari lambang Kerajaan Sintang.[1]
Karena itu, narasi tersebut harus ditempatkan sebagai interpretasi budaya yang masih memerlukan pembuktian.
Sultan Hamid II dan Fakta Kenegaraan
Yang terdokumentasi dengan jelas adalah proses perancangan lambang negara pada 1950. Setelah pengakuan kedaulatan, dibentuk Panitia Lencana Negara pada 10 Januari 1950 yang diketuai Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie dari Pontianak.[9]
Beberapa rancangan diajukan, termasuk dari Mohammad Yamin. Rancangan Sultan Hamid II dipilih untuk disempurnakan melalui diskusi bersama Presiden Soekarno dan anggota kabinet.[10] Desain awal mengalami revisi, termasuk penghilangan unsur antropomorfik agar tidak menyerupai makhluk manusia-burung.
Garuda Pancasila diresmikan pada 11 Februari 1950 dan kemudian ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara.[12]
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertera pada pita diambil dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular abad ke-14, teks yang manuskripnya tersedia dan telah diteliti secara filologis.[13]
Dengan demikian, fakta sejarah yang dapat diverifikasi adalah bahwa lambang negara lahir dari proses resmi kenegaraan modern, dengan akar simbolik dalam tradisi klasik Nusantara, terutama Hindu-Buddha Jawa.
Sejarah yang Bertanggung Jawab
Novel NGAYAU dan narasi Sintang memberi warna dramatik: dermaga Dhuban yang mencekam, Dara Juanti yang menyamar, artefak burung dan gong sebagai mahar politik. Ia memperkaya imajinasi dan identitas lokal.
Namun sampai ditemukan arsip autentik yang membuktikan keterkaitan langsung dengan desain lambang negara tahun 1950, hubungan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta sejarah.
Garuda Pancasila adalah simbol negara yang lahir melalui proses administratif yang jelas, terdokumentasi, dan dapat diverifikasi. Ia bukan burung biologis, melainkan simbol mitologis yang dilembagakan oleh negara modern.
Sejarah yang jujur mungkin tidak selalu memuaskan romantisme. Tetapi ia menjaga integritas pengetahuan. Dan di situlah martabat ilmu berdiri.
Bersambung.
Catatan Kaki
[1] Di dalam penjara bawah tanah Majapahit yang lembap dan berbau tanah basah, Abang Jubair duduk bersila. Tangannya memang tak lagi terikat, namun dinding batu dan terali besi itu jauh lebih kokoh daripada simpul tali mana pun. Sorot matanya tajam, setajam elang yang terperangkap jaring pemburu.
Ia tidak mengutuk nasib. Ia tidak meratap. Seorang lelaki yang lahir dari darah bangsawan Sintang dan ditempa oleh rimba Borneo tahu, keluh kesah hanya akan menumpulkan akal. Yang harus diasah adalah kesabaran.
Namun pada malam-malam tertentu, ketika angin dari laut Jawa menyelinap melalui celah sempit jeruji, ia teringat akan sungai yang tenang di negerinya. Ia teringat akan seorang gadis yang matanya bening laksana embun di pucuk daun. Dara Juanti.
Takdir sering kali bekerja dalam sunyi.
Sementara itu, jauh di bumi Senentang, Dara Juanti berdiri di tepi sungai tempat dahulu ia mandi bersama kakak-kakaknya. Air berkilau diterpa cahaya senja. Di sanalah dulu ia memikul malu karena tidak disemburkan air oleh saudara-saudaranya dalam upacara gawai. Dari luka batin itulah lahir nazar. Dari nazar itulah kini tumbuh keberanian.
Kabar tentang tertangkapnya Abang Jubair menyambar seperti petir di musim kemarau. Dara Juanti tidak menangis. Ia hanya memejamkan mata, dan dalam diam ia berjanji: darah yang terhina harus ditebus dengan kehormatan.
Maka dimulailah perjalanan yang tak sekadar menyeberangi laut, melainkan menyeberangi batas antara perempuan dan lelaki, antara kelembutan dan siasat.
Dengan rambut dipotong pendek dan pakaian prajurit dikenakan, Dara Juanti menjelma pemuda tangguh. Suaranya dilatih agar berat. Langkahnya ditegaskan. Tak seorang pun di atas kapal berani meremehkannya. Mereka tahu, di balik penyamaran itu tersimpan kecerdasan yang tajam dan tekad yang tak tergoyahkan.
Majapahit bukan negeri kecil. Ia laksana naga raksasa yang membentangkan sayap kekuasaan dari pesisir hingga pedalaman. Dermaga Dhuban berdiri megah, kapal-kapal asing berlabuh dengan waspada. Hanya pelaut berjiwa baja yang berani merapat.
Dara Juanti memandangi pelabuhan itu dari kejauhan. Ia tidak datang sebagai pedagang biasa. Ia datang membawa siasat.
Di sanalah takdir mempertemukannya dengan Loh Gender.
Loh Gender bukan sekadar lelaki perkasa. Ia adalah perantau yang mengenal denyut nadi Majapahit. Tatapannya tajam, namun senyumnya menyimpan rahasia. Ketika pertama kali berhadapan dengan Dara Juanti yang menyamar, ia merasa ada sesuatu yang ganjil. Gerak-geriknya terlalu halus untuk seorang pemuda kasar. Namun ia tidak membuka rahasia itu.
Ada kalanya dua insan dipertemukan bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling melengkapi.
Dalam percakapan singkat yang seolah tak bermakna, Dara Juanti membaca peluang. Loh Gender membaca keberanian. Mereka seperti dua bilah keris yang ditempa dari logam berbeda, namun jika disatukan akan memancarkan daya yang tak terduga.
Sejarah bergerak bukan hanya oleh perang besar, melainkan oleh bisikan-bisikan kecil di sudut dermaga, oleh tatapan mata yang saling mengerti tanpa kata.
Loh Gender mengetahui kelemahan penjagaan penjara bawah tanah. Ia tahu kapan prajurit berganti jaga, dan siapa yang mudah dibujuk oleh emas. Dara Juanti tahu bagaimana menenun tipu daya tanpa terlihat menipu.
Rencana disusun dalam diam.
Pada malam ketika bulan separuh tertutup awan, angin laut bertiup kencang. Ombak memukul lambung kapal-kapal yang terikat di dermaga. Di saat itulah bayangan-bayangan bergerak.
Dara Juanti menyelinap, diikuti Loh Gender. Langkah mereka ringan, seperti kijang meniti dahan. Di lorong batu yang gelap, obor berkelip redup. Seorang penjaga terkulai karena minuman yang telah diberi ramuan penidur.
Ketika pintu sel Abang Jubair terbuka perlahan, lelaki itu tidak terkejut. Ia seolah telah mengetahui bahwa malam ini takdir datang menjemput.
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada jerit kegembiraan. Hanya anggukan singkat. Waktu tidak memberi ruang bagi air mata.
Namun di tengah pelarian itu, Dara Juanti merasakan sesuatu yang berbeda. Loh Gender tidak sekadar membantu karena upah atau ambisi. Ada nyala dalam dirinya, nyala yang sama seperti ketika dua simbol bertemu dalam satu lambang.
Kelak orang akan bercerita tentang burung garuda dan burung enggang, tentang persenyawaan Jawa dan Borneo. Tetapi pada malam itu, yang terjadi hanyalah tiga insan yang menantang kuasa besar dengan keberanian dan kecerdikan.
Sejarah memang bukan hanya kumpulan peristiwa. Ia adalah denyut jantung manusia yang berani memilih jalan sulit. Ia adalah keputusan yang diambil dalam gelap, ketika tak seorang pun menjamin esok hari masih ada.
Dan dari pertemuan itulah, kisah besar mulai merambat. Bukan sekadar kisah pembebasan seorang tawanan, melainkan kisah tentang bagaimana dua dunia saling menyapa.
Dara Juanti belajar bahwa kekuatan tidak selalu terletak pada pedang, melainkan pada kecerdasan membaca situasi. Loh Gender belajar bahwa keberanian seorang perempuan dapat menundukkan keangkuhan lelaki. Abang Jubair belajar bahwa takdir terkadang menjerat untuk menguji kelayakan seseorang memimpin.
Di ufuk timur, fajar mulai merekah. Kapal berbendera Sintang perlahan meninggalkan perairan Majapahit. Ombak memecah sunyi.
Namun kisah belum selesai.
Karena setiap pelarian melahirkan konsekuensi. Setiap pertemuan menyimpan janji. Dan setiap simbol yang lahir dari persenyawaan dua dunia akan menunggu waktunya untuk bangkit menjadi lambang yang lebih besar dari para tokoh yang melahirkannya.
Demikianlah sejarah bekerja. Ia menyulam manusia, tempat, dan waktu menjadi satu kain takdir yang panjang. Dan kita, yang membacanya berabad-abad kemudian, hanya dapat berdesir dalam hati: betapa dahsyatnya permainan nasib di balik setiap nama.
[2] Mpu Prapanca, Nagarakretagama (1365), terj. Slamet Muljana, Jakarta: Bhratara, 1979.
[3] O. W. Wolters, Early Indonesian Commerce, Ithaca: Cornell University Press, 1967.
[4] P. J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta: Djambatan, 1983.
[5] George Coedès, The Indianized States of Southeast Asia, Honolulu: University of Hawaii Press, 1968.
[6] John Dowson, A Classical Dictionary of Hindu Mythology, London, 1879.
[7] Claire Holt, Art in Indonesia: Continuities and Change, Ithaca: Cornell University Press, 1967.
[8] Bernard Sellato, Nomads of the Borneo Rainforest, Honolulu: University of Hawaii Press, 1994.
[9] Sekretariat Negara Republik Indonesia, Lambang Negara, Jakarta, 1995.
[10] Risalah Panitia Lencana Negara, Arsip Nasional Republik Indonesia, 1950.
[11] Dokumentasi penyempurnaan desain dalam arsip Sekretariat Negara RI, 1950.
[12] Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara.
[13] Mpu Tantular, Kakawin Sutasoma, ed. dan terj. P. J. Zoetmulder, 1982.
0 Comments