5 Masalah Besar yang Dihadapi Orang Dayak Hari Ini (2) : Ancaman Deforestasi dan Degradasi Ekosistem

 

5 Masalah Besar yang Dihadapi Orang Dayak Hari Ini
Ancaman Deforestasi dan degradasi ekosistem oleh perusahaan dan pihak luar (hegemoni), salah satu 5 masalah besar yang dihadapi orang Dayak hari ini. Ist.

Oleh Cornelis dan Masri Sareb Putra

Dayak tidak pernah, dan tidak mungkin, merusak alam dan lingkungan hidupnya. Beribu tahun lalu, terbukti Dayak menjaga alam sampai era Orde Baru datang dengan izin HPH dan izin penguasaan sumber daya alam (SDA) Kalimantan lainnya.

Kerusakan lingkungan dan deforestasi Kalimantan hari ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Kerusakan itu merupakan kelanjutan langsung dari konflik lahan yang tak kunjung selesai. 

Dayak menjaga dan melestarikan lingkungan

Ketika tanah adat diperebutkan, hutan menjadi korban pertama. Dan ketika hutan tumbang, maka seluruh sistem kehidupan ikut terguncang.

Baca 5 Masalah Besar yang Dihadapi Orang Dayak Hari Ini (1) Catatan SOS

Borneo, pulau yang dikenal sebagai salah satu paru-paru bumi, deforestasi berlangsung dalam skala yang mencemaskan. Hutan primer yang selama ratusan bahkan ribuan tahun berdiri, kini hilang dalam hitungan dekade. Sawit meluas. Hutan Tanaman Industri merangsek masuk. Tambang menganga seperti luka yang terus terbuka.

Data tahun 2024 hingga 2025 memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan. Di Kalimantan Timur, laju kehilangan hutan termasuk yang tertinggi. Ribuan hektare lenyap, digantikan oleh bentang monokultur yang miskin kehidupan. 

Di Ketapang, sorotan publik mengarah pada aktivitas perusahaan seperti PT Mayawana Persada yang dituduh melakukan pembukaan lahan dalam skala besar. Dampaknya tidak hanya pada hilangnya pepohonan, tetapi juga pada runtuhnya habitat satwa liar, termasuk orangutan yang menjadi simbol Borneo.

Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah rumah. Ia adalah sumber air. Ia adalah penyangga kehidupan. Ketika hutan hilang, maka yang hilang bukan hanya lanskap hijau, melainkan juga masa depan.

Krisis Ekologis yang mulai terasa

Kerusakan hutan segera menjalar menjadi krisis ekologis yang lebih luas. Di berbagai wilayah, masyarakat mulai merasakan dampak nyata. Sungai-sungai yang dulu jernih kini keruh. Pestisida dari perkebunan mencemari aliran air. Ikan dan udang yang dulu melimpah kini semakin sulit ditemukan.

Di wilayah Dayak Kualan, misalnya, gangguan terhadap sumber air menjadi persoalan serius. Air yang dulu bisa langsung diminum dari alam kini harus dipertanyakan kualitasnya. Di tempat lain seperti Sunge Samak, degradasi lahan gambut menyebabkan dua ekstrem sekaligus: banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Rumah-rumah terendam, tetapi pada waktu lain masyarakat justru kesulitan mendapatkan air bersih.

Kerusakan ini juga berdampak pada biodiversitas. Satwa-satwa penting seperti orangutan, harimau, dan burung enggang semakin terdesak. Burung enggang, yang bagi banyak komunitas Dayak memiliki makna sakral dalam ritual adat, kini semakin jarang terlihat. Kehilangannya bukan hanya kehilangan ekologis, tetapi juga kehilangan simbol budaya.

Lebih jauh lagi, deforestasi berkontribusi besar terhadap emisi karbon. Studi menunjukkan bahwa konversi hutan menjadi perkebunan sawit melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Ironisnya, hutan yang dulu menjadi penyerap karbon kini justru menjadi sumber emisi. Perubahan iklim pun semakin terasa: cuaca tidak menentu, musim bergeser, dan bencana semakin sering terjadi.

Dampak personal dan kultural bagi orang Dayak

Bagi masyarakat Dayak, kerusakan lingkungan bukan sekadar isu global. Ia adalah pengalaman personal yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Ketika sungai tercemar, mereka kehilangan sumber protein utama. Ikan dan udang yang dulu mudah didapat kini menjadi langka. Ketika hutan rusak, hasil hutan non-kayu seperti madu, damar, dan tanaman obat ikut menghilang.

Akibatnya, banyak masyarakat terpaksa beralih menjadi buruh dengan upah rendah di perkebunan atau perusahaan. Ketergantungan pada ekonomi luar meningkat, sementara kemandirian tradisional perlahan hilang. Kesehatan pun terdampak. Air yang tercemar memicu penyakit seperti diare. Polusi udara meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penyakit kulit juga semakin sering terjadi.

Namun, yang paling dalam adalah dampak kultural. Hutan bagi orang Dayak bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga ruang spiritual. Di dalamnya terdapat hutan-hutan suci, tempat dilaksanakannya ritual seperti Balian. Ketika hutan rusak, maka ritual menjadi sulit dilakukan. Tumbuhan dan hewan yang menjadi bagian dari upacara tidak lagi tersedia.

Dalam kepercayaan Kaharingan, atau agama asli Suku Dayak, kerusakan alam dipandang sebagai tanda terganggunya keseimbangan antara manusia dan roh leluhur. Ada keyakinan bahwa roh-roh menjadi “marah” ketika alam tidak dijaga. Di sini, kita melihat bahwa krisis ekologis juga adalah krisis spiritual. Harmoni yang selama ini menjadi dasar kehidupan perlahan runtuh.

Jalan keluar: pendekatan adat berbasis budaya

Menghadapi situasi ini, solusi tidak bisa setengah-setengah. Diperlukan pendekatan yang menyentuh akar masalah sekaligus membangun masa depan yang berkelanjutan.

Dalam jangka pendek, inisiatif berbasis komunitas menjadi kunci. Beberapa komunitas Dayak telah membentuk patroli adat untuk menjaga hutan mereka. Seperti yang dilakukan oleh Dayak Hibun di Sanggau, patroli ini tidak hanya mengawasi, tetapi juga mendokumentasikan pelanggaran. Laporan dapat disampaikan melalui sistem seperti SIPORA KLHK, atau melalui jaringan masyarakat sipil seperti WALHI, Auriga, dan Save Our Borneo. Langkah ini menunjukkan bahwa masyarakat adat bukan objek, melainkan subjek dalam menjaga lingkungan.

Dalam jangka menengah, diperlukan kebijakan yang lebih tegas tanpa pandang bulu. Hukum yang tidak tajam ke bawah, tumpul ke atas. Moratorium perluasan sawit dan HTI di hutan primer dan lahan gambut harus diperkuat. 

Praktik agroforestry multistrata yang telah lama dilakukan oleh petani Dayak perlu dihidupkan kembali. Sistem ini menggabungkan berbagai tanaman seperti padi, karet, buah-buahan, dan rotan dalam satu lanskap yang seimbang. Ini bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga mencerminkan filosofi anti-tamak yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak.

Program restorasi gambut nasional juga perlu mengintegrasikan kearifan lokal. Pembangunan embung air, rehabilitasi lahan kritis, dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) harus melibatkan komunitas adat secara aktif.

Dalam jangka panjang, perubahan struktural menjadi keharusan. Masyarakat adat harus diakui sebagai mitra utama dalam skema seperti REDD+ dan ekonomi karbon. Produk hutan non-kayu dapat diberi sertifikasi berlabel “Dayak Sustainable” untuk meningkatkan nilai pasar. Kebijakan pembangunan harus direvisi agar setiap proyek wajib mendapatkan persetujuan masyarakat adat.

Contoh nyata sudah ada. Banyak petani Dayak yang menolak ekspansi besar-besaran dan memilih menjaga hutan adat mereka. Hutan-hutan ini tetap lestari karena dikelola dengan prinsip komunitas, bukan eksploitasi. Model ini dapat menjadi inspirasi bagi konservasi berbasis masyarakat di tingkat nasional.

Jika kerusakan ini dibiarkan, maka masa depan yang suram menanti. Banjir dan longsor akan menjadi rutinitas. Kekeringan akan semakin parah. Sumber air akan hilang. Dan yang paling tragis, orang Dayak akan kehilangan bukan hanya hutan, tetapi juga identitasnya.

Namun harapan belum hilang. Dengan pendekatan yang berbasis pada kearifan adat, didukung oleh kebijakan yang adil, kerusakan ini masih bisa dibalik. Hutan dapat kembali hijau. Sungai dapat kembali jernih. Kehidupan dapat kembali lestari.

Di sanalah masa depan itu dipertaruhkan. Bukan hanya untuk orang Dayak, tetapi untuk kita semua.
(Bersambung)

0 Comments

Type above and press Enter to search.